Monday 10 December 2012

Heimweh (Homesick)

Hai kawanku yang sedang merantau ataupun yang akan merantau. Apalagi yag merantaunya sampe beda benua sama orang tua kita. Mungkin aku mau sedikit sharing sama pengalamanku yang pernah selama hampir 19 Bulan engga ketemu orang tua dan keluarga tercinta.

Kenapa tiba-tiba ngomongin masalah kangen-kangenan? Dari kemarin, tiba-tiba mama dan papa ku bbm aku. Bilangnya “Mba, ayo skype. Mama kan kangen.” Terus tadi pagi papa dengan singkat jelas dan padat bilang, “Mba Ade. Pp kangen.”

Aaaaaa... So sweeet. Jangan sangka aku ga kangen sama mereka. Aku kangen banget. Tapi masih bersyukur banget bahwa tahun ini aku sempat bertemu mereka, menghadiri dan bahkan ikut turun tangan untuk persiapan nikahan Mba Wini, kakakku satu satunya. Dibandingkan tahun lalu, yang aku bertahan hidup di jerman, dengan hati masih agak labil, untuk menahan rasa kangen sama orang tua.

Liburan summer 2011. Dimana aku gamau ngapa-ngapain. Karena si yang tersayang waktu itu liburan di Indonesia. Begitu juga teman-temanku yang lain. Banyak sekali yang pulang. Berdua sama Fia dan beberapa anak yang terjebak di Nordhausen, aku menjalankan puasa Ramadhan dan cukup senang dengan lebaran bersama keluarga besar Indonesia di Jerman, di KBRI Berlin.

Selagi liburan, aku yang sangat-sangat kangen dengan keluarga, mulai gelisah. Rasnya sedih. Aku hanya bisa berhubungan lewat skype. Hampir seminggu sekali kami ber-skype ria, bahkan lebih dari seminggu sekali. Rasa sedih kusembunyikan ketika aku skype dengan keluarga besarku di hari kedua lebaran tahun itu.

Liburan berakhir. Aku harus mulai masuk semester dua di Studienkollegku. Awal masuk saja rasanya sudah berat untukku. Aku jatuh sakit. Mungkin dikarenakan aku yang kurang menjaga makan dan juga pergantian musim ke musim gugur yang tiap hari di hampiri angin kencang. Darah rendahku kumat. Aku pun memutuskan ke dokter, karen badanku terlalu lemah untuk pergi ke sekolah. Bahkan perutku menolak seluruh makanan yang kupaksa masuk.

Diantar Vara, aku pergi ke rumah sakit. Walau besok pr menumpuk, Vara dengan baiknya mengantar. Tapi karena antrain sangat panjang, maka Vara pulang untuk mengerjakan pr. Karena sudah sangat malam untuk menyelesaikan pr yang luar biasa banyaknya itu. Aku masuk ruang periksa. Dokter menyuruhku pergi ke ruangan lain setelah memeriksaku. Dokter itu memberiku infus Vitamin sepertinya. Karena hari itu aku ga bisa masukin makanan lewat mulut, jadi aku pasrah untuk di kasih nutrisi langsung ke tubuhku.

Aku dibolehkan pulang setelah aku diinfus. Aku memang sudah merasa baikan. Walalu masih lemah, tapi setidaknya aku sudah tidak begitu pusing. Aku menelepon taksi dan janji pada dokter yang menangani aku, untuk datang besok paginya. Sampai di rumah, Fia kaget luar biasa aku pulang sendirian. Karena kabar terakhir yang dia dapat, aku lagi di Infus. Hahaha..

Besoknya aku pergi sendiri ke Rumah sakit untuk terima hasil tes darah yang semalam di lakukan. Dokter muda itu hanya tersenyum dan mengajakku mengobrol. Alhamdulillah semua oke. Katanya, aku kena penyakit Heimweh, yang artinya Homesick! Aku baru tau kalo homesick itu buka Cuma kangen-kangen, nangis-nangis gitu. Tapi ternyata beneran sakit sampe tepar.

Aku cerita kejadian ini sama temanku di Prancis. Dira. Teman SMA ku yang juga berjuang di benua Eropa. Jauh dari orang tua, membuat dirinya menjadi lelaki dewasa sekali menurutku. Dira menyuruhku untuk tidak terlalu sering Skype. Soalnya itu bisa bikin lebih kangen. Dira bilang, tolak ajak skype mama seminggu sekali itu. Mulailah dari dua minggu sekali. Lama-lama kamu bisa kok idup tanpa skype.

Kulakukan hal tersebut. Dulu tiap hari aku bbm-an sama mama. Sekarang, aku udah bisa mengatur jadwal bbm-an sama mama. Gaperlu tiap hari kok. Terus juga jadwal skype. Sekarang malah udah ga tentu mau skype kapan. Kebetulan Ninit juga udah mulai sibuk berkegiatan dan mama masih belum bisa mengoprasikan Skype sendiri.

Hasilnya, alhamdulillah. Sampai akhirnya sebelum pulang ke Indo kemarin, bb ku rusak. Seminggu sebelum pulang. Maka aku hanya kasih kabar ke mama kalo aku bakan ada di Soekarno Hatta jam sekian dari hari apa. Dan pertemuan sama mama papa sangat mengharukan banget waktu itu. Setahun setengah ga bertemu mereka. Akhirnya aku bisa puas memeluk mereka. Ga peduli apa yang dilihat orang waktu itu. Yang penting aku bisa meluapkan rasa kangenku.

Ketika pulang ke rumah kemarin, kamarku masih sama. Hanya sebagian benda yang bertambah, tapi ga ada yang berkurang. Sampai tulisan di ageda di Whiteboard ku tidak di hapus satu hurup pun. Begitu juga dengan posisi kamar. Mama bilang, “Kalo kangen, mama duduk aja di kamar kamu. Berasa kamunya ada lagi belajar di meja itu”, sambil menunjuk meja belajar. Begitu juga dengan Ninit, adikku, “Kalo aku, liatin Whiteboard mba. Aku liatin tulisannya.” Terus dia memelukku. Menangis gamau lagi ditinggalin. Tapi maaf dik, aku harus menyelesaikan apa yang ku mulai.

Intinya kawan, rasa kangen yang berlebihan bisa ngebuat orang tua kamu jadi makin khawatir. Soalnya kamu bisa sakit. Sabar dan ingat lah, bahawa kamu sudah memutuskan untuk menjalani hari-hari jauh dari orang tua. Kamu sudah menganggap dirimu dewasa, maka kamu harus bertanggung jawab sendiri. Mereka di rumah, selalu mendoakan kamu di setiap sholat mereka. Bahkan di setiap langkah mereka. Mereka ga akan lupa sama kamu.

Bersabarlah, kelak kamu akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dari perjuanganmu sekarang. Tetap semangat kawan. Ingat juga, kamu gak sendirian. Kita semua saudara setanah air. Bicaralah ketika kau butuh. Ingat juga pada Allah yang ga akan tidur, ga akan ninggalin kamu sedetikpun. Ayo kita selesaikan apa yang kita mulai. Ayo kita banggakan orang tua kita, keluarga kita, teman-teman di Indonesia dan juga diri kita sendiri. Toi Toi Toi!


1 comment :