Showing posts with label Deutschland. Show all posts
Showing posts with label Deutschland. Show all posts

Friday, 19 February 2016

Rumah

Rumah adalah bangunan untuk tempat tinggal.
Rumah punya setidaknya lima syarat.
Dia harus punya lantai atau fondasi,
dinding, atap, jendela dan pintu.


Fondasi rumah adalah sebagai penopang.
Jika suatu rumah memiliki fondasi,
rumah itu akan berdiri dengan kuat.
Lama atau sebentarnya rumah itu kokoh,
ditentukan oleh bagus tidaknya fondasi yang dibuat.

Sebuah rumah pasti punya dinding dan atap.
Sebagai pelindung isi rumah tersebut.
Dari angin, air, debu atau apapun.

Tak lengkap jika rumah tak berjendela.
Jendela berfungsi sebagai alat keluar masuknya udara.
Dengan adanya jendela,
setidaknya kita bisa sedikit mengintip keluar.

Setiap rumah juga memiliki Pintu.
Pintu dibuat sebagai jalan masuk atau keluar.
Untuk sang pemilik rumah,
atau juga untuk tamu yang datang.

Bagiku,
rumah adalah keluargaku.
Tempat dimana sifatku dibentuk disana,
tempat kenyamanan selalu terasa,
tempat aku belajar sesuatu yang baru,
dan tentunya tempat aku pulang.

Fondasi sifatku terbangun disana.
Dari aku lahir sampai sekarang aku dibentuk.
Aku sedemikian rupa dibentuk,
agar jadi pribadi yang kuat.

Tanpa keluarga,
tak bisa aku punya tempat mengadu,
tak ada yang bisa membelaku,
tak bisa aku berlindung.

Dari keluargaku aku belajar.
Belajar untuk berani melihat keluar,
ketempat yang belum pernah kita pijak.
Tempat tanpa perlindungan.

Keluarga itu tidak memaksa kita untuk tinggal.
Mereka selalu membiarkan kita pergi.
Karena mereka tau,
pada akhirnya kita akan pulang.
Keluarga yang selalu akan menerima kita.
Apapun keadaannya dan kapanpun.

Rumah adalah keluarga.
Bukan hanya tempat tinggal.
Rumahku bukan hanya di Indonesia.
Disini pun aku punya tempat pulang,
karena aku punya keluarga baru.

Jika kita punya rumah yang banyak,
bukan berarti rumah yang lain tak penting.
Karena kita selalu butuh perlindungan,
saat tidak di tempat kita dilahirkan.
»»  Read More...

Thursday, 11 February 2016

Jarak

Kalau kata Dewi Dee Lestari,
"Seindah apapun huruf terukir,
dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayang bila ada ruang?"

Aku setuju dengan itu.
Jarak yang membuat kita bisa bergerak.
Jarak secara fisik dan juga batin.
Jarak antara waktu, tempat, juga kegiatan.

Sebagai anak rantau,
aku berjarak dengan keluarga.
Dengan jarak sejauh itu,
terisilah hal baru diantaranya.


Sifat dan kebiasaan yang baru bermunculan.
Mulai dari rasa rindu.
Lalu muncul kata mandiri.
Kemudian rasa sayang semakin kuat,
karena kepercayaan dan keyakinan.

Ada jarak waktu ketika kau menunggu.
Terisilah kesabaran dan impian diantaranya.
Dan ada jarak juga di setiap aktivitas.
Hingga energi terisi kembali.

Jika tak ada jarak,
mungkin tak ada ruang yang bisa diisi.
Jika kau merasa kurang,
mungkin kau tak memberi jarak pada sesuatu.
»»  Read More...

Friday, 30 August 2013

Sommer 2013 (part 1) : Liburan, Ramadhan dan Lebaran


Assalamualaikuuuum.. 
Apa kabar kawan-kawan sekaliaaan? InsyaAllah masih dalam keadaan baik sehat walafiat yaaa.. Yang lagi sakit gak enak badan, semoga cepet sembuh. Makan yang sehat-sehat, banyak berdoa, dan tentunya sabar ya. Kalo lagi sakit, terus kita sabar, insyaAllah penyakit itu jadi penggugur dosa kita. Aamiin..
“Tidaklah orang Muslim ditimpa cobaan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan keburukannya, sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Udah lumayan lama dari poetingan terakhir aku. Padahal di postingan terakhir aku bahas tentang futur. Tentang berhenti setelah rutin. Tapi emang ada alesannya kok. Aku emang agak lagi ngurusin ini itu. Lebih sering ke menenangkan diri, terus pas ramadhan aku berkegiatan, dan setelah ramadhan, lagi banyak ketemu temen-temen. Hahahaha.. Ada aja alesan sih.. Itulah kalo orang yang salah terus gak mau disalahin, pasti banyak atau adaaaaaa aja alesan itu.

Di postingan kali ini, aku mau bahas Ramadhan aku di Berlin, Jerman, yang serunya tuh seru banget banget banget deh. Hihihi.. Setelah dua tahun lebih di Jerman, akhirnya sekarang aku nemu lingkungan yang oke banget. Aku bersyukur gak henti-henti dikenalkan dengan lingkungan seperti ini. Tahun pertama di Jerman, aku berpuasa sendiri di Nordhausen, Jerman. Walau sama temenku, Fia, tapi tak banyak yang kami lakukan. Tahun kedua, aku kedapetan rezeki untuk pulang berlibur di Indonesia. Ramadhan dilakukan sama keluarga di Indo. Lebaran juga sangat sangat sangat berkesan karena aku berkumpul sama keluarga. Dan tahun iniiiii.. Aku berkesempatan untuk melaksanakan Ramadhan di Berlin. Waktu nya pas sama waktu liburanku. Alhamdulillah.

Kenapa Berlin?
Walau jarak tiga jam dari kota ku, Halle (Saale), aku tetep kekeuh pengen melaksanakan Ramadhan di Berlin. Soalnya, di Berlin terdapat salah satu mesjid Indonesia. Bernama Mesjid Al-Falah  IWKZ e.v. (Indonesisches Weisheits- & Kulturzentrum). Setiap tahunnya, Al-Fallah mengadakan acara rutin di bulan Ramadhan. Setiap tahunnya ada satu Ustadz yang datang dari Indonesia untuk mengisi berbagai kegiatan di bulan Ramadhan. Sedangkan di Halle. Belum pernah sih aku Ramadhan di Halle juga. Kalaupun emang ada kegiatan di mesjid, mungkin gak serutin di Al-Falah. Atau kalopun rutin, bahasa yang roaming. Bisa sih, masih bahasa herman sih, tapi lebih enak yang langsung berbahasa Indonesia dong? Lebih langsung masuk ke otak, kadang malah langsung JLEB ke hati. Hihihi.. Itulah alasannya kurang lebih. Maka aku bersiap seadanya ke Berlin.

Hal pertama yang kupikirkan adalah tempat tinggal. Emang bisa asal dateng gitu aja tanpa harus mikirin tempat tinggal, ongkos dan rupa rupanya yang lain? NOOO.. Kebetulan, Alhamdulillah nya, Rizka, temen serumah aku, punya temen yang rumahnya kosong dan bisa di tempati. Intinya, masalah tempat tinggal selesai. Tinggal berangkat, ambil kunci. Tinggal deh disitu. Kalo niat kita udah baik mah, ada aja pasti kemudahan yang dikasih sama Allah.. Tapi gak cuma berniat doang yah, harus ada usahanya.

Berangkatlah aku di awal Juli 2013. saat aku tiba di Berlin, Al-Falah sudah memulai acara Ramadhannya, yaitu kajian menjelang Ramadhan. Oiya, aku juga diminta bantuan untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan Ramadhan di Mesjid Al-Falah tahun ini. Sebagai tim Redaksi Buletin Ramadhan 1434 H, yang mengeluarkan satu booklet panduan Ramadhan, dan menerbitkan satu buletin setiap minggunya. Jadi ada empat buletin dan satu booklet deh. Alhamdulillah kami bisa mengerjakan dengan lancar sampai kegiantan Ramadhan tahun ini selesai.

Sayangnya, ketika hari pertama dan kedua Ramadhan, aku yang berkodrat perempuan ini, tidak bisa melakukan puasa. Kebetulan juga badanku tak begitu fit saat itu. Jadinya aku gak pergi ke mesjid. Tapi mulai hari ketiga, aku mulai ikut berpuasa dan rutin setelah itu datang ke mesjid. Aku datang hampir setiap harinya ke mesjid sekitar pukul 16.00 waktu berlin. Pokoknya sebelum sholat ashar berjamaah. Sesampainya di mesjid, aku menunggu sebentar adzan ashar berkumandang, lalu ikut sholat berjamaah. Setelah sholat berjamaah, biasanya aku mengobrol dengan teman-teman baru di mesjid, atau mengaji sendiri. Sekitar pukul 18.30 waktu Berlin, para muslimah datang. Rata-rata memang para remaja. Kami membuat lingakaran dan mengaji bergantian sambil saling memperbaiki bacaan kami. Kami mengaji satu juz setiap hari selama sebulan.

Sekitar satu jam waktu yang diperlukan untuk tadarus. Acara langsung berlanjut ke acara KARIB (Kajian menjelang Maghrib). Kajian berseri yang disampaikan oleh ustadz Abas Mansur Tamam setiap hari selama bulan Ramadhan. Daripada ngikutin sinetron berseri, ato drama korea, mendingan ini kemana-mana deh.. Pak ustadz nya tuh nyampeinny enak banget. Langsung masuk keotak dan JLEB ke hati. Hinihi..

KARIB selesai beberapa menit sebelum adzan magrib. Itu udah include sama pertanyaan2 dan jawaban menarik dari pak ustadz nya loh.. Terus kita berbuka puasa deh, setelah lebih kurang 19 jam berpuasa ditengah udara musim panas itu. Alhamdulillahnya, ketika Ramadhan, cuaca gak begitu ekstrim sampe kita dehidrasi atau apa. Apalagi pas sepuluh hari terakhir Ramadhan, terkadang berlin diguyur hujan walau sedikit. Nyegerin deh pokoknya..

Buka puasa bersama di mesjid Al-Falah dilakukan setiap hari kecuali hari Jumat. Setiap hari, ibu-ibu indonesia yang berdomisili di Berlin masak buat buka puasa bersama secara bergantian. MasyaAllah pisan lah pokoknya, berkah untuk pelajar, dan tentunya berkah untuk para ibu ibu. Masakan Indonesia hasil tangan ibu-ibu rasanya tuh emang beda. Lebih Indonesia! Hehehe.. Kenapa aku bilang kecuali hari Jumat? Karena, kalo hari Jumat, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin mengadakan buka puasa bersama. Seru banget deh kalo buka puasa, pada ngumpul banyak orang. Dari student sampe yang udah berkeluarga ada disana. Anak-anak seumuran SD yang lahir disini dan bahasa jermannya udah super juga banyak. Bahkan bayi yang baru umur sebulan juga suka ikut hadir (sama orang tuanyalah, masa sendiri). 

Ketika adzan berkumandang, kami langsung membatalkan puasa dengan kurma dan air mineral. Lalu kami langsung melaksanakan sholat maghrib dan isya berjamaah. Iya, sholat isya-nya ditarik ke Magrib karena waktu isya yang sangat malam. Keputusan ini juga di ambil setelah ada perundingannya sama pemerintah dll. Ada surat keputusannya kok, bisa dilihat di website iwkz.de hihihi.. Mesjid Al-Falah gak seenaknya bikin keputusan kok.. Nah, setelah sholat magrib dan isya, baru deh kami makan berat. Biasanya sih makan nasi, tapi pernah juga ibu-ibu dengan berbaik hati masakin bakso dan tekwan. Alhamdulillah bangeeet.. Setelah makan berat, seluruh jamaah mesjid bergotong royong membereskan sampah yang ada dan bersiap untuk sholat tarawih. Kegiatan pun berakhir sampai sholat tarawih. Lalu aku pulang deh.. Sendirian? Engga dong, pasti ada temen pulang bareng deh, seenggaknya sampe beberapa halte. Kesananya ya sendiri. Hihihi..

Sebenernya, kegiatan mesjid itu ada dari sahur bersama. Tapi karena aku perempuan dan sendirian, aku memilih untuk tidak datang. Di hari-hari terakhir Ramadhan, sempat aku mengikuti kegiatan pagi hari. Sahur bersama, lalu sholat subuh berjamaah dan mengikuti KIBAS (Kajian Ba'da Subuh). KIBAS juga hampir mirip sama KARIB, berseri. Tiap harinya nyambung. Makin meningkatlahilmu yang kita dapat tanpa kita sadari ;) Jadi, pak ustad nya tuh udah nyiapin minimal 60 tema kajian untuk kegiatan ini. Kenapa minimal? Soalnya, selain KIBAS dan KARIB, masih ada kanian untuk pemuda, untuk pemudi, untuk bapak-bapak, untuk ibu-ibu, dan di tiga terakhir Ramadhan, ada kajian tentang pengetahuan Islam untuk semua kalangan. :""") *terharu abis nih sayah*

Seperti yang udah ku bilang, kalo hari Jumat gak ada buber di mesjid. Soalnya kita semua pindah ke KBRI. Kalo bukber di KBRI, ada takjilnya gitu. Ada kolek sama gorengan sama kue-kue gitu. Acaranya mah tetep sama. Tetep ada KARIB dong.. Tadarus juga ada. Yang muslimah muslimah itu tadarusan dulu di mesjid, terus selesai tadarus langsung berangkat ke KBRI bareng-bareng. Ada yang bareng naik bus, ada juga yang jalan kaki rame-rame. Soalnya dari mesjid ke KBRI tuh deket, palingan cuma beberapa halte bus aja. Kalo jalan rame-rame sambil ngobrol, pasti gak kerasa..

Nah, kalo hari Sabtu, ada buka puasa Akbar di mesjid. Kalo hari Sabtu, mesjidnya berasa kecil, soalnya banyak banget yang dateng. Makanan juga melimpah, ibu-ibu tuh udah bawa plastik buat bungkus deh pokoknya. Hihihihi.. Namanya juga ibu-ibu Indonesia, ya kelakuan gak beda jauh lah sama di Indo ;) seru banget. Serasa di Indonesia. Temen-temen yang gak bisa hadir di weekdays, karena kuliah atau kerja, juga pada dateng. Bay-bayi juga lebih banyak dari hari-hari biasa. Seru deh pokoknya. Oiya, kalo hari sabtu juga ada kuis Ramadhan gitu. Seru kuisnya. Pertanyaannya tuh tentang agama islam dan juga sosial. Dengerin dan nonton doang bisa bertambah ilmu, apalagi kalo ikutan berpartisipasi kan? 

Hari berganti hari, tiba-tiba aja kami ada di penghujung Ramadhan. Jamaah mesjid berkurang karena para student banyak yang pulang ke Indo untuk Lebaran sama keluarga. Aku termasuk yang tetap ada di Jerman dan masih mengikuti kegiatan mesjid sampai akhir. Hari itu hari terakhir aku buka puasa bersama di Ramadhan tahun ini. Saat adzan magrib berkumandang, hatiku mulai tak karuan. Aku pasti rindu suasana sebulan terakhir ini. Setelah kamu sholat Maghrib berjamaah, sang imam memimpin takbiran. Pertama kali aku mendengar suar takbiran, hatiku langsung meleleh dan pipiki langsung basah. Aku masih ingin ada di bulan Ramadhan. Aku akan merindukan suasana Ramadhan di mesjid Al-Falah. Semi pesantren yang tidak mengikat. Menambah keimanan dan juga wawasan. Bonusnya, makinlah aku bertambah teman yang soleh-solehah. Terimakasih semua..Terimakasih ya Allah.. Sampaikanlah umurku pada Ramadhan selanjutnya, jika Engkau mengizinkan. Aamiin..

Setelah suasana haru, kami melanjutkan kegiatan seperti biasa. Makan bersama. Karena sudah tak ada lagi sholat tarawih, maka kami melakukan bersih-bersih mesjid. Sebagian dari kami langsunh menuju KBRI untuk melaksanakan malam takbiran bersama di sana.

Keesokan harinya, hari Iedul Fitri pun datang. Kami semua sholat Ied berjamaah di KBRI. Banyak sekali warga Indonesia yang datang, tak hanya dari Berlin. Ruangan KBRI pun tak cukup menampung semua warga yang datang. Bahkan ada yang hanya berdiri gak kebagian tempat sholat. Selesai sholat, kita semua seisi KBRI maaf maafan deh.. Ketemu temen lama, minta maaf sana sini, ada juga yang langsung antri ambil makanan. Hihihi.. Sayangnya gak ada opor hari itu. Adanya nasi goreng. Alhamdulillah..

Opor nya disediakan banyak sekali pas tanggal 10 agustus di wisma dubes. Hari itu adalah hari perayaannya idul fitri dan juga HUT RI. Meria deh acaranya, malah ada doorprize tiket pulang pergi berlin-jakarta-berlin. Siapa yang gak mau kan!?! Semua kalangan datang. Reuni dadakan juga terjadilah. Seneng banget sih, bisa ketemu sama banyak kenalan. Bisa tau kabar terbaru mereka. Tapi gak sampai selesai acara itu, aku memutuskan untuk lanjut jalan-jalan sama temen sma ku, temen nordi, pokoknya temen seperjuangan. 

Itulah kurang lebih gimana Ramadhan, Lebaran dan setengah liburan aku. Setengahnya lagi menyusul. Karena masih ada satu bulan lagi sampe aku masuk kuliah lagi. Jadi anak Ernährungwissenschaft di Martin-Luther-Universität Halle-Wittenberg. Soon to be Ahli Gizi sama penulis terkenal. Aamiin.. Doain ya mba, mas, pak, bu dan adik adik sekalian.. 

Oiya, sebelum lupa lagi, Minal aidzin wal faidzin yaaa.. Maapin dosa sama perbuatan niwi yang disengaja maupun gak sengaja. Keep your dreams, and make it real. Halah, sok sokan bahasa inggeris nih si niwik. Semangat kawan, kita punya rencana, tapi Allah sudah punya rencana besar untuk kita.

Niwiarti ;)
»»  Read More...

Tuesday, 28 May 2013

Cerita Mei 2013

Assalamualaikum semuaaa...

Bagaimana kabar kalian semua? Semoga baik-baik saja dan dalam keadaan sehat ya..
Setelah kemarin curcol di blog dengan edisi kangen, kali ini aku mau cerita tentang kegiatan di bulan Mei 2013 ini. Ada tiga kegiatan besar di bulan Mei ini loh! Pertama, aku mau ceritain SaSoBerlin 2013. Terus kedua, ada acara Grillen PPI Halle. Yang ketiga, baru aja kemarin, Pengajian Bulanan di mesjid Indonesia di Berlin, mesjid Al-Fallah tercinta.

Langsung saja lah yaaa..
Weekend pertama di bulan Mei ini, tepatnya tanggal 5 Mei 2013, IWKZ (Indonesisches Weisheits-und Kulturzentrum atau Pusat Kearifan dan Kebudayaan Indonesia) e.V. mengadakan acara tahunannya di Berlin. Acara yang udah beken dikalangan warga Indonesia di Jerman. SaSo! Sate Somay! Yap, disana kita bisa ketemu sama sate dan juga somay. Hehehe. Acara SaSo itu adalah acara Bazaar makanan Indonesia. Jarang-jarang loh bisa nemuin acara di Jerman, yang menyediakan makanan Khas Indonesia sekaligus sebagai ajang silaturahim dan beramal!

Setelah udah dua tahun di Jerman (bahkan lebih), akhirnya aku menghadiri acara beken satu ini. Bukan sembarang dateng aja, aku dan kawan-kawan Halle dikasih kepercayaan untuk mendirikan stand makanan sendiri. Dengan bermodal bismillah, tenaga, dan senyum alhamdulillah kami berempat bisa menyediakan ayam penyet dan pecel lele yang agak susah ditemuin di Jerman. 

Kemana emang tahun-tahun sebelumnya niw? Dulu aku di Nordhausen, jauh dari Berlin, dan juga gak punya banyak temen. Sekarang alhamdulillah, masuk mesjid Al-Fallah beberapa kali, temen langsung bertambah, ilmu apalagi, hati juga jauh lebih tenang karena ngerasa punya "rumah" di Jerman.

Jadi, tahun ini menjadi tahun pertama aku mengikuti SaSo merangkap membantu kegiatan ini berjalan lancar. SaSo tahun ini diadakan di Lapangan parkir KBRI di Berlin. Ada delapan stand makanan yang berdiri. Jajanan khas Indonesia, Ketoprak, Ayam Penyet dan Pecel Lele (stand kami), Bakso, Nasi Kapau, Pempek Palembang, Somay dan tentunya Sate. Semua makanannya insyaAllah HALAL. Harganya juga terjangkau buat pelajar-pelajar di Jerman kok. Yaaa, pake nabung lah sedikit. Tapi, kapan lagi bisa makan kenyang, ketemu temen-temen dari segala pelosok Jerman (yang mau hadir), sekaligus sambil beramal? Beramal? Iya, karena semua keuntungan dari penjualan makanan yang kusebut sebelumnya itu, SELURUHNYA untuk mesjid. Seru banget kan ada acara kayak gini?

Kami beserta Ayam Penyet dan Pecel Lele
Aku juga banyak bertemu teman-teman seperjuanganku. Ketemu Aulia dan suaminya mas Wira, ketemu Vara yang dulu satu Studienkolleg, ketemu Abdal dan adiknya Puti si Hafidz yang baru dateng di Jerman, ketemu Vina, ketemu anak-anak Stufen, ketemu sama Dhira si calon penulis terkenal juga, ketemu ody, yahya sama dzaif juga, ketemu si ini, si itu, mba ini, mba itu, banyaaaaaaaaaakkkkkk.. Temen baru juga jadi banyak. Subhanallah banget deh acara satu ini. :")

Cape? Iya, emang cape. Karena aku harus berangkat dari Halle hari Sabtu, siap-siapin perlengkapan stand, masak, acara, terus harus pulang ke Halle setelah acara selesai. Tapiiiiii, capenya gak membekas! Justru yang membekas itu silaturahimnya. Cerita dari masing-masing orang yang kutemui, pelukan sahabat-sahabat lama yang akhirnya bertemu kembali, dan senyum-senyum senang setiap individu disana. Tuhkan, belum apa-apa, aku udah kangen aja sama teman-teman yang kemarin akhirnya berhasil bertemu kembali.

Itulah, acara SaSo Berlin 2013. Kesimpulannya: MENYENANGKAN! Mau liat foto-fotonya? Liat senyum semua individu yang tadi kusebutkan? Alhamdulillah beberapa bisa diabadikan dalam jepretan-jepretan kamera. Ini link nya. Selamat mellihat-llihat dan ikut tersenyum yaaaa..

Acara kedua yang gak kalah seru, adalah acara GRILLEN PPI HALLE, pada hari Minggu,  PPI Halle yang mengadakan acara ini. Tapi yang dateng gak cuma warga Halle aja kok, ada yang dateng dari Berlin, Marburg, Leipzig, dll. Juga engga cuma warga Indonesia aja. Ada juga warga Malaysia dan warga Jerman! Iya, kami memang mengundang beberapa kawan. Seru kan bisa ngumpul semuanyaa. Kita bakar-bakar sate di tepi sungai Saale yang melewati Halle. Cuacanya juga mendukung. Terang cenderung panas. Pas banget deh sama acara kita yang piknik di tepi sungai.

Terus siapa yang masak sate? Ya kita-kita jugaaa. Acara ini emang dari kita dan untuk kita. Semua berpartisipasi masak dalam acara ini. Sehari sebelumnya, kita potong-potong dan tusuk-tusuk ayam bersama. Ayam yang kita pakai juga InsyaAllah HALAL. Karena ayamnya dibeli di toko TurkI dan pada kemasannya memiliki logo HALAL. Ada juga yang membuat bumbu dan lontong. Semua tugas dibagi. Alhamdulillah, semua ikhlas tanpa pamrih. Makasih ya teman-teman semuaaa..

Dihari Minggunya, hampir semua orang datang on time. Jam sepuluh kami semua sudah siap di tempat yang dijanjikan. Berkumpul, bermain, tertawa, sharing cerita, berfoto, dkk. Games yang disiapkan panitia pun gak kalah seru. Penduduk Halle ternyata banyak sekali jika berkumpul. Alhamdulillah, makanan yang disiapkan juga cukup untuk semua. Semua kenyang, semuan senang. 

Berpose di Grillen PPI Halle
Sampai sore kami masih bertahan disana. Ada yang masih bermain, ada yang iseng nyeburin temennya sendiri ke sungai, ada yang tidur-tiduran di tiker, ada yang berjemur menikmati hangatnya matahari yang emang jarang mampir, ada yang masih ngipas-ngipas sate juga. Saking banyaknya sate yang disiapin, akhirnya beberapa dari kami ada yang membawa sate yang belum di bakar, pulang ke rumah. Alhamdulillah kan, lebih. Kalo kata mama, lebih baik berlebih dari pada kekurangan. Kalo udah begitu, berarti acaranya sukses. Iya dong, sukses. Semua senaaaaang..

Acara GRILLEN ini juga punya banyak foto-foto kenangan. Banyak banget-banget-banget malah. Bung Irham, si penjepret, gak cape-cape nya fotoin kejadian-kejadian menarik dan senyum-senyumnya warga Halle yang berbahagia. Fotonya mencapai angka seribu lebih. Penasaran gak? Mau liat fotonya? Nih, aku kasih link nya. Bag.1 dan Bag.2. Tapi kayaknya sebelumnya harus temenan dulu sama akang Irham di pesbuk. Hihihihi..

Yang ketiga itu, kemarin. Acara bulanan IWKZ. Pengajian bulanan. Dengerin pembicara Ust. Dr. Suhendra dengan tema "Menyongsong Rejeki Emas" sambil juga bersilaturahim. Sekaligus perbaikan gizi! Baksooooo~ Enak banget. Nah, dari bersilaturahim di acara ini, aku mendengarlah kabar bahwa sahabat seperjuanganku, si Auli, yang September tahun lalu baru menikah, sedang mengandung! Saat itu juga hatiku berdegup kencang. Bahagia.

Bagaimana rasanya bila mengetahui teman sebangkumu akan menjadi seorang ibu? Apalagi tahu bagaimana perjuangannya sejauh ini? Merantau di negeri orang. Lalu mengetahui cerita bagaimana ia menemukan pasangannya, menikah, dan sekarnag mengandung! Aku tau, dia akan menjadi seorang umi yang akan mengajarkan anaknya dengan baik. Dengan penuh kasih, canda, tawa, dan tanpa pamrih. InsyaAllah, ya.. Aku mendoakanmu terus, kawan.

Setelah mengkonfirmasi kabar itu pada orangnya lewat telpon, Auli menambahkan kabar yang membuat aku tak sabar. Tak sabar menemui bulan Desember. Auli bilang, dokter menjadwalkan bayinya akan lahir akhir Desember nanti! Yang artinya  umur kandungannya sekarang sudah dua Bulan! Berarti, ketika bertemu di SaSo kemarin, Auli sudah mengandung :") Aku juga berharap doa dari kawan-kawan semua yang membaca tulisan ini, agar mendoakan Auli dan kandungannya sehat. Oiya, juga titip doa ya buat kakakku juga yang akan melahirkan anaknya bulan Juli nanti, InsyaAllah. (Baca: Edisi Kangen 3: Kakak.) Semoga kalian sehat yaaaa..

Bulan Desember ini akan menjadi salah satu bulan bersajarang yang kunanti. Selain menunggu kelahiran anaknya Auli dan mas Wira, juga ada pernikahan sahabatku. Rianda Isvara di bulan September nanti. Mereka berdua adalah sahabat seperjuangan di Nordhausen. Bercanda, menangis, begadang, masak-masak, pengajian, sudah kami lakukan bersama. Aku tau bagaimana sifat mereka, walau sekarang tak sering lagi kami bertemu. Tapi ku yakin, sifat mereka masih sama. Lalu sebentar lagi, Desember tahun ini. Mereka akan menjabat sebagai wanita penting. Auli akan menjabat sebagai Umi, yang akan menjadi panutan untuk anaknya. Sedangkan Vara akan menjadi Istri solehah yang akan menjadi kebanggan suaminya. Aku bangga sama kalian berdua, kawan. Kami mendoakan kalian. Semoga semua berjalan lancar sesuai rencana dan agar kalian bahagia.

Desember itu gak akan lama lagi, loh. Apalagi bulan Ramadhan. Sebentar lagi. Dijadwalkan Ramadhan itu bertepatan dengan tanggal 9 Juli bukan? Ayoooo, siapa yang hutang puasanya belum lunas? Ayo segera lunaskan. Kita sambut Ramadhan dengan ceria yoookk.. Buat teman-teman di Indonesia, manfaatkanlah lingkungan islam disana. Bersyukur di waktu siang di Indonesia tidak begitu lama. Bersyukur Masjid ada dimana-mana sehingga mudah untuk shalat berjamaah. Gunakan kesempatan itu. Karena aku, iri dengan kalian. Untuk teman-teman di Jerman yang Ramadhan ini berencana tetap di Jerman seperti diriku. Ayo kuatkan iman. Ayo kita rapatkan barisan, ramaikan mesjid. Jangan mau kalah sama yang di Indo. Ayo semangaaatt..

Sekian casciscus aku hari ini. Semoga bermanfaat dan bisa di ambil yang baik-baiknya. Aamiin..

Wassalamualaikum..

»»  Read More...

Tuesday, 2 April 2013

Verkehrsmittel in Halle


Assalamualaikum, alle zusammen..

Jadi ceritanya, kemarin temen sma aku, namanya Yoan, nanya tentang kendaraan di Jerman. Terus kemarin udah saya ketik panjang lebar menjuntai, pas lagi dikirim, internetnya ga nyambung. Terus pas di cek, tulisannya ilang. -..- mangkanya, aku tulis disini aja ya.. Kali aja temen-temen yang lain juga penasaran. :D

Di Halle sebenernya ada tiga transportasi dalam kota. S-Bahn (Schnell Bahn) yang artinya kereta cepat, Tram dan Bus. Tapi si S-Bahn ini jarang banget dipake di Halle oleh mahasiswa (aku contohnya), soalnya si S-Bahn di Halle ini menghubungkan desa A ke desa B di Kampung Halle. Jadi si S-Bahn ini ga lewat alun-alun kota (marktplatz) ceritanya. Makanya, aku cuma mau ceritain Bus sama Tram aja dulu yaa..

Bus sama Tram di Halle itu kayak teratur banget. Tram bisa ditemui di jalan-jalan besar. Bahkan cuma si Tram ini yang ngelewatin Marktplatz. Nah, kalo si Bus di Halle, biasanya jemput kita di Halte Tram terakhir, terus anterin kita ke rumah. Hahaha.. Itulah kasarnya. Kita ambil contoh aja misalnya mau jalan dari rumah ku ke Stasion (Hauptbahnhof).

Salah satu halte Tram di Halle
Rumahku itu dekat dengan Halte Bus Zscherbenerstrasse. Halte itu cuma dikunjungi satu jenis Bus di Halle. Bus 36. Itupun hanya 30 menit sekali. Nah, aku naik Bus dari situ sampai Halte An der Feuerwache. Di halte itu ada dua jenis Halte. Halte Bus dan Halte Tram. Aku transit disitu lalu jalan sedikit, ga nyampe 2 menit untuk nunggu Tram. Dari situ lumayan banyak Tram yang lewat. Ada yang langsung ke Hauptbahnhof (HBF), tapi muterin Halle dulu, ada juga yang langsung ke Hauptbahnhof. 

Kalo buru-buru tapi yang langsung ke HBF masih lama datengnya, biasanya aku naik Tram yang ke Marktplatz, terus dari Marktplatz, transit lagi dan ganti tram lain yang lebih cepet nyampe HBF nya. Begitu lah sekiranya.Terus kita juga harus ontime. Si Bus itu datang di Halte dengan waktu yang sudah ditentukan. Kelewat berapa detik aja, bisa ditinggal. Gabisa deh ngejar-ngejar terus teriak "Bang tunggu, bang!". Kecuali kalo kamu seorang sprinter, lari aja cepet-cepet ke Halte selanjutnya. Atoga, sekalian aja lari terus sampe tujuan kamu. Hohohoho... *krik*

Kalo dari rumah terus telat turun (karna rumahku di lantai delapan), aku nunggu sampai waktu bus selanjutnya datang. Artinya aku harus 30 menit menunggu. Ataaaauuu.. Aku lari ke Halte tram yang jaraknya bisa ditempuh dengan lari (atau jalan) 8-15 menit. Soalnya kalo Tram datengnya 10 menit sekali dan jenisnya banyak yang lewat halte itu. Pokoknya kalau udah telat, aku harus milih antara mau telat, atau mau cape. Begitulah..

Nah, sekarang kita menuju ke bayar membayar tiket. Untuk si pelajar, ada semesterticket namanya. Tiketnya beli sekali aja, terus bisa di pake untuk satu semester (6 bulan), dan naik apa aja di Halle. Mau tiap hari naik Bus, Tram atau bolak-balik disitu atau mau ngegalau naik Tram atau Bus dari ujung ke ujung juga bisa. Egal. Terserah. Bebas. Asal bayar dulu di awal semester kurang lebih 75 euro sambil nunjukkin kartu mahasiswa. Kayaknya itu juga berlaku sama nenek-nenek dan kakek-kakek juga deh, soalnya mereka punya kartunya beda gitu sama yang lain. Mungkin lebi murah mereun yah?

Kalo gak ada kartu pelajar, bisa kok beli tiket. Belinya di mesin. Banyak mau pilihannya, terserah mau beli yang mana. Ada einzelkarte (tiket yang bisa di pake kurang lebih 1,5 jam dari waktu penandaan), ada juga tageskarte (bisa dipake seharian, 24 jam atau berlaku sampe jam 3 pagi.Yang ini sesuai aturan kota masing-masing. Kalo di Halle dipake 24 jam), ada wochenkarte (mingguan, 7 hari), ada lagi monatskarte (Bulanan, 30 hari) dan ada pula Jahreskarte (tahunan). Sok mangga, silakan dipilih yang mana yang mau di beli. 

Sistemnya pake sistem kejujuran. Kan gak ketauan tuh siapa yang punya tiket, siapa yang gak punya tiket. Mangkanya kudu musti sadar sendiri. Masa kamu enak-enak pake transportasi tapi gak bayar?Jalan kaki aja sono! Tapi kalo di Halle ini suka ketat. Sering banget ada pemeriksaan tiket. Orang yang meriksanya gak pake seragam kerja. Mereka menyamar, ada yang ibu-ibu banget dandannya, ada bapak gaul, ada pula mas-mas yang terlihat abis jajan kebab. Nah, kalo kedapetan kamu gak punya tiket, kamu harus bayar denda 40 euro. Mendingan beli monatskarte deh dari pada disuruh denda. Beneran deh. Lagian, masa 
kita menggunakan apa yang bukan jadi hak kita sih?

Itu cerita transportasi umum di Halle. Cukup jelas gak sih? Gimana Yoan? Jelas gak sih, yo?

Sekarang cerita transportasi yang di kota besar (seperti Berlin, Hamburg, Frankfurt, dll) sekilas ya.. 
Sama aja sih sebenernya, ada Bus sama Tram juga. Tapi ada pula S-Bahn (Schnell Bahn = kereta cepat) dan U-Bahn (Unter Bahn = Kereta bawah). Sistemnya juga sama. Cuma di Halte tertentu yang ketemu semua jenis-jenis kendaraan ini. Waktu nya juga udah diatur sedemikian rupa. Bedanya, kalo di kota besar, bus nya gak perlu nunggu lama. Armadanya banyak soalnya. Terus juga ada kereta bawah tanah dan kereta cepat yang jenisnya juga banyak. Halte U-Bahn nya seru, kayak di luar negri gitu, ada di bawah tanah. Hohohoho..

Oiya, untuk masalah jadwal kendaraannya juga beda antara weekdays dan weekend dan tanggal merah. Kalo mau aman, mending cek dulu di internet. Ada websitenya sendiri. Nih linknya: havag.de (buat yang di Halle). Coba masukin von: Zscherbenerstrasse nach: Hauptbahnhof. Persis gak kayak yang aku ceritain diatas? 
Jadwal Bus yang tertempel rapi di Halte.
Begitulah sekiranya kendaraan dalam kota di Jerman, tapatnya di Halle (Saale). Semoga bisa membantu yaaa.. Kalo Yoan, awalnya kan bandingin Jakarta sama Jerman. Kalo menurut aku mah, adain halte bus dulu. Dan DITERAPKAN. Bukan ada Halte, tapi turun mah tetep di tengah jalan. Gak ada tuh bilang, "Kiri, bang!". Kalo mau mulai dari sekarang, terapkan aja dulu dari diri sendiri. Bilang Kiri nya di Halte terdekat tujuan kamu. Mager? Panas? Cape? Gak akan rubah kalo pribadi sendiri kita aja gak mau merubah.. *sok bijak*

Elu enak, Niw! Engga di Jakarta, engga panas. Dooooooch.. Ane juga dulu, pas les tuh di jalan Pramuka, udah mraktekin buat selalu naik dan turun di Halte. Bisa kok. Panas? Ho-oh emang. Panas. Tapi seenggaknya jadi ngurangi kemacetan sepersekian detik karena bus nya minggir dulu ke Halte kan? Coba deh, seenggaknya temen-temen yang baca ini dulu yang turun di Halte. Udah sedetik kali berapa tuh? Kali aja lama-lama orang pada malu buat bilang "Kiri!" di tengah jalan.

Harapan buat pemerentah mah, adain Halte yang cukup kali yaaaa.. Itu ja dulu. Sama ga usah ada angkot. Atoga angkotnya di gaji sama negara, biar gak usah pada ngejar setoran. Biar tertib, aman, tentram nyaman. Semoga ya suatu hari nanti anak cucu kita di Jakarta bisa nyaman hidupnya. Biar anak kita gak tua di jalan kayak ambu sama abahnya. ;)

Jika masih belum jelas, di komen aja mangga.. Makasih kawan..

Semua kesalahan datang dariku, kebenaran selalu datang dari yang Maha Benar, Allah swt.
»»  Read More...

Monday, 1 April 2013

28 Maret 2013

Assalamualaikum..
Ini termasuk postingan telat nih.. Aku mau cerita tanggal 28 Maret kemarin.
Kenapa tanggal 28 Maret? Karena, 21 tahu yang lalu, di tanggal 28 Maret itu, ada bocah perempuan yang baru melihat dunia. Melihat kota Tasikmalaya. Kini, perempuan itu sudah beranjak dewasa, dan bisa melihat langit di empat musim. Langit Eropa. Langit di Jerman.

Aku. Niwiarti. Asal Tasikmalaya. Hari Kamis, 28 Maret 2013, mengulang hari kelahirannya yang ke 21. Syukur alhamdulillah, kini aku berada di lingkungan yang sangat baik. Walau jauh dari keluarga, aku kini mempunyai keluarga baru disini. Di Halle. Mereka mereka yang kusebutkan namanya di postingan sebelumnya. Hettstedterstrasse 62.

Malam itu, malam pergantian hari rabu dan kamis. Kami di rumah mengerjakan aktivitas kami seperti biasa. Hari itu, Tari menginap. Rumah terasa ramai. Aku, Chana dan Tari  tidur duluan. Rizka dan Mutiara masih sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tapi tengah malam, ada tangan dingin yang menyentuhku. Aku di bangunkan oleh Mutiara. "Kak, kaaak.. Bangun dulu, kak.." 

Setelah bangun, ternyata Chana dan Rizka juga Tari ada disana, membawa kan kue sederhana di atas piring. Empat buah biskuit, empat buah kue yang aku lupa namanya apa (bentuknya kayak kue sus), dan sebuah lilin di tengahnya. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Setelah aku meniup lilin, mereka mengucapkan selamat ulang tahun, lalu aku kembali tidur. Dalam senyum senang. Bahagia karena ada ditengah-tengah sahabat yang baik-baik.

Paginya, tanggal 28 Maret. Aku sengaja men-silent HP ku. GR? Iya, memang. Emang kenapa? Salah? Benar saja kok, banyak bbm, whatsapp dan juga sms yang masuk. Walau tak semuanya mengucapkan selamat ulang tahun sih.. Notification Facebook dan twitter pun gak kalah ramai. Tapi aku tak menghiraukan HP. Aku beraktivitas normal hari itu. Malah aku pergi mengantar Tisa siang itu. Mengantar dia mengambil paketnya yang malah masuk ke Zollamt (beacukai), yang jaraknya tak bisa di tempuh hanya dengan tram atau bus. Kami harus menyewa taksi untuk sampai kesana dengan selamat dan hangat.

Walau sudah di akhir Maret, tetap saja udara masih dingin dan aku masih harus menggunakan mantel. Aku pulang ke rumah di waktu Magrib. Rumah sepi. Lampu mati. Aku deg-degan. Aku emang geer-an orangnya. Aku tersenyum melihat ada gantungan "HAPPY BIRTHDAY NIWI" di pintu ruang tengah. Aku mulai tersentuh. Terharu dan bahagiaaaa..

Benar saja, ketika aku membuka pintu ruang tengah, mereka kompak bersuara dari arah dapur "Happy Birthdaaaay!" lalu "TEEEEEEEEETTTTTT!!!" Iya, bunyi terompet. Entah berapa terompet kecil yang mereka bunyikan. Backsound lagu selamat ulang tahunnya trio kwek-kwek juga dinyalakan dari youtube. Kini Rizka, Chana, Mutiara, Tari dan Icha yang hadir disana. Dengan membawa kue ulang tahun dan lilin yang serupa dengan lilin tadi pagi. Dan kau tau itu kue apa? BIKA AMBON! Kue kesukaanku!

Ruang tengah penuh dengan balon-balon kecil. Teman-teman semua menggunakan baju berwarna biru. Mereka juga memakai topi ulang tahun. Lucu sekali. Teman, jika kau baca ini. Aku mau bilang makasiiiiiiiiiiiih berkali kali lagi. Ake senang sekalii hari itu. Aku bahagia sekali kenal dan menjadi bagian dari kalian. Danke ya ciwi-ciwi keceee..

Lalu acara potong kue dan buka kado dilakukan setelah kami semua sholat magrib berjamaah. Kue nya enaaaaakkk.. Aku seneng banget dibuatin bika ambon. Teman-teman lain pun senang, jarang-jarang soalnya kita makan bika ambon disini. Makasi yaaaaa... Terus buka kado. Ada banyak bungkusan kado berwarna biru. Banyak juga makna dari setiap kado yang mereka berikan. 



Kado pertama yang kubuka berisi bingkai foto kecil berwarna biru. Tentu saja sudah ada fotonya. Foto saat kami syukuran rumah baru. Saat untuk pertama kalinya rumah ini penuh dengan perempuan-perempuan solehah. Dengan foto ini, aku akan mencoba untuk tetap istiqomah dan semakin memperbaiki diri dalam urusan agama. Agar semua bisa tesenyum seperti di foto itu.

Yang kedua adalah celengan besar berbentuk pensil berwarna biru. "Untuk nabung naik haji!" Seruku setelah mengetahui kalau itu celengan. Tapi ternyata, didalam celengan itu terdapat gulungan-gulungan kertas dari teman-teman yang hanya boleh kubuka jika aku selesai sholat tahajud. Yap! Itu adalah Tahajud Reminder untukku. Makasih, sahabat.:")

Ada lagi buku catatan yang sudah beberapa minggu kucari. Mutiara yang tahu ini. Setiap lagi belanja, aku dan Mute mencari buku catatan untuk mencatat beberapa point penting dari siraman agama. Mencatat beberapa tujuan hidup dan juga untuk mencatat kenikmatan yang selama ini ku dapat. Terimakasih, semuaaa..

Lalu aku juga mendapatkan mug berwarna BIRU dan bergambar LUMBA-LUMBA warna pink! Aku mau loncat kegirangan rasanya dapat hadiah ini. Alasan aku mendapat mug biru di jawab sama Chana."Abisnya Niwi gak mau ikutan kita-kita yang ****** sih. Makanya kita beliin mug." Kenapa di sensor? Cukup kami saja yang tau alasannya yaa.. hehehe.. Lalu aku tanya mereka kenapa Lumba-Lumba? Chana juga yang jawab, "Soalnya status whatsapp Niwi, lumna-lumba." Woaaaahhh.. Aku jatuh cinta sama Lumba-lumba juga memang. Pertanyaan terakhir dari ku adalah,"Kenapa lumba-lumba nya pink?" Dan Chana kembali menjawab, "Biar Niwi agak feminim." Hihihihi.. Makasih ya, Mug nyaaa.. Langsung aku pake buat minum teh ijo besoknya. :")

Lalu ada box besar yang mencurigakan. Aku membayangkan isi box itu adalah mainan. Semacam monopoli. Hhohoo.. Tapi setelah aku pegang, ternyata box itu ringan. Aku langsung terbayang pada rok. Dan benar saja, setelah kubuka, isinya rok panjang berwarna coklat. Semoga aku tetap istiqomah mengubur celana jeans aku ya, kawaaaann..:) Tilimikisi sikili ligi.. :3

Ada satu lagi dari mereka. Bunga. Bunga Tulip cantik yang langsung mereka berika ketika aku pulang. Bunga yang cantik, wangi, dan berwarna-warni. Aku akan berusaha menjadi seperti bunga itu, kawan. Cantik dilihat yang ku artikan, aku harus menjaga penampilanku. Wangi, yang kuartikan sebagai bersih. Bersih dari dosa-dosa besar maupun kecil. Berwarna, yang membuat hidup orang-orang disekitarku berwarna. Semoga kalian juga gak bosen ya sama aku. :3 Makasih lagi. Baru sekali deh kayaknya aku dapet bunga cantik pas ulang tahun begini.. Hihihihihi..

Oiya aku juga dapet kado khusus dari Chanaaa.. Berbenyuk kupon gratis. Ada kupon "Free Hug", bikinin teh ijo gratis, diberesin kamarnya sama Chana juga ada. Tunggu saja kapan aku mau nuker Kuponnya ya Chanaaaa... Lope lope buat Syarafina deh.. :*

Udah semua? Belum, kawan. Mereka memberikan aku kado terbaik juga. Mereka memberiku cinta. :3 Mereka juga yang selalu doakan yang terbaik untukku. Mereka yang mendukungku dan selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Mereka cewek-cewek super! Danke lagii.. :*

Karena jauh dan koneksi internet lagi gak konek, keluargaku hanya memberikan aku doa dan ucapan selamat lewat bbm. Mama yang kasi kado paling berkesan. Mama bikin mukaku merah di tram di depan Tisa lagi pulang ambil barang. Mama kirim aku piiiii~p lewat bbm. Entah aku mau bilang apa, mam. Aku hanya minta doa yang terbaik dari mama. Makasi, mam. :*

Malam harinya, aku membuka kado video dari seseorang di Indonesia. Terimakasih, ya.. Aku bingung mau bales apa dan mau bilang apa ke orang itu. Aku speechless. Maka ya sudah, kubilang terimaksih sajooo.. Baik-baik yah di Indonesiah! Sukses untukmu juga. Aamiin..

Juga puluhan ucapan lainnya dari teman-teman yang baru kubaca setelah tanggal 28 Maret pergi. Maaf ya, kawan. Tapi terimaksih banyak atas doa dari kalian. Semoga Niwiarti ini bisa menjadi seseorang yang kalian harapkan, aamiin..

Segitu aja ya post kali ini. Viel vielen Dank! Ich hab euch sooooo lieb! :)


»»  Read More...

Tuesday, 19 March 2013

Hettstedterstrasse 62

Assalamualaikum semuaaa..

Taraaaaaa.. Setelah sebulan saya tak bersua, kini tangan udah gatel pengen menari-nari lagi diatas keyboard. Kali ini kebetulan bukan di laptop sendiri. Tapi di Laptop temen yang lagi ngunggur di ruang tengah.

Ruang tengah? Iya, ruang tengah. Ruang keluarga. Iya, masih di Halle. Masih di Jerman. Tapi di rumah yang berbeda! Yeay! Rumah baruuuu~ Hihihihi.. Itulah yang mau aku ceritakan sekarang. Setelah bertahan lima bulan tinggal bersama mas dan mba bule dengan dapur untuk sembilan kamar, akhirnya aku pindah ke rumah baru. Dengan tiga kamar, satu ruang tengah, satu kamar mandi, satu dapur, dan ada lorong. 

Hettstetderstrasse 62 Wohnung Nummer 71. Itulah yang tertera di perjanjian kontrak. Itu nama jalan, nomor gedung dang nomor Wohnung. Wohnung itu rumah. Rumah yang aku sebut disini bukan rumah yang kalian bayangkan kali yah? Kecuali kalau kalian membayangkan rumah di appartemen. Tapi juga bukan appartemen yang gaul abis gitu sih. Haduh, begimana yah. Aku sertakan saja lah yah fotonya. Hehehe..

Nah, inilah penampakan rumah beserta orang yang nyewainnya.

Sombong? Engga. Hanya berbagi kesenangan saja. Alhamdulillah niat pindah rumah juga bagus, jadi dapet rumahnya gampang. Perempuan-perempuan kece yang tinggal di rumah ini adalah Rizka, Chana, Mutiara dan saya. Walau ada tiga kamar, tapi kami tinggal berempat. Aku dan Rizka menempati kamar yang agak besar berdua. Chana dan Mutiara menempati masing-masing satu kamar. Tapi sudah setengah bulan lebih ini, kami lebih senang berkumpul di ruang tengah bersama.

Rumah ini alhamdulillahnya udah diisi sama perabot yang oke-oke. Bahkan ada panci, piring, sendok, gelas, dll yang masih terlihat baru. TV pun ada. Sofa nyaman. Seprei juga sudah dipasang. Bahkan ada banyak lukisan dan hiasan-hiasan bunga yang mempermanis Wohnung ini. Alhamdulillah nya lagi, yang ngisi rumah ini juga solehah-solehah. Aamiin..

Walau lumayan jauh dari tengah kota, yang kami sebut Marktplatz (yang mungkin bahasa indonya adalah alun-alun), kami merasa senang bahagia sampai sekarang. Apalagi saya pribadi. Gimana gak bahagia kalo tiap hari bisa sholat berjamaah dan masak-masak bareng? Super pisan lah pokoknya.

Banyak orang beranggapan kuliah di Jerman itu bahaya pergaulannya lah, terlalu bebas lah, ini lah itu lah. Tapi jangan salah. Gak semua orang begitu. Memang ada yang datang kesini lalu bebas dan mengikuti budaya Jerman. Tapi banyak juga kok yang masih cari kebaikan. Buktinya banyak. Malah aku sendiri merasa diuntungkan disini.

Aku merasa di untungkan karena aku kecemplung di Halle dan mengenal teman-teman yang solehah. Luar biasa. Mereka menjaga sholat lima waktu dan sunnah nya, mereka berpuasa sunnah, menjaga makanan yang dimakan, juga saling mengingatkan dalam kebaikan. Subhanallah. Semoga aku juga bisa jadi solehah dan terus istiqomah yaa.. Aamiin..

Fanatik? Apa sih devinisi fanatik? Kalo kata mbah gugel dan mba wiki :

Fanatisme adalah sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politikagamakebudayaan atau apapun saja dengan cara berlebihan (membabi buta) sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius.

Harus digaris bawahi, ...sehingga berakibat kurang baik,....
Itulah fanatik. Tapi kalo kita mengikuti Al-Quran dan Hadis, apa itu fanatik? Malah justru, itulah yang harus kita kerjakan, bukan? Mangkanya, saya alhamdulillah banget kecemplung di Halle yang notabene orang-orang muslimnya masih pegangan kuat sama Al-Quran dan Hadis. Eh, gak cuma di Halle aja kok. Banyak juga kota lain yang anak-anak Indonesianya masih pegangan kuat sama agama nya dan gak neko-neko ikut budaya Jerman. Tenang saja bapa-bapa, ibu-ibu sekalian. :)

Wuiiiihhh.. Jadi ngobrolin agama yah.. Ya namanya juga sharing ya, sobat. Gak apa-apa, kaaaannn? Soalnya aku teh pernah denger ada yang ngomong: "Halle itu pesantren yah? Kok cewek-ceweknya kebanyakan berkerudung gitu yah?" Aku denger nya malah Alhamdulillah. Kali aja ada yang bikin pesantren beneran di Halle, suatu hari nanti. Aamiin..

Hahaha.. Sudah dulu lah yaa.. Maafkan kata-kata saya bila menyinggung perasaan saudara-saudari sekalian. Sampai jumpa di Postingan selanjutnya.

Kalo mau mah mampir mereun ke Hettstetderstrasse 62, gak jauh dari Studkol Halle kok. :3

Ditunggu komentar nya yaaaa..
Assalamualaikum..

»»  Read More...

Tuesday, 15 January 2013

salamceria: Khawatir


Ringtone Ponsel Kiara berbunyi. Padahal Kiara sedang asik baca artikel di Laptopnya. Sambil dengerin lagu yang dia pasang kencang-kencang. Kiara memang kadang sebal dengan kesendirian. Sepi sekali. Memang bagus sih buat merenung, tapi kalo tiba-tiba jadi galau gimana? Makanya dia kadang benci sendiri, kadang seneng banget kalo sendiri.

Ternyata Fina yang meneleponnya. Sahabatnya tercinta yang memang harus berpisah kota dengan Kiara saat di Jerman. Walau pisah kota, mereka tetap rajin komunikasi. Entah itu lewat telepon, bbm, skype atau malah saling mengunjungi.

“Assalamualakum, Fiiin.. Ada apa?” Sapa Kiara sambil mematikan lagu yang kencang itu.

“Waalaikumsalam. Kiiii.. Gue pusing banget iniii..” Suara Fina terdengar memelas.

“Kenapaaaa? Cerita monggooo..”

“Besok gue Kontrolle, Kiii. Huaaaa..” Terdengar nada kecemasan diseberang sana.

“Kontrolle apa, Fin?” Kiara masih menanggapi santai sambil sedikit-sedikit melirik artikel yang dia baca sebelumnya.

“Deutsch, Kiiii.. Aduuuh.. Gimana inii..”

“Belajar lah, Fin!” Kini Kiara mulai meninggalkan Laptopnya dan fokus pada Fina.

“Ini gue mau belajar malah takut-takut terus, Ki.”

“Sholat dulu makanya!” Masih menjawab santai. Sahabatnya yang satu ini memang panikan sejak mereka menghadapi ulangan pertamakali di SMA.

“Udaaaah.. Aduh, gue mau jungkir balik aja ini.” Fina semakin cemas.

“Emang lo gak gitu nguasain materinya, Fin?”

“Bukan gitu, Ki. Kontrolle kemarin nilai gue gak bagus-bagus amat. Gue takut nilai sekarang malah jelek lagi.”

“Lah, kemarin kenapa nilainya jelek?”

“Gue panik gitu semaleman. Sampe gak bisa tidur, terus pas ujian malah nge-blank. Gue takut besok gue malah begitu lagi.”

“Aduh, Fiin.” Kiara menggelengkan kepalanya.

“Ki, lo sini apa temenin gue.”

“Dikira jarak kota kita deket apa, Fin?” Kiara sewot.

“Aduuhh.. Gue takut banget, Kiii..”

“Shh.. Tarik napas, Fin!” Fina pun lalu menuruti perintah Kiara.

“Terus, Ki?”

“Udah, cukup belajarnya. Lo tidur gih. Witir dulu aja sebelum tidur. Berdoa sama Allah, minta ketenangan. Masalah lo gak akan selese kalo lo panikan sekarang, malah bikin masalah tambah runyam, Fin.”

“Elu enak ngomong doang. Prakteknya susah tau!” Fina terdengar ngambek.

“Yeee.. Belum dicoba udah pesimis duluan. Jelas gak akan bisa. Positiv thinking terus dong, Fiiin...”

“Eh..” Fina seperti menyadari sesuatu.

“Ayo, jangan kalah sama pikiran negatif lo! Semangat, Fiin. Lo pasti bisaaaa..” Ujar Kiara ceria.

“Iya, bener sih, Ki. Danke banget ya, Ki. Gue tidur deh sekarang. Doain gue ya, Kiii..”

“Iya, Fin. Selalu. Bismillah yaaa.. Sana gih tidur! Gute Nacht.”

“Sip, sip. Bismillah. Gute Nacht, Ki. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Tutup Kiara sambil masih menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum. Semoga Fina dikasih kedamaian hari ini, deh. Kalo khawatiran terus, bisa gawat dia. Aamiin..

Belajar Jerman
Kontrolle (kon-tro-le)    : Ulangan
Deutsch (Do-ich)           : Bahasa Jerman
Gute Nacht (Gute Nah) : Selamat malam/tidur
»»  Read More...

salamceria: Sepotong Ayam


“Fan! Kenapa elo masih naro makanan begini sih di kulkas?” tanya Kiara sambil mengeluarkan sebungkus sosis ayam yang Fani beli di supermarket.

“Emang kenapa? Kan ayam?” jawab Fani segera.

Kiara dan Fani adalah dua sahabat sejak SMA yang terdampar oleh mimpi-mimpi mereka ke benua biru. Eropa. Tepatnya di Jerman lah mereka menimba ilmu saat ini. Di tanah yang masih sedikit terinjak Islam. Di kawasan berminoritas Muslim. Ditempat iman diuji. Juga dengan kasus yang sudah dianggap kecil seperti perbincangan mereka sekarang.

“Emang halal?” sambung Kiara sambil membolak-balikan bungkusan sosis itu.

“Ayam kan halal.” Kilah Fani lagi.

“Motongnya gimana? Kalo motongnya salah kan udah jadi gak halal ini ayam. Oder?”

“Gue mah egal, Ki. Yang penting gue gak makan babi.” Sanggah Fani lagi.

“Elu egal-egal aja makan makanan yang jelas-jelas elu tau haram?” dahi Kiara berkerut kali ini.

“Ya terus gue makan apaaaaa? Sayur tiap hari? Toko Turki jauh, Kiiiii..”

“Makan ikan aja gimana, Fan?”

“Tapi mahal, Ki”

“Sarden? Murah tau. Gak nyampe satu Euro.”

“Tapi bosen lah gue makan sarden melulu.” Lagi-lagi Fani berkilah.

“Banyak kok ikan kalengan yang murah. Masak telor dimacem-macemin juga bisa. Ato lo beli sosis atau ayam wissen*** aja, Fan. Ada label halalnya loh.” Terang Kiara.

“Tapi, Ki. Gue gak bisa masak.”

“Faaaannn.. Elu tuh yah.. Tapi-tapi meluluuuuu.. Itu makanan kaleng tuh tinggal diangetin doang. Susah amat sih.” Kiara mulai gemas.

“Tapii..” Entah apalagi yang ada di kepala Fani. Dia sudah kehabisan alasan.

“Gue ajarin masak ya, Faaann.. Gue gak mau ah, elu makan-makanan yang gak halal. Mulai hindari ya, Fan..”

“Sebenernya gue emang agak ragu sih, Ki. Tapi gue bingung mau masak apa.” Fani mengaku.

“Yaudah, lain kali kalo ragu, tinggalin aja ya, Faaann.. Terus gak usah tapi-tapian kalo emang tau salah.”

“Iya, Ki. Danke banget ya, Ki. Elo sering-sering aja kesini, Ki. Masakin gue. Hehehe...” J

“Ahahaha.. Bitte, Faaann..”

Belajar Jerman:
Oder      : Atau (...., kan?)
Egal        : Terserah
Danke   : Makasih
Bitte      : Sama-sama
(bacanya sama kayak bahasa Indo)

»»  Read More...

Halle (Saale), Deutschland.


Assalamualaikum, kawan-kawan J

Aku sudah cerita tentang Halle belum sih?

Aku mau cerita sedikit yah tentang Halle. Rumah baruku. Alamat baruku di Jerman. J

Halle (Saale) itu nama sebuah kota di timur Jerman. Terletak di Bundesland (Negara Bagian) bernama Sachsen-Anhalt. Halle memang bukan kota yang besar. Tapi Halle termasuk salah satu kota pelajar di Jerman. Ada universitas besar di Halle. Namanya Marthin-Luther-Universitaet yang suka disingkat MLU. Aku sudah jadi mahasiswi di MLU sejak Oktober 2012. Alhamdulillah.

ini Marktplatz di Halle. Lagi ada Weinachtsmarkt.

Halle juga punya Studienkolleg. Masih inget kan apa itu Studienkolleg? Kalo masih belum tahu, baca Awal Kisah yaa.. Nah, makanya Halle juga salah satu tempat persinggahan pelajar-pelajar Indonesia di Jerman. Kenapa persinggahan? Karena gak semua anak Studienkolleg di Halle, bakal kuliah disini juga.

Gedung kuliah MLU tersebar dimana-mana. Ada yang di tengah kota, ada yang agak masuk-masuk jalan kecil, ada juga yang kayak komplek sendiri gitu. Dan kelasku di semester satu ini, bertebaran dimana-mana. Harus pinter-pinter ngitung waktu deh pokoknya.

Engga kayak Nordi tempat persinggahanku yang kedua setelah Hamburg, Halle gak begitu sepi. Kendaraan mudah didapat. Sampai malem juga masih ada aja kendaraan yang jalan. Disini juga ada toko asia dan toko Turki! Gak perlu jauh-jauh untuk cari Springroll, Nori, bumbu-bumbu asia, sampai daging halal. Terharu gak? :”)

Aku juga beruntung dapet kamar gak terlalu jauh dari pusat kota. Gak jauh dari komplek kampus juga. Kalo mau sambil olahraga, ke komplek kampus bisa cuma naik sepedah sebentar ngelewatin taman yang luaaaaas banget. Namanya Volkspark. Tamannya juga bagus gitu.. Lagi awal-awal di Halle, aku sering jalan-jalan sendiri di Volkspark.
Volkspark saat Herbst (Musim Gugur) dan Winter (Musim Dingin)
Volkspark itu dilalui sungai Saale yang membelah Halle. Makanya di Volkspark ada kayak jembatannya gitu. Cantik deh pokoknya. Di taman itu juga ada danau kecil nya. Ada angsa sama bebek. Kasiannya pas lagi saljuan kemarin. Danaunya beku, terus Angsa sama Bebek nya ngungsi ke sungai.


Si Angsa sama Bebek ini juga sering kedatengan tamu. Kalo pagi sama sore, ada aja orang yang olahraga atau nganter anjing mereka jalan-jalan. Orang-orang yang ke Volkspark juga suka bawain remah-remah roti buat makannya Angsa sama Bebek. Aku sampai udah hapal, ada kakek-kakek yang tiap Sabtu pagi senam di pinggir danau, bawa radio-tape kecil gitu buat lagunya. Selesa senam, dia ngasih makan penghuni Danau (kayak video diatas).

Di Halle juga ada Museum Coklat. Halle punya produk coklat sendiri, namanya Halloren. Enak deh coklatnya. Katanya temen-temenku, kalo mau pulang ke Indo, ya ke Museum coklat itu dulu. Disana harga coklatnya agak miring soalnya. Jadi nanti kalo pulang, aku bawain coklat aja yah buat oleh-olehnya? Hihihihi..
in coklat produksi Halle
Aku belum pernah sih ke Museum Coklat itu. Aku termasuk anak yang jarang jalan-jalan soalnya. Baru menjelajahi pertokoan di tengah kota aja, setelah sudah hampir tiga bulan di Halle. Nama jalannya, Leipziger Strasse (baca: Laipciger Strase). Disana berderet toko-toko. Mulai dari toko baju, toko roti, toko sabun, toko pernak-pernik, toko kebap, restoran asia, toko coklat, Bank, sampe toko serba 1 Euro. Tentu saja toko yang paling sering aku kunjungi itu toko serba satu Euro. Apa aja ada disitu. Aku bahkan beli pisau dapur, piring, gelas dan lain-lainnya disitu. Bahkan sempet beli sumpit, harganya 1 Euro, dapetnya selusin. Hehehe..

Kalau jalan dari Marktplatz (pusat kotanya kali ya) mengikuti terus Leipziger Strasse, sambil liat-liat toko ini-itu, belanja-belanja, nanti tiba-tiba nyampe di Hauptbahnhof (Stasiun Kereta). Bahnhof-nya (Stasiun) lumayan gede. Halle juga dilewati sama kereta ICE loh.. ICE itu singkatan dari Intercity-Express. Sesuai namanya, kereta ini emang cepet gitu. Sesuai kecepatannya, kereta ini emang mahal. Jadi saya mah baru beberapa kali naik ICE. Itu juga karena emang terpaksa. Hehehe.. Ohya, selain di dalam Jerman, ICE juga nyampe ke Belanda, Swiss, Belgia, Prancis, Denmark dan Austria. Semoga kapan-kapan bisa jalan-jalan ke negara tetangga itu ya, aamiin..

Untuk sementara mah, sebagai pelajar. Aku baru keliling-keliling aja dulu di kota ini. Murah. Bayar 75 Euro buat satu semester, bebas naik Tram sama Bus di Halle (aku sertain video singkat naik Tram). Jadi, kuliah, belanja sama silaturahmi ke rumah temen lancar-lancar aja. Soalnya rumah temen-temen ku lumayan jauh-jauhnya. Sampe sekarang aja, kayaknya belum semua Wohnung (rumah) temen aku kunjungi. Emang banyak sih orang indo disini, makanya belum semuanya disamperin. Hehehe..


Ya, begitu dulu saja ya cerita Halle nya. Nanti aku ceritain lagi gimana aku di Halle, ngapain aja. Atau nanti bahas gedung-gedungnya MLU? Makanya, sering-sering aja ya ngecek BiruBicara.blogspot.com ini. Hehehe.. Malah iklan. Sukses ya kawan.

Postingan kali ini aku coba-coba masukin video amatir. Gambarnya juga kurang oke. Belajar lah yaaa... Komentar-komentar boleh kalii.. Kalau mau nanya juga, silahkan. Request mau diceritain apa juga, manggaaaa.. J Selain komen di bawah ini, aku bisa juga dihubungi lewat twitter (@niwiarti) atau facebook (Niwiarti Wijadhy) loh.. Danke kawaaann..
»»  Read More...

Monday, 14 January 2013

Jadi Mandiri


Assalamualaikum, kawan-kawan tercintaaaa....

Sudah beberapa hari nih aku gak nulis. Suhu dingin ngebuat otak beku juga kali yah? Hahaha.. Alasan.

Sudah dua taun nih aku di Jerman. Masih belum banyak sih yang bisa dibanggain. Tapi aku mau berbagi sedikit rasa bangga ku. Di rantauan aku ini, aku jadi lebih mandiri, kawan. Dari mulai masak, beresin kamar, nyuci, bla bla bla... Semuanya sendiri bos! Siapa coba yang mau bantuin? Kawan seperantauan disini juga punya tugas masing-masing. Kami hanya bisa saling bantu dengan saling menyemangati.

Dari dulu, di keluargaku memang tidak menyewa pembantu. Orang tua ku mendidik anaknya hidup mandiri dengan cara itu salah satunya. Kalo mumet liat kamar berantakan, salah sendiri. Jadi emang harus beberes sendiri. Mama juga gak nyuruh beresin kamar, jadi emang udah tanggung jawab sendiri. Kalo kamar berantakan, tidur pun tak nyenyak. Apalagi belajar.

Jadi masalah beresin kamar sih emang udah bisa dari dulu. Walau gak selalu rapi, tapi seenggaknya menghindari BT gara-gara kamar berantakan, deh. Terus tugas kedua adalah nyuci baju. Untung banget di rumah aku di Halle ini ada mesin cucinya. Gak pake bayar pulak. Hahahha.. Jadi kalo weekend, tinggal masukin cucian ke mesin cuci. Tinggalin kira-kira dua jam. Jemur. Beres. Masalah nyetrika, kalo emang kusut banget di setrika. Kalo masih dalam batas wajar, ya pake aja langsung. Hehehehe..

Nah, masalah perut nih yang agak susah. Sebelum ke Jerman, aku di ajarin masak sama mama. Pokoknya tiap mama lagi masak aku disuruh liatin. Kadang aku juga ikutan motongin ini itu. Gimana trik-triknya masak biar enak kayak masakan mama. Gak berkedip di dapur liatin mama yang super luar biasa kemampuan masaknya.

Tapi tetep aja, nyampe ke Jerman baru menguasai masak Nasi Goreng yang emang udah dikuasai dari jaman dulu. Makanya pas awal-awal di Jerman, masak itu adalah bikin Nasi Goreng. Atoga beli sosis atau fishstaebchen (fish fillet, semacam nugget) sebagai pelengkap nasi. Atoga makan nasi pake abon yang emang disetok banyak.

Tapi abis itu liat temen-temen yang udah agak lama di Jerman, bisa aja masak. Mereka bisa masak sambel goreng ati, ayam di ini-itu, telor balado, dan masakan lainnya. Sebagian besar dari mereka adalah lelaki. Aku malu rasanya. Perempuan kok gak bisa masak. Setelah aku tanya, ternyata mereka baru bisa masak juga disini. Kalo lagi kangen masakan Indonesia atau yang susah dicari disni, mau gak mau harus bisa masak sendiri.

bikin sushi sendiri kalo kangen, menghemat 
Akhirnya aku beranikan diri beli ayam. Ayam mentah. Ayam potong. Aku gak pernah berhadapa langsung sama ayam mentah. Bingung. Tapi setelah liatin paha ayam selama beberapa menit, akhirnya aku berani memegang langsung dan mencuci ayam tersebut. Dulu aku selalu gak boleh cuci ayam soalnya. Mama takut aku kurang bener nyucinya. Makanya, pengalaman pertama aku “memandikan” ayam potong itu, ya di Jerman.

Aku lupa apa menu ayam pertama kali yang kubuat. Tapi setelah itu, aku jadi rajin beli ayam. Telor, sosis dan abon pun jarang kumakan. Waktu agak lama memang diperlukan, tapi seimbang lah dengan gizi yang didapat. Lama-kelamaan aku sudah bisa masak berbagai macam resep ayam. Tinggal liat resep dan cara membuat di Internet, membeli bahan, terus aku bisa masaknya. Tapi resep ayam yang paling puas sih ayam goreng gitu. Terus bikin sambel. Terus aku juga beli Eisberg Salat (semacam selada) untuk lalapan nya. Hasilnya mirip pecel ayam!

Mirip-mirip lah sama pecel ayam :")
Kemandirian itu datang sendirinya setelah disini kok, kawan. Mau gak mau aku jadi mandiri di rantau. Gak rengek-rengek cape lah, ini lah, itu lah. Dulu di minta tolong buangin sampah aja males banget. Sekarang gak buang sampah, gerah sendiri liatnya. Ada untungnya juga kan aku merantau. Hehehe..

Kita hidup gak akan terus menerus enak, kawan. Roda itu berputar. Adakalanya nanti kita butuh kemandirian itu. Gak ada salahnya banget untuk belajar mandiri dari awal. Seengaknya, beresin kamar sendiri udah harus bisa, dong. Terus belajar nyuci. Terus belajar masak. Seru banget kan kalo tiba-tiba bisa surprise-in mama pas beliau ulang tahun, pake masakan kamu. Pasti beliau terharu deh. Hehehe..

Ayo kita jadi pribadi yang mandiri.

Bisa karena biasa. Biasa karena dipaksa. J

Paksain diri kita buat jadi pribadi yang mandiri, yuuuk..
»»  Read More...