Showing posts with label salamceria. Show all posts
Showing posts with label salamceria. Show all posts

Sunday, 26 May 2013

salamceria: Bersyukur

Kiara masih berbaring di kasurnya. Matanya masih terpejam. tapi sebenarnya dia sudah terjaga. Kiara membayangkan betapa menyenangkannya hari ini. Hari ini akan menjadi hari yang berbahagia untuknya. Kiara yang sedang berlibur di Indonesia, akan bertemu dengan seluruh keluarga besarnya hari ini. 

Setelah satu tahun setengah Kiara tidak bertemu keluarga besarnya. Kiara membayangkan bagaimana dia harus memeluk neneknya tercinta. Apakah dia harus memeluknya dulu, atau mencium tangannya dulu. Bagaimana wajah nenek sekarang? Kiara bertanya tanya sambil tersenyum. Matanya masih terpejam. Ia takut kehilangan bayangan indahnya.

Kiara membayangkan bagaimana tante dan om nya berekspresi melihat keadaan Kiara sekarang. Penampilan Kiara memang agak berbeda sekarang. Kiara terlihat lebih feminim. Kiara tahu akan ada tantenya yang mendukungnya untuk lebih feminim. Kiara juga tahu siapa tantenya yang akan tercengang melihat penampilannya kini. Apapun reaksi mereka, Kiara akan memeluk mereka kuat kuat. Kiara sudah merindukan semua tante-tantenya.

Kiara juga membayangkan bagaimana reaksi sepupu-sepupunya ketika melihat Kiara. Kakak-kakak sepupunya terbiasa menjitak halus Kiara sebagai rasa sayang. Kiara memegang kepalanya sambil membayangkan wajah mereka yang tersenyum ceria melihat kiara kembali berkumpul bersama. Kiara sudah membawa bingkisan lucu untuk adik-adik sepupunya. Coklat dan permen khas Jerman. Kiara membayangkan wajah ceria adik-adik sepupunya. Kiara tak sabar ingin bertemu mereka.

Kiara juga membayangkan bagaimana wajah ponakan-ponakannya sekarang. Pasti mereka sudah makin besar. Kiara membayangkan wajah ponakannya yang bingung tak mengenali dirinya dengan baik. Pasti lucu.

Semua kiara visualisasikan dengan baik di kelopak matanya. Iya, Kiara masih terpejam. Otak sebelah kirinya berusaha keras mengingat seluruh wajah anggota keluarga, benda-benda dirumah tante tempat mereka akan berkumpul, tak lupa menghadirkan aroma makanan saat berkumpul keluarga. Sedangkan otak kanannya menciptakan sebuah cerita pertemuan yang menyenangkan sekaligus mengharukan itu. Mata kiara tepejam. Tapi ia bisa melihat semuanya. Ia harap, apa yang ia visualisasikan pagi ini menjadi kenyataan siang hari nanti.

Mama Kiara masuk ke kamar. Duduk di tempat tidur Kiara dan mengusap kepala Kiara lembut. "Kiiii.. Sayaaang.. Subuh dulu ayo. Mama tau kamu udah bangun. Ayo ki, buka matanya!"

Kiara tersenyum semakin lebar. Ingin bercanda dengan mamanya, ia malah menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya. Mamanya tau Kiara kangen bercanda. Mamanya mengelitiki kiara. Lalu mamanya menyudahi dengan menarik selimut kiara. "Udah cukup. Nanti waktu subuhnya abis, sayang. Kita harus berangkat pagi-pagi sekali ke Bandung. Semua kumpul jam sepuluh nanti. Ayo ayo cepet!"

Kiara mengalah. Ia akhirnya membuka mata. Tapi masih gelap. "Maaa, kok lampunya dimatiin?" Teriak kiara, tau mamanya sudah keluar kamar. Kiara berpikir keras. Tak mungkin semuanya gelap. Tadi Kiara tak mendengar mamanya menutup pintu kamar. Pasti ada cahaya dari ruang keluarga. Kiara mencoba membuka matanya lagi. Tak bisa. Semua gelap. Semua hitam. Kiara tau mama sudah masuk kamar nya lagi. "Kenapa sayang? Jangan bercanda ah! Dari tadi lampu kamarmu nyala kok!"

Hati kiara mencelos. Semua masih gelap. Kiara kembali mencoba membelalakan matanya. "Ki! Kamu ngapain sih melotot melotot!" Mamanya mulai khawatir. Kiara sekarang tahu matanya telah terbuka. Matanya tak terpejam. Tapi dia tak bisa melihat apapun. Perasaan kiara bercampur aduk. "Maaaa.. Kiara gak bisa liat apa-apa maaaa.." Kiara mulai menangis. Ia menggosok-gosokan matanya. Mamanya memeluknya. "Ki, kamu serius sayang?" Kiara makin menangis meraung. Mamanya memeluknya erat. Ikut menangis melihat anaknya yang tak bisa balas menatapnya.

Semua yang kiara bayangkan pagi ini, benar benar hanya bisa ia bayangkan. Tak bisa dia melihat adegan aslinya. Hati kiara sangat hancur. Semuanya gelap. Tak ada cahaya yang bisa dia lihat. Tak ada lagi senyuman mama yang bisa dia lihat. Tak bisa lagi dia melihat langit yang biru cerah. Tak bisa lagi dia melihat. Hidupnya akan selamanya dalam kegelapan. Dia cacat. Dia buta.

Lalu tetiba suara Fani muncul. "Kiiii.. Lo kenapa kiii?" Lalu kiara tersadar. Mendapati dirinya memeluk boneka kesayangannya. Pipinya basah. Hatinya masih sedih. Tapi keadaannya masih sama. Masih gelap. "Fan! Kok gelap banget Fan? Fan, nyalain lampunya, Fan!" Kiara berteriak pada Fani dengan rasa takut yang mendalam. 

Fani lalu bergegas menyalakan lampu. Khawatir akan kondisi sahabatnya yang sedang demam itu. Mata Kiara menangkap cahaya lampu kamar. Dia bisa melihat wajah Fani yang khawatir. "Fan! Gue gak buta, Fan! Tadi gue cuma mimpi..." Lalu Kiara bergegas memeluk Fani yang masih bingung tercengang.

Kiara menangis bahagia dipelukan Fani. Kiara bersyukur dia masih bisa melihat. 'Ya Allah, betapa sombongnya aku. Aku tak pernah membayangkan jika Kau tak memberikan aku penglihatan. Terimakasih ya Allah.' Batin Kiara. Dia bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu. Lalu dia tenggelam dengan khusyuk dalam perbincangan dengan sang Pencipta. Rasa syukur dia ucapkan. Fani mengerti apa yang terjadi. Ia ikut mengambil air wudhu dan sholat tahajud malam itu. Masing masing dari mereka tenggelam dalam doa. Memohon ampun pada yang maha kuasa karena kesombongan mereka. Mengucap syukur dan berterimakasih pada-Nya. 

Bersyukurlah dengan apa yang telah diberikan Allah swt padamu. Sering kita lupa bahwa Allah sangat sayang pada kita. Semuanya telah Allah berikan. Penglihatan, pendengaran, suara, dan semua anggota tubuh kita yang sempurna. Apa yang terjadi jika Allah hentikan pemberiannya? Jika tetiba kita tak bisa melihat? Tiba tiba kita tak bisa mendengar? Takbisa kau bayangkan bukan? Begitu juga dengan Kiara. Cukup dalam mimpi saja dia mengalaminya. Allah menegurnya dalam mimpi. Kiara ingat, kemarin malam dia marah karena kepalanya sangat pusing. Masih untung ada Fani yang menemani. Tapi Kiara tak ada mengucap syukur. Kiara sangat merasa bersalah dan kini ia sedang memohon ampun pada yang maha pengampun dan penyayang.
»»  Read More...

Saturday, 16 February 2013

salamceria: Belajar itu Ibadah


Masih memumpuk di kanan dan kiri Kiara, buku-buku tebal yang dia pinjam dari perpustakaan kampus sebagai bahan ujian. Piring-piring bekas makan malam dan sarapan masih tergeletak kotor di lantai kamanya. Inilah efek ujian. Kiara seakan gak punya waktu untuk hanya mencuci piring. Kadang Kiara merasa letih terus-terusan belajar siang malam.

Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi. Cuaca di luar terlihat begitu cerah. Ada sebersit senyum yang tergores di wajah Kiara saat melihat langit yang biru. Cerah, terang, indah. Subhanallah. Tapi senyum itu hilang seketika saat Kiara kembali melihat buku-buku yang berserakan.

Hatinya tak tenang, besok dia akan mengikuti ujian. Dia sudah berusaha keras belajar siang malam. Tapi hatinya masih saja gelisah. Akhirnya Kiara memutuskan untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat sunah Dhuha.

Setelah shalat, hatinya begitu tenang. Kiara melanjutkan ketenangannya dengan membaca Al-Quran beberapa ayat. Senyumnya lebar ketika selesai mengaji. Hatinya tenang seakan beban terangkat. Lalu terbesit pertanyaan di kepalanya sendiri.

Kita kan diberi hidup, untuk menyembah Allah. Buat apa kita mengejar kesuksesan dunia? Kita harus sukses akhirat! Akhirat kan kehidupan yang kekal.

Sambil melipat alat sholat dan kembali duduk di depan meja belajar, pikiran itu masih terngiang-ngiang di kepala Kiara. Kiara mengambil telepon genggamnya dan menelepon Fani.

“Assalamualaikum, Fan.”

“Waalaikumsalam, Kiii.. Katanya gak mau diganggu? Katanya lagi belajar? Kok nelpon?”

“Iya nih, Fan. Ada yang ganjel.”

“Apa? Cerita aja, Ki.”

“Fan, kita idup kan buat nyembah Allah yah? Ujung-ujungnya kita bakal punya dua pilihan doang kan, ya? Surga atau Neraka. Buat apa kita masih kejar-kejar ijazah sih, Fan?”

“Nah, kan. Biasanya kamu yang pinter nasihatin orang. Sekarang bingung sendiri.”

“Emang kamu gak pernah kepikiran, Fan?”

“Ya sekarang gini deh, kita dapet pelajaran sabar dari mana, Ki? Salah satunya dari kita nimba ilmu juga, kan? Kalo kita cuman belajar agamaaaaa terus, dapet teorinya terus, tapi gak dipraktekin. Ya, nilainya cuman nilai tau doang. Ujian di sekolah aja, ada ujian tertulis sama praktek. Itu tuh terinspirasi dari ujian Hidup, tau!”

“Iya sih, Fan. Tapi kan ujian hidup gak jadi harus sukses, harus kaya..”

“Ya kalo misalnya nanti engga kaya? Mau sedekah gimana? Mau ujiannya cuman sabaaaar terus? Aku sih gak mau. Sekolah aja naik kelas. Ya kita hidup naik tingkat dong. Tadinya ujian sabar, jadi ujian Ikhlas memberi. Dari puasa, terus nanti naik Haji. Aamiin.”

Hati Kiara sangat tersentuh dengan kata-kata sahabatnya itu. Dia menyesali pertanyaan bodohnya tadi.

“Iya sih, Faan. Bener-bener..” Kiara menjawab pelan.

“Eh, uebrigens! Kamu itu bener-bener nanya, apa ngetes sih, Ki?”

“Beneran ini, Faaaannn.”

“Tumben amat begini. Udah sana, belajar lagi. Sukses ya buat ujian besok. Aku doa terus dari sini, Kiii.. Abis ujian, main-main ke rumahku yaaa..”

“Oke-oke. Aamiin. Makasih ya, Fan. Assalamualaikum.”

“Sip! Waalaikumussalam.”

Setelah mengobrol dengan sahabatnya itu, Kiara mengucap Istighfar berkali-kali. Lalu melanjutkan belajar untuk meraih nilai terbaik. Banyak sekali ibadah dalam menuntut ilmu itu. Salah satunya yang membuat Kiara makin semangat adalah: Bisa membahagiakan orang tua. Itu salah satu ibadah paling oke, kan?

Belajar Jerman
Uebrigens (ubrigens)     : Ngomong-ngomong

»»  Read More...

Sunday, 20 January 2013

salamceria: Jalanin Dulu Aja


Salah satu hobby Kiara adalah melamun. Sambil melow-melow liat salju yang turun lagi di akhir Januari, Kiara sedang ingat ibunya. Sudah lama ternyata Kiara meninggalkan tanah air. Sudah lama dia begitu sendirian. Kiara bersyukur dia mendapat teman-teman yang baik. Teman-teman yang selalu mengutamakan urusan dengan Allah. Kiara juga bersyukur karena sudah menggunakan kerudung sejak dulu. Sejak kejadian masuk SMA waktu itu.

Waktu itu hari pemesanan baju seragam SMA Kiara. Bersama ratusan murid lainnya, Kiara mengantri didepan koperasi sekolah baru. Kiara hanya mengeluarkan senyam-senyum asalnya pada beberapa orang yang tak sengaja bertatapan mata dengannya. Mama Kiara menunggu dengan sabar sambil memakan gorengan di kantin sebelah koperasi.

Gilaran Kiara tiba. Mamanya menyusulnya masuk ke ruangan koperasi yang penuh dengan seragam baru. Menurut penglihatan Kiara, pengurus Koperasinya adalah salah satu guru Kiara kelak. Maka dia dan mama nya sok kenal sok deket sama guru tersebut.

“Kiara, yah? Ukuran bajunya apa?” mungkin karena sudah lelah, guru itu bertanya to the point.

“L, bu.” Tak mau kalah, Kiara juga menjawab seperlunya. Tapi masih dalam batas sopan.

“Oke. Belinya mau berapa pasang, bu? Mau lengkap saja untuk seminggu?” Ibu itu bertanya pada mama Kiara.

“Eh, tapi bu.. Saya mau rok nya panjang. Boleh kan, bu?” Kiara menyela pertanyaan si ibu guru.

“Wah, nak. Di sekolah ini, gak boleh tuh permpuannya pake rok panjang tapi tangan pendek.”

Kiara memang sangat tidak suka memakai rok pendek. Cukup sudah tersiksa duduk tidak bebas selama tiga tahun di SMP. Sudah gerah sendiri harus beranggun-anggun dengan rok pendek yang tidak diciptakan untuk orang yang teledor dalam menempatkan kaki. Kiara agak kecewa. Menganggap sekolah ini, sekolah yang tidak gaul.

“Yah. Kalo gitu seragam saya panjang semua deh, bu. Saya pake jilbab nanti.” Jawab Kiara mantap.

Bukan hanya guru tersebut yang bengong. Mama Kiara juga terheran-heran. Memang selagi SD, Kiara diwajibkan oleh sekolahnya untuk berjilbab. Tapi setelah masuk SMP, Kiara memutuskan untuk melepas Jilbab. Keputusan yang diambil ketika membeli baju seragam juga. Dulu mama Kiara berpikir bahwa Kiara sudah akan terus berjilbab, tapi ternyata Kiara ingin mencoba melepas Jilbabnya ketika SMP. Tapi mama dan papa Kiara selalu menghargai keputusan putri yang satu ini, yang memang kadang-kadang diluar batas pikiran orang normal.

“Ki, kamu beneran mau pake kerudung lagi?” Mama Kiara masih terbengong-bengong.

“Eh, boleh kan mam? Lebih mahal ya bu harganya?” Kiara malah menghawatirkan biaya seragam.

“Engga beda jauh kok, nak.” Jawab Ibu Koperasi. Entah itu masih dalam keadaan kaget atau sedang promosi.

“Loh, masalah biaya sih ga masalah, sayang. Tapi kamu beneran mau pake kerudung?” Mama Kiara mengerutkan kening tanda berpikir.

“Iya mama, sayaaaang. Aku cape pake rok pendek. Gak sanggup deh.”

“Yasudah, bu. Saya beli sepaket seragam muslimahnya.” Mama Kiara cepat-cepat memutuskan. Takut pikiran anaknya berubah lagi.

Kiara seperti baru bangun dari mimpi ketika sampai dirumah dan mencoba seragam barunya. Putih abu-abu dengan lengan dan rok panjang. Kiara bingung. Kenapa dia membeli sepaket seragam itu. Kiara masih terduduk di kasurnya dengan seragam putih abu-abunya sambil melihat kerudung digenggamannya ketika Kaira, kakaknya, memasuki kamar.

“Ki. Kamu beneran pake kerudung sekarang?” Mba Rara kaget melihat Kiara menggenggam kerudungnya.

“Hehe. Iya, tadi Kiki beli seragam ini, mba. Kiki aja masih bingung ini.” Jawab Kiara sambil menyengir.

“Loh, kenapa bingung? Bagus kok, Ki. Alhamdulillah.”

“Tapi aku takut gak bisa istiqomah, mba.”

“Loh, emang kamu kenapa tiba-tiba beli seragam panjang? Mama tadi cerita sih, dia seneng banget, Ki.” Mba Rara menjawab sendiri pertanyaannya.

“Nah, itu dia, mbaaa.. Niatnya aja bukan mau berkerudung. Enak gak sih, mba?”

“Pake kerudung? Dicoba aja dulu, Ki. Dijalanin. Nanti Kiki jawab sendiri pertanyaan Kiki.” Jawab mba Rara bijaksana.

“Gitu yah, mba? Tapi kelakuan Kiara masih begini, mba. Masih jauh banget dari cewek-cewek yang berjilbab.”

“Loh, emang kenapa? Kan dengan berjilbab, kamu jadi malu ngelakuin hal-hal yang gak pantes dilakukan cewek berjilbab, dong? Jadi kamu bisa jaga diri juga. Masa cewek berjilbab nongkrong sepulang pas pulang sekolah? Masa cewek berjilbab mainnya sama laki-laki semua?” Mba Rara nyebutin beberapa kelakuan buruk Kiara selagi SMP.

“Aduh, mba Rara mah nyindir.”

“Makanya, gapapa dong ngejilbabin dulu luarnya, biar dalemnya malu sama luarnya. Ngerti gak?” Kiara mengangguk. “Kiki kan bilang mau jadi anak baik-baik kalo udah SMA.”

“Iya sih, mba. Kiki harus bisa nih.”

“Bisa lah, insyaAllah. Kalo orang bilang, ‘belum siap pake jilbab. Mau jilbabin hati sama perbuatan dulu’, kata mba Rara sih salah, Ki. Pake jilbab dulu, jadi bisa terhindar dari sifat-sifat yang jelek. Hati terlindung, perbuatan tejaga.”

“Iya sih, kak.”

“Masih nyesel?” tembak mba Rara. Kiara mengangguk pelan. Mba Rara menghela napas. “Kenapa nyesel, sayang?” Tanya mba Rara sabar.

“Kiki nyesel gak beli kerudung segitiga tadi, kak. Kiki pake kerudung ini keliatan tambah bulet.” Jawab Kiara santai sambil mencoba lagi kerudung digenggamannya.

Mba Rara hanya mengeleng dan menjitak sayang adiknya yang sudah besar itu. Lalu mengajak Kiara ke kamarnya untuk belajar menggunakan kerudung segitiga.

Kiara tersadar dari lamunannya sambil tersenyum dan langsung mengambil ponselnya lalu mengirim pesan bbm untuk mba Rara. “Terimakasih waktu itu ya, mba. Sekarang aku udah istiqomah pake Jilbab dan menjilbabkan hatiku sedikit demi sedikit.” Lalu Kiara melanjutkan kembali aktivitasnya yang terganggu lamunan panjangnya akan masa lalu.
»»  Read More...

Wednesday, 16 January 2013

salamceria: Kekuatan Do'a


“Teeeeettt... Teeettttt..” Terdengar suara bel rumah berbunyi.

Kiara yang sedang masak seadanya langsung mematikan kompor dan segera membukakan pintu. Setengah terkejut, tenyata Fina yang datang.

“Assalamualaikuuuuum, ibu cantiiiikkk..” Salam Fina sambil spontan memeluk Kiara.

“Waalaikumussalam, Fiiin. Ya, ampun. Kok gak bilang mau kesini? Berangkat pagi-pagi kamu? Mau ngapain kesini?” Pertanyaan orang terkejut memborong Fina.

“Aduuh, di suruh masuk dulu kek temennya ini. Dingin, tau.” Omel Fina sambil langsung masuk.

Fina menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari kotanya dengan menggunakan kereta ekonomi untuk mengunjungi Kiara. Sambil memperhatikan Fina yang membuka mantel nya, Kiara masih kehabisan kata-kata. Hanya tersenyum. Sambil menunggu jawaban dari pertanyaan rombongannya tadi.

“Gue mau kasih kejutan aja. Kangen, Ki. Iiih.. Makin tembem aja sih kamuuuu..” jawab Fina akhirnya sambil mencubit gemes pipi Kiara yang memang agak membesar.

“Kok lo keliatan seneng banget sih? Ada apa sih, Fin?”

“Gue masih seneng ketemu elu, Kiiiiii...”

“Hahaha.. Engga, pasti ada sesuatu nih. Lo terlihat mencurigakan.” Kiara mulai suudzan.

“Gue seneng, Ki. Akhirnya ujian demi ujian gue lalui dengan lancarrrr...” Akhirnya mengakui.

“Terus lo langsung meluncur kesini, gitu?” masih heran sama sahabatnya yang punya sifat spontanius.

“Ya udah sih. Terima aja gue disini.”

“Iye, iyeee.. Gimana ujian-ujiannya? Cerita laaahhh.” Kiara lalu meneruskan memasak sambil mendengarkan cerita Fina.

“... Pokoknya, Ki. Setelah gue cerita sama nyokap, kalo gue ini panikan mau ujian lah, ini lah , itu lah. Kayaknya nyokap doain gue, deh. Pas ujian, semuanya lancar aja gitu.” Jelas Fina akhirnya.

“Wah, doa ibu emang ampuh ya, Fin. Makanya lo juga terus doain nyokap lo.”

“Iya, Ki. Sekarang gue sholat udah gak bolong-bolong lagi deh seenggaknya. Malu juga gue, udah tua masih bolong-bolong kalo sholat.” Jelas Fina tanpa melihat mata Kiara.

“Terus hasilnya lo jadi seneng banget begini ya, hari ini?”

“Ini gue gak tau dapet energi darimana, Ki. Tiba-tiba seneng banget hari ini.” Fina terlihat baru menyadari semangatnya yang berlebih hari ini.

“Mungkin nyokap lagi doain lo, Fin.” Sambar Kiara sambil menata masakannya yang baru jadi.

“Aduuhh.. Nyokap gue baik banget yah?”

“Hahaha.. Makanya, kalo berdoa sebut juga orang-orang yang lo sayang. Biar mereka juga bisa ngerasain kesenengan kayak yang lo rasa sekarang ini, Fin.”

“Bener. Jadi tanpa diminta juga kita udah doain lah ya..? Kali aja mereka pas doa juga jadi inget kita.”


“Iya, genau! Cuci tangan gih! Makan dulu kita.” Kiara mengakhiri pembicaraan lalu mereka menyantap makanan mereka.

Belajar Jerman
Genau  (ge-nau)              : Tepat


»»  Read More...

Launching SALAMCERIA


Assalamualaikuuum..

Iya, aku tau ini udah hampir tengah malem di Jerman. Tapi alhamdulillah si otak masih kerja. Pengen banget nulis ini-itu. Mungkin hari ini jadi hari produktif buat aku. Hehehe..

Tadi setelah blogwalking ke blog-blog yang keren, aku baca beberapa dari mereka punya cerpen di blognya. Terus aku pikir, oke juga ya kalo lagi pengen buat cerpen, terus di post aja di sini. Akhirnya, aku ikut-ikutan bikin cerpen. Terkesan kayak ikut-ikutan yah? Iya, sih emang. Tapi pengen juga berbagi pikiran yang melintas. Di tulis dalam bentuk fiksi sebagai cerpen.

Nah, nama cerpen-cerpen di BiruBica ini adalah: SALAMCERIA. Kenapa namanya aneh? Sebenarnya itu singkatan maksa gitu. Hehehe.. Salamceria itu singkatan dari peSAn daLAM CERItA. Itu juga tadi tiba-tiba cling dapet ide lewat.

Udah ada dua cerita salamceria nih. Pertama, Sepotong Ayam. Terus yang kedua, Khawatir. Maaf-maaf aja kalo tulisan aku menyindir pembaca atau gimana. Tapi kan untuk instropeksi kita sendiri kok sebenernya. Aku juga masih harus instropeksi. Mungkin dengan menulis pesan-pesan itu, aku juga bisa istiqomah mengerjakannya.

Dalam cerpen salamceria ini, aku juga menulis beberapa kata dalam bahasa Jerman. Kata yang memang sering diucapkan sama orang Indonesia di Jerman, juga sama orang Jermannya sendiri. Aku tuliskan juga kok gimana cara membacanya. Jadi sambil baca cerpen, nangkep pesan, sambil belajar Jerman juga dikit-dikit. Ya nggak?

Semoga aku tetap bisa menulis salamceria yaaa.. Semoga manfaat yaa.. Kalau mau kritik atau ngasih saran boleh di kolom komen di bawah. Atau bisa juga mention si @niwiarti. Atau bisa juga di kontek di Facebook lewat Niwiarti Wijadhy. Makasih, kawaaan..
»»  Read More...

Tuesday, 15 January 2013

salamceria: Khawatir


Ringtone Ponsel Kiara berbunyi. Padahal Kiara sedang asik baca artikel di Laptopnya. Sambil dengerin lagu yang dia pasang kencang-kencang. Kiara memang kadang sebal dengan kesendirian. Sepi sekali. Memang bagus sih buat merenung, tapi kalo tiba-tiba jadi galau gimana? Makanya dia kadang benci sendiri, kadang seneng banget kalo sendiri.

Ternyata Fina yang meneleponnya. Sahabatnya tercinta yang memang harus berpisah kota dengan Kiara saat di Jerman. Walau pisah kota, mereka tetap rajin komunikasi. Entah itu lewat telepon, bbm, skype atau malah saling mengunjungi.

“Assalamualakum, Fiiin.. Ada apa?” Sapa Kiara sambil mematikan lagu yang kencang itu.

“Waalaikumsalam. Kiiii.. Gue pusing banget iniii..” Suara Fina terdengar memelas.

“Kenapaaaa? Cerita monggooo..”

“Besok gue Kontrolle, Kiii. Huaaaa..” Terdengar nada kecemasan diseberang sana.

“Kontrolle apa, Fin?” Kiara masih menanggapi santai sambil sedikit-sedikit melirik artikel yang dia baca sebelumnya.

“Deutsch, Kiiii.. Aduuuh.. Gimana inii..”

“Belajar lah, Fin!” Kini Kiara mulai meninggalkan Laptopnya dan fokus pada Fina.

“Ini gue mau belajar malah takut-takut terus, Ki.”

“Sholat dulu makanya!” Masih menjawab santai. Sahabatnya yang satu ini memang panikan sejak mereka menghadapi ulangan pertamakali di SMA.

“Udaaaah.. Aduh, gue mau jungkir balik aja ini.” Fina semakin cemas.

“Emang lo gak gitu nguasain materinya, Fin?”

“Bukan gitu, Ki. Kontrolle kemarin nilai gue gak bagus-bagus amat. Gue takut nilai sekarang malah jelek lagi.”

“Lah, kemarin kenapa nilainya jelek?”

“Gue panik gitu semaleman. Sampe gak bisa tidur, terus pas ujian malah nge-blank. Gue takut besok gue malah begitu lagi.”

“Aduh, Fiin.” Kiara menggelengkan kepalanya.

“Ki, lo sini apa temenin gue.”

“Dikira jarak kota kita deket apa, Fin?” Kiara sewot.

“Aduuhh.. Gue takut banget, Kiii..”

“Shh.. Tarik napas, Fin!” Fina pun lalu menuruti perintah Kiara.

“Terus, Ki?”

“Udah, cukup belajarnya. Lo tidur gih. Witir dulu aja sebelum tidur. Berdoa sama Allah, minta ketenangan. Masalah lo gak akan selese kalo lo panikan sekarang, malah bikin masalah tambah runyam, Fin.”

“Elu enak ngomong doang. Prakteknya susah tau!” Fina terdengar ngambek.

“Yeee.. Belum dicoba udah pesimis duluan. Jelas gak akan bisa. Positiv thinking terus dong, Fiiin...”

“Eh..” Fina seperti menyadari sesuatu.

“Ayo, jangan kalah sama pikiran negatif lo! Semangat, Fiin. Lo pasti bisaaaa..” Ujar Kiara ceria.

“Iya, bener sih, Ki. Danke banget ya, Ki. Gue tidur deh sekarang. Doain gue ya, Kiii..”

“Iya, Fin. Selalu. Bismillah yaaa.. Sana gih tidur! Gute Nacht.”

“Sip, sip. Bismillah. Gute Nacht, Ki. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Tutup Kiara sambil masih menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum. Semoga Fina dikasih kedamaian hari ini, deh. Kalo khawatiran terus, bisa gawat dia. Aamiin..

Belajar Jerman
Kontrolle (kon-tro-le)    : Ulangan
Deutsch (Do-ich)           : Bahasa Jerman
Gute Nacht (Gute Nah) : Selamat malam/tidur
»»  Read More...

salamceria: Sepotong Ayam


“Fan! Kenapa elo masih naro makanan begini sih di kulkas?” tanya Kiara sambil mengeluarkan sebungkus sosis ayam yang Fani beli di supermarket.

“Emang kenapa? Kan ayam?” jawab Fani segera.

Kiara dan Fani adalah dua sahabat sejak SMA yang terdampar oleh mimpi-mimpi mereka ke benua biru. Eropa. Tepatnya di Jerman lah mereka menimba ilmu saat ini. Di tanah yang masih sedikit terinjak Islam. Di kawasan berminoritas Muslim. Ditempat iman diuji. Juga dengan kasus yang sudah dianggap kecil seperti perbincangan mereka sekarang.

“Emang halal?” sambung Kiara sambil membolak-balikan bungkusan sosis itu.

“Ayam kan halal.” Kilah Fani lagi.

“Motongnya gimana? Kalo motongnya salah kan udah jadi gak halal ini ayam. Oder?”

“Gue mah egal, Ki. Yang penting gue gak makan babi.” Sanggah Fani lagi.

“Elu egal-egal aja makan makanan yang jelas-jelas elu tau haram?” dahi Kiara berkerut kali ini.

“Ya terus gue makan apaaaaa? Sayur tiap hari? Toko Turki jauh, Kiiiii..”

“Makan ikan aja gimana, Fan?”

“Tapi mahal, Ki”

“Sarden? Murah tau. Gak nyampe satu Euro.”

“Tapi bosen lah gue makan sarden melulu.” Lagi-lagi Fani berkilah.

“Banyak kok ikan kalengan yang murah. Masak telor dimacem-macemin juga bisa. Ato lo beli sosis atau ayam wissen*** aja, Fan. Ada label halalnya loh.” Terang Kiara.

“Tapi, Ki. Gue gak bisa masak.”

“Faaaannn.. Elu tuh yah.. Tapi-tapi meluluuuuu.. Itu makanan kaleng tuh tinggal diangetin doang. Susah amat sih.” Kiara mulai gemas.

“Tapii..” Entah apalagi yang ada di kepala Fani. Dia sudah kehabisan alasan.

“Gue ajarin masak ya, Faaann.. Gue gak mau ah, elu makan-makanan yang gak halal. Mulai hindari ya, Fan..”

“Sebenernya gue emang agak ragu sih, Ki. Tapi gue bingung mau masak apa.” Fani mengaku.

“Yaudah, lain kali kalo ragu, tinggalin aja ya, Faaann.. Terus gak usah tapi-tapian kalo emang tau salah.”

“Iya, Ki. Danke banget ya, Ki. Elo sering-sering aja kesini, Ki. Masakin gue. Hehehe...” J

“Ahahaha.. Bitte, Faaann..”

Belajar Jerman:
Oder      : Atau (...., kan?)
Egal        : Terserah
Danke   : Makasih
Bitte      : Sama-sama
(bacanya sama kayak bahasa Indo)

»»  Read More...