Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, 13 May 2016

Kopi dan Nilai

Lama ya aku masih gak nulis lagi juga. Kayaknya aku terkena penyakit terlalu-cemas nih.. Sama ini dan itu. Segala sesuatu lagi dipikirin. Mulai dari pola makan, makanannya, jadwal tidur, pelajaran, minum kopi, temen, saudara, ini dan itu dan ini dan itu sampe mikirin masa depan. Terus jadinya tiap mau nulis, malah curhat. Jadi cuma berujung di jurnal atau recycle bin. Hehehehe..

Nah, ini ada satu pikiran istimewa. Salah satu hasil diskusi sama sahabat aku di Indonesia. Aku memang senang berdiskusi. Sama dia, karena dia ini laki, diskusinya lebih ke arah saling mengenal lawan jenis. Sering kali aku melarang dia untuk mendekati perempuan ABCDEF. Kalo dia lebih sering nyadarin aku dari khayalan aku yang kadang suka ketinggian. Tulisan kali ini, aku tulis berdasarkan sudut pandang aku atas pikiran kami. 

Jadi, menurut aku: Manusia itu bisa berubah.
Berubah perlahan. Waktu yang menjawab segalanya. Segalanya bisa berubah. Mulai dari cara berpakaian, jenis kopi yang diminum, sifat, perasaan, warna kesukaan, dan lain lain deh. Tapiii, semua berubah dengan sebab. Ada satu atau dua hal yang nyangkut banget dihati saat itu. Sesuatu yang bisa bikin kita berubah. Mencoba hal yang baru itu, membuat pilihan dengan hal yang tidak disangka. Semua ada waktu dan alasannya.

Contoh:
Dulu, selagi SMA, aku ikut Keputrian. Ekstrakulikuler rohani islam untuk perempuan. Ada mentoring, kegiatan yang biasanya dilakukan seminggu sekali membahas dan belajar agama islam. Gurunya adalah alumni keputrian juga. Aku sebenernya seneng belajar agama lebih dalam, tapi karena sibuk rapat osis dan bentrok sama ekskul lain, jadi mungkin aku cuma ikut sebulan sekali saja. Hari itu kebetulan aku masuk mentoring dan bahasannya: Adab berpakaian seorang muslimah. Aku langsung ngantuk karena sebenernya tau adabnya. Pake rok lah, kaos kaki lah, jilbabnya diturunin lah, ini lah itu lah. Tapi waktu itu aku masih pura-pura gak mau denger. Aku ingat salah satu perbincangan aku dengan salah satu kakak mentor.
Aku : Aku sebenernya mau kak pake rok kayak kakak. Tapi, aku kemana-mana masih pake metro mini, angkot, ojek.. 
Kakak : Terus kenapa?
Aku : Ya ngejar metro mini gak gampang kalo pake rok, kak.. Naik ojek, aku gabisa duduk miring..
Kakak : Kan bisa pake celana lagi, dek.. Cari yang nyaman, kalo perlu kita belanja bareng.
Aku : Gerah kaaak.. Kakak enak kemana-mana udah pake mobil.
Kakak : Ah banyak alasan kamu.. Pelan-pelan aja, jangan maksain. Yang penting udah ada niat.
Terus dia senyum manis banget sampe aku merasa bersalah. Walau panas banget sore itu, si kakak dengan segala penutup auratnya, ga keliatan kepanasan sama sekali. Padahal aku, emang udah berjilbab, tapi lengan baju kadang masih digulung. Heheheh.. Aku masih berpakaian dengan gayaku kalo diluar sekolah. Celana jeans, kaos lengan panjang atau kemeja, kerudung seadanya, sneakers atau sendal jepit sebagai alas kaki. Kaos kaki, hmm.. No.
Sampai sekitar empat tahun dari percakapan itu. Di Jerman, aku dapet pelajaran lagi tentang adab berpakaian untuk perempuan. Gayaku sekarang berubah. Total. Aku pake rok. Hahahahha.. Padahal pelajarannya sama. Lingkungan juga gak beda jauh. Tapi mungkin pola pikir semakin dewasa, dan hati juga semakin tau mana yang hitam dan yang putih. Mungkin saat nanti aku ketemu kakak mentor yang itu, aku bakal bilang, "Kak, sekarang aku udah bisa ngejar tram walau pake rok."

Ok. Mungkin itu terlalu agama banget omongannya. Tapi itu salah satu perubahan aku. Ada satu contoh lagi.
Aku peminum kopi. Aku ingat aku sudah minum kopi saschet sejak SMP. Kalo makan diluar, minumnya selalu yang berbau kopi. Walau memang masih kopi saschet atau kopi dengan eskrim vanilla. Manis. Keluargaku memang penikmat kopi. Jadi selalu ada kopi di rumah. Orang tua juga gak melarang kami meminum kopi, karena bagus juga untuk kami yang punya darah rendah. Tapi sejak itu aku jadi ketergantungan. Sehari saja tidak minum kopi, kepalaku pusing. Sampai akhirnya ada satu orang yang berhasil merubah kebiasaanku yang satu ini. Dia membuang semua kopi yang aku punya (aku udah di Jerman). Dan berhasil. Dua tahun penuh hidup tanpa kopi dan tanpa pusing lagi. Tapi dua tahun itu aja. Orangnya ilang, ketergantungan aku sama kopi malah menjadi. Tapi bedanya, karena satu kalimat sederhana, kopiku berubah. Aku racik sendiri kopi instant ku. Cuma kopi dan susu. Ya, sesekali minum Cappuccino, Latte atau kopi kopi lain. Tapi, tanpa gula. Sekali-kali aja pake gula kalau emang ngerasa lagi butuh gula. Kalimat nya: 
"Kopi aku pahit, biar aku inget. Hidup tuh gak cuma manis doang."

Itu dua contoh yang aku alamin sendiri. Masih ada sebenernya contoh-contoh lainnya. Tapi gak akan lah aku tulis semua disini. Nanti yang ada malah curhat. Hahahha.. Pokoknya semua bisa berubah. Tadinya iya, jadi enggak banget. Tadinya engga, jadi iya banget. Pasti ada alasan kenapa. Entah baca sesuatu, omongan orang yang dia percaya atau bahkan penjelasan yang tertunda. Dan waktunya, engga bentar. Bisa sejam, sehari, setahun, sewindu, sedekade atau bahkan seabad. Percaya deh, aku bahkan perlu satu windu untuk merubah sesuatu. Dan perubahan yang satu ini, yang paling lama ini, ternyata yang paling berarti. Kapan-kapan akan aku ceritakan. Sabar yaaa.. It's worth to wait.

Kalo sahabatku ini, bilangnya: Emang susah kalo mau dapet sesuatu yang kebangetan bagus.
Semua benda, hidup atau mati, pasti punya harga. Sebagian besar tergantung dari cara mendapatkannya. Kalau barang itu susah dibuat atau sangat langka, pasti harganya mahal. Ya beda lah sama harga kacang tanah yang bisa kita beli hampir dimana aja. Dan saat sesuatu berharga mahal sekali, akan banyak usaha dan pengorbanan yang harus kita hadapi. Dan untuk itu, kita butuh waktu.

Contoh:
Gampang aja deh. Kamu pengen hp keluaran terbaru. Kamu pasti bakal nabung bahkan kalo perlu kerja buat dapetin itu kan? Atau misalnya nilai ulangan. Untuk dapetin nilai yang bagus, kamu pasti belajar dari jauh-jauh hari, relain waktu nonton atau hang out cuma buat ke tempat bimbel atau duduk di meja belajar seharian. Atau mungkin contoh yang kekinian, untuk dapetin pemandangan yang bagus dipuncak gunung, kamu harus mendaki dulu, cape dan harus sabar karena itu gak sebentar. Tapi pada saatnya, kamu bakal dapet yang terbaik. Walau mungkin melenceng dari ekspetasi. Misalnya warna hp yang didapet gak sesuai sama yang kita mau, atau nilainya ternyata gak sebagus yang kita kira, atau pemandangannya gak seperti apa yang kita bayangin. Cuman mungkin, warna hp yang ini ternyata lebih serasi sama warna kesukaan kita yang lain. Jadi gak melulu itu warnanya. Atau mungkin ternyata dengan nilai segitu, kita jadi gak termasuk anak-anak yang dicurigai guru-guru karena nilainya mendadak bagus. Atau ternyata pemandangannya malah lebih indah dari yang kita kira selama ini. Gak ada yang tau.
Usaha kita yang akan dilihat untuk mendapatkan sesuatu yang bagus itu. Walau gak sesuai ekspetasi, mungkin ada banyak hikmah yang tak terduga didalamnya. Yang terpenting, usahanya.

Atau contoh lain misalnya:
Sahabatku ini laki-laki. Kebanyakan, laki-laki tuh gak bisa kalo gak punya tempat buat manja (pacar atau pasangan atau cuma gebetan malah). Katanya sih buat motivasi. Dan sahabatku ini, gak perlu banyak usaha lah buat dapetin pasangannya. Tapi gak lama dia chat aku, udah selesai sama si A. Atau nanti chat lagi isinya, si B selingkuh. Atau ada lagi isinya, si C kayaknya udah punya pacar deh. Dan chat-chat lainnya. Dan aku selalu menghela napas, kadang ngurut dada kalo dia udah curhat masalah begini. Sampai suatu hari dia cerita lagi deketin wanita lain. Katanya yang ini beda. Aku udah gak niat baca chat nya dia. Paling tipe wanitanya sama lagi. Sampai dia cerita lebih lanjut, sampai kasih fotonya ke aku. Ternyata beda. Dari foto aja, sudah terlihat dia pintar, sopan dan berkarakter. Dan wanita ini manis. Sangat manis. Untuk pertama kalinya aku mendukung seratus persen semua langkah-langkah dia. Gak gampang tapi bu, pak.. Wanita ini terlalu mahal menurutku. Tapi usaha sahabatku juga banyak sekali. Dia perlahan menunjukkan sisi positifnya. Bahkan dia mengerjakan sesuatu yang tertunda dalam waktu singkat, dengan wanita ini sebagai motivasinya. Sekarang, sayangnya belum dia mendapatkan wanita yang menurut kami sangat berharga ini. Biarlah waktu yang menjawab kawan.. Setidaknya waktu sudah melihat usahamu.

Apa hubungan dari pendapat aku dan sahabatku?
Waktu adalah jawaban dari segalanya.
Coba banyangkan, sesuatu yang menurut kita terbaik dan tak bisa kita dapatkan saat ini, akan menjadi milik kita nanti. Karena dia akan berubah. Sekalipun kita tidak mendapatkan sesuatu itu, pasti akan ada yang terbaik untuk kita suatu saat nanti.
»»  Read More...

Wednesday, 16 March 2016

08

Kelas

Ingatanku pada pukul delapan pagi lebih banyak di dalam kelas. Salah satunya di kelas TK B di TK Al-Muttaqin Tasikmalaya. Mungkin saat itu aku sedang mengucap salam pada kedua ibu guruku. Aku sudah tak begitu ingat. Apa masih ada dari kalian yang ingat mata pelajaran saat TK dulu? Palingan hanya belajar membaca dan mewarnai yang paling ku ingat. Rasanya setiap hari kami dapat majalah anak baru untuk dibaca. Oh, aku juga ingat belajar menyanyi. Tepuk polisi, tepuk sambal, tepuk tepuk yang lain yang menurutku sekarang agak memalukan untuk diingat.

Aku juga masih ingat di kelas SD-ku. Kelas 1A, 2B, 3B, 4B, 5B, 6B SD Al-Muttaqin Tasikmalaya. Pelajaran sudah dimulai setengah jam yang lalu. Masih segar apalagi kalau pelajaran pertama adalah Matematika. Tapi itu jarang. Biasanya pelajaran awal itu adalah pelajaran bahasa. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab ATAU Basa Sunda. Tapi lagi-lagi, ingatanku gak sekencang itu. Mugkin saja aku salah. Cuma seingatnya saja. 

Kalau lagi di SMP Hang Tuah 2? Di kelas 1H aku masih di rumah jam segini mah. Ngerjain PR biasanya. Soalnya aku masuk siang. Tapi masuk kelas 2E dan 3F, jam segini tuh udah jamnya ngantuk. Gimana gak ngantuk? Aku udah siap di sekolah dari jam 05.30. Udah dua jam setengah menerima banyak sekali informasi. Dari mulai gosip baru, sudah dihukum dan menghukum, sudah Pendalaman materi (kelas 3), sudah lelah rasanya. Apalagi kalau guru pelajaran pertama ini membosankan. Sekali-kali aku ijin ke kamar mandi sekedar untuk mencuci muka dan membuang waktu agar cepat-cepat ganti jam pelajaran.

Kelas X-3, XI-IA-5, XII-IA-5 SMAN 47 Jakarta. Jam 8 adalah jam yang paling ditunggu karena jam pergantian pelajaran. Tapi masih belum istirahat. Setidaknya jam 8 adalah waktu untuk peregangan sedikit. Kalau lagi masa Studienkolleg di Nordhausen, jam 8 ini pasti aku udah serius banget dengerin guru ngomong. Dijamin susah ngantuk sih. Sekarang? Kalo lagi kuliah pagi, ya jam delapan udah di kelas, tapi masih santai. Masih awal bab atau dosen baru menyapa.

Kalau libur? Lain lagi ceritanyaaaa.. Aku masih depan laptop. Masih asik sama dunia aku. Kuping masih disumpel sama lagu favorit. Mata masih asik liat layar laptop. Kopi masih ada walau sudah mendingin. Tapi otakku sudah mulai banyak berpikir.

»»  Read More...

Tuesday, 15 March 2016

07

Selamat Pagi!

Waktu ini sangat cocok untuk mengucapkan kata "selamat pagi!". Apalagi kalau diucapin langsung dan diiringi seyum. Dijamin orang yang dapet ucapan itu langsung semangat. Aku punya tiga cerita untuk waktu ini. Seperti biasa aku akan melihat waktu yang dulu. Saat aku masih sekolah.

Saat sekolah, jam pagi adalah waktu yang idealnya sudah di kelas. Aku sudah rapih menggunakan seragam sekolahku. Dipastikan sudah sarapan walau hanya beberapa suap kalau sudah kesiangan. Karena aturan kesekian di rumahku adalah, dilarang melangkah dari gerbang rumah sebelum sarapan atau setidaknya membawa bekal dan berjanji akan sarapan. Aku si gak mau ribet bawa bekal, pasti menyendokan beberapa suap nasi ke mulutku sambil masih bersiap di depan cermin. Atau kalo super duper sangat kesiangan, mamah biasanya membawa piring sambil menyuai anak-anaknya. Oh, tak lupa dengan ceramah paginya yang hanya bisa kita jawab "iya, maaa..".

Beda lagi saat awal kuliah. Jam tujuh, walau kadang belum muncul tanda matahari, aku harus memaksa mataku untuk bangun. Karena jika aku telat bangun pada waktu ini, maka aku akan telat atau sama sekali tidak masuk kelas pagi. Rutinitas pagi ku adalah duduk sebentar sambil "ngumpulin nyawa", lalu aku ke dapur masak air sambil raga ku ke kamar mandi untuk bersiap. Bila masih ada waktu, aku sarapan dulu sambil menunggu waktu tepat untuk mengejar tram. Tentunya sarapan roti/pisang dan kopi. Kalau sudah tak sempat, maka keluarlah si termos dari lemari. Mungkin bawaan aturan keluarga, tidak sarapan sama saja cari penyakit. Jadi walaupun kesiangan, kopi, air putih dan bekal sarapan tersimpan rapih di tas. Kalau yang ini tidak sempat juga? Aku mampir ke toko roti dekat kampus. Dimakan dan diminum di kelas. Bebas merdeka. Asalkan aku sarapan dan tidak jadi sakit.

Kalau libur atau ga ada kuliah pagi? Aku seringnya sudah bangun dan sudah ditemani kopi panas dan roti manis (bolu, kue, atau roti isi nutella atau apa kek yang manis-manis). Duduk di depan laptop. Sebentar menonton vlog sacconejoly. Lalu membuka BiruBicara sekedar mengecek komentar atau apapun. Lalu menulis. Entah apa yang ditulis. Sebuah cerita, atau sebuah sapaan "selamat pagi" untuk seseorang.
»»  Read More...

Monday, 14 March 2016

06

Briefing.

Dulu saat aku masih memakai seragam putih-biru, aku masuk ekstrakulikuler paskibra. Pasukan Pengibar Bendera. Peraturan di ekskul itu sangat ketat. Ditambah lagi sekolahku yang masih dibawah yayasan angkatan laut. Dan ditambah lagi pembina paskibra ku (yang kebetulan adalah tetanggaku) yang sangat disiplin. Jadilah aku termasuk juga anak yang lumayan disiplin akan waktu. Ya setidaknya sekarang kalo janjian denganku, jarang lah aku pakai waktu Indonesia, yang biasanya +1 jam dari waktu janjian.

Jam enam adalah waktu pengibaran bendera merah putih untuk anak paskibra dan pramuka di sekolahku. Setelah itu kami briefing. Apalagi saat aku menginjak kelas dua dan memegang peran lumayan penting di organisasi sekolah. Semakin lah aku wajib datang di sekolah bahkan sebelum waktu menunjukkan pukul enam pagi. Untungnya rumahku tak jauh dari sekolah. Bisa jalan kaki, naik angkot, atau yang paling ekstrim, ikut tetangga (alias pembina yang super disiplin). Masuk kelas tiga, jam enam aku sudah belajar di kelas. Pendalaman materi. 

Selagi sma, jam enam adalah waktu terlama aku keluar rumah. Karena kalau keluar setelah jam enam, kemungkinan besar aku butuh waktu lebih lama untuk mencapai sekolah. Tidak, tidak begitu jauh jarak rumah ke sekolah. Tapi macetnya jakarta, kau sudah tahu lah... Sekarang? Aku tak jarang juga bangun pukul enam pagi. Tapi setelah itu merasa masih begitu pagi untuk beraktivitas. Jadinya aku kembali menarik selimut, menghilangkan rasa dingin yang menusuk.
»»  Read More...

Sunday, 13 March 2016

05

Riweuh.

Ngerti riweuh gak yang bukan orang sunda? Riweuh itu artinya repot atau heboh. Flashback lagi ke jaman masih di rumah dulu. Repot kalo udah jam segini. Gantian mandi. Ada yang udah sarapan. Ada yang masih di kasur. Aku biasanya masih duduk diatas sejadah, udah mandi, tapi belum ganti seragam. Anak si papah itu tiga orang perempuan. Anak pertama kalo mandi bisa lama banget. Bisa setengah jam sendiri. Aku anak kedua. Normal lah, walau kadang mamah suka curiga kalau aku gak mandi. Karena aku termasuk yang cepet. Adik ku, anak ketiga papah, selalu harus di teriakin untuk mandi pagi yang bener. Karena dia termasuk golongan orang yang malas mandi.

Sekarang? Ditanah perantauan yang sendiri. Aku merasa hidupku lagi gak beraturan. Jam lima ya aku masih tarik selimut sampai kepalaku tertutup. Jangan ditiru kawan, aku saja lagi benci sama keseharianku yang sekarang. Aku harus berubah sebisa mungkin. Setidaknya punya jadwal sendiri. Kadang aku memaklumi caraku ini karena aku tau waktu sholat disini sering kali berubah. Sehingga aku tak punya jadwal pasti untuk jam biologisku. Sebenarnya aku sendiri kasihan sama badanku ini. Maaf aku ya, niw..

Hidupku lebih teratur memang saat aku bersama mamah. Aku memang anak mamah yang katanya paling manja. Kata mamah, darah biru sepertinya sedikit mengalir di saluran darahku. Waktu aku pulang ke Indonesia kemarin, hidup aku selama dua bulan itu teratur. Mau tidur semalam apapun, mataku selalu terbuka saat waktu menunjukan pukul lima pagi. Dengan sendirinya ataupun dipaksa terbuka karena mamah membangunkan aku. Lebih sering aku malu jika aku bangun lewat dari jam lima pagi. Keponakan aku yang lucu saja sudah riang menyanyikan lagu anak, masa aku masih tertutup selimut?
»»  Read More...

Saturday, 12 March 2016

04

Batas.

Batas aku tidur atau aku bangun. Jika aku masih terjaga dan pikiran aku sedang berkeliaran, maka aku membatasi sampai pukul empat ini. Aku harus berhenti dan mulai mencoba untuk tidur. Jika aku terlalu lelah di malam hari dan memutuskan tidur cepat, maka aku akan pasang alarm yang akan membangunkanku pada pukul empat.

Jika aku masih terjaga sampai pukul empat, artinya ada yang salah dengan diriku. Ada pikiran yang mengganggu aku. Membuat hidupku semakin tidak sehat. Biasanya membuat keesokan harinya aku mengulang pola tidur yang salah. Biasanya membuat badanku menjadi tidak enak, lalu aku terkapar sakit.

Pernah juga jam empat itu menjadi batas aku tidur. Aku bahkan pernah harus pergi jam empat subuh. Sudah sibuk ke kamar mandi dan menelepon taksi padahal langit masih gelap. Biasanya itu terjadi di hari-hari yang penting. Banyak. Misalnya sportfest atau acara penting lain seperti pengajian di luar kota. Itu yang sekarang-sekarang. Dulu, lebih sering ketika mau mudik ke Bandung. Tepat di hari Idul Fitri. Atau sudah sibuk karena ada acara penting seperti nikahan, aqiqah, sunatan atau apapun.

Jam empat itu masih gelap, walau kadang kita sudah melihat langit tak segelap malam. Masih sejuk sekali. Jika membuka jendela atau keluar rumah, rasa segar tiba-tiba terasa. Di Jakarta dulu, senang aku jika membuka pintu rumah pada waktu ini. Karena aku bisa mendengar lebih jelas suara orang mengaji dan berdoa dari mesjid. Menyambut waktu subuh diiringi dengan bunyi ayam tetangga dan burung kenari piaraan papah yang berlomba berdzikir pada-Nya.
»»  Read More...

Friday, 11 March 2016

03

Waktu sahur.

Alarm bunyi dimana-mana. Bahkan terkadang aku bisa mendengar suara alarm tetangga (lebay). Tak jarang aku dengar pemuda sekitar membangunkan tetangga lainnya. Suara pukulan tiang listrik bergema membuat tidurku terganggu. Tentu saja suara-suara itu kalah dengan wangi dendeng dan nasi hangat yang tercium dari dapur. Pintu kamar ku pasti sudah terbuka sebelum mamah mulai menghangatkan makanan sahur. Televisi di ruang tengah sudah dinyalakan dengan suara yang tak kecil. Memaksaku berdiri untuk mencuci muka dan menjadi contoh yang baik untuk adik tercinta.

Itu dulu. Saat aku masih tinggal di atap yang sama dengan mamah, papah, kakak, dan adik. Sekarag berbeda. Bahkan bukan pukul tiga waktu sahur disini. Berganti-ganti. Tapi saat aku melihat jam dinding yang menunjukan pukul tiga dini hari. Itulah memori yang terlintas di kepalaku. Wangi dendeng dan nasi hangat. Dinginnya udara pagi. Bunyi nyaring alarm ponsel atau alarm manusia di luar sana. Sentuhan tangan kakak atau mamah di lenganku yang bergantian mencoba membangunkan aku. 

Masa ini? Mungkin pada pukul tiga dini hari aku ada di alam mimpi. Entah mimpi indah yang akan kuingat terus. Atau mimpi buruk yang membuat tidurku tidak nyenyak dan merasa lelah keesokan harinya. Untuk kesekian kalinya aku bilang, sekarang aku berubah. Mungkin tak menjadi lebih baik. Tapi perubahanku beralasan. Karena kebutuhanku pun mulai berubah. Waktu juga yang membuat aku berubah. Bukan, bukan hanya aku. Tapi kita semua.
»»  Read More...

Thursday, 10 March 2016

My Trip My Adventure

Perjalananku, Petualanganku.

Hitz banget deh kalimat ini. Apalagi di kalangan remaja Indonesia. Mungkin gara-gara ada acara itu di salah satu stasiun televisi ternama di tanah air kita. Acara yang nunjukin petualangan beberapa artis yang hobi berpetualang. Indonesia kan emang indah, mereka mengiklankannya dengan apik, rapih, cerdas. Makanya jadi banyak deh orang-orang indo yang jadi lebih cinta Indonesia. Lebih pengen juga melihat alam Indonesia secara langsung. Timeline Path sama Instagram pun jadilah penuh sama orang yang naik gunung ini itu, ke pantai ini itu, sama tulisan-tulisan berbau "I love Indonesia". Bikin baper tau gak?! Bikin kangen Indonesia. Huhuhuuhu..

Nah, sampai tadi pagi lah aku ngobrol sama seseorang nun jauh di pulau tempat aku dilahirkan. Ngobrolin masa depan. Beuh, beraaatt. Kita rencanain ini itu, kita tau itu semua gak gampang. Harus bener-bener usaha. Semuanya harus disiapin dulu. Mulai dari fisik, batin, modal, ini itu yang lainnya juga. Semua diperkirakan. Semua punya rencana-kedua-nya juga kalau-kalau (amitamit) gak tercapai. Rencana yang belum pernah kita lihat orang melakukannya. Belum punya contoh yang beneran mirip-mirip kayak kasus kami.

Jujur, aku terlalu bersemangat. Aku pengen banget langsung ada di rencana besar kita itu. Tapi semuanya harus berawal dari sabar dan persiapan yang se-ok-mungkin. Semuanya harus mateng dulu sampai saat kita ada di waktu itu. Sekarang kita masih ditahap 'bermimpi". Menggambarkan semua yang akan terjadi. Mungkin yang suatu hari nanti kita ada disana. Aamiin. Lalu aku pikir, inilah petualangan yang sebenernya. Petualangan hidup kita. 

Apa coba arti Petualangan? Sayang sekali aku lagi gak ada internet di rumah, jadi ga bisa buka KBBI online lagi. Tapi setauku petualangan itu artinya sebuah perjalanan yang kita persiapkan, jalankan dan jadi kenangan suatu hari nanti. Bukan, bukan cuma petualangan pergi naik gunung atau menyusuri tepian salah satu pulau di bumi Allah. Petualangan artinya hidup dengan perencanaan, peng-amal-an yang baik, bonusnya: kenangan manis. 

Rencana. Manusia emang cuma bisa berencana. Kita gak tau apa yang akan terjadi satu detik kedepan. Bahkan mengetik pun, kita bisa aja maunya ngetik apa, tapi yang kepencet apa. Typo itu mah, niw! Hahahhaha... Tapi ya iya dong bener? Rencana kita gak berjalan semulus yang kita bayangkan, tapi bisa kita rubah, kita ulang atau apapun, sampai akhirnya kita sampai pada gambaran awal kita. Sampai akhirnya rencana kita, cita-cita kita tercapai. Nah, yang suka typo (kayak niwi), apa masih mau melepas semua gambaran atau rencana awal kamu? Emang susah. Kadang kita gak rela menghapus apa yang udah kita tulis, tapi kalau itu gak sesuai, apa mau kita pertahanin? Kadang kita kesel banget kan kalo typo? Tapi apa yang salah itu bisa bisa dimengerti orang? Kita harus meralatnya kan? Orang juga, orang bakal maklum. Mungkin ada yang mencemooh. Tapi sebenernya mereka mengerti apa maksudmu, mungkin mereka hanya mengingatkan kalau kamu sebenarnya salah.

Peng-amal-an yang baik. Butuh usaha dalam setiap rencana yang sudah kita buat. Ini yang berat. Karena mempraktekan semua yang sudah direncanakan dan digambarkaan gak akan semulus dan semudah itu. Butuh riset dulu sebelumnya. Butuh latihan dan kesiapan mental yang kuat. Bukan cuma mental sih. Fisik juga. Karena yang namanya praktek kan butuh gerak yang cuma bisa dilakuin sama raga kita ini. Kalo prakteknya ini mulus, lancar, tanpa hambatan, artinya kita tinggal langsung nikmatin hasilnya. Tapi ingat kawan, mulus bukan berarti gak berat. Mulus bukan berarti tanpa peluh dan sabar. Kalo gak mulus? Padahal kita udah usaha sekuat mungkin. Memeras peluh, menanam sabar, mengikis raga, tapi hasilnya tak seperti gambaran kita. Artinya, ada dua yang kurang kawan.

Karena hasil itu punya rumus sendiri. RENCANA+USAHA+DOA+KEPERCAYAAN=HASIL. Mungkin bagi pemeluk agama islam, kenal yang disebut kata TAWAKAL. Rumusnya jadi lebih simpel, RENCANA+TAWAKAL=HASIL.


RENCANA= mimpi dan gambaran awal kita.
USAHA= pergerakan fisik, batin dan mental untuk mewujudkan gambaran awal.
DOA= karena hanya tuhan yang mengatur segala sesuatu yang terjadi di bumi ini.
KEPERCAYAAN= percaya yang kamu mimpikan itu sesuatu yang baik dan akan terwujud suatu saat.

TAWAKAL
1. adanya cinta. Kalau cinta, sudah percaya
2. adanya usaha
3. adanya ketetapan hati (bahwa Allah itu Maha Esa)
4. menyandarkan hati hanya pada Allah
5. berbaik sangka
6. pasrah
7. mengharapkan, menyerahkan, mewakilkan segalanya pada Allah.

Jadi yang kurang apaaaa? Iya, kurang doa sama kurang percaya. Gak perlu lah ya dijelasin. Karena bisa panjang banget uraiannya, kalo mau tau sudut pandang aku tentang doa dan kepercayaan, email aja email, atoga line, atau apakek. Hahahhaha.. Engga, aku gak mager nulisnya kok, cuma terlalu jauh aja jadinya bahasannya. Nanti aku malah jadi terkesan sok tau juga. Padahal cuma ngutarain pendapat doang.

Kalo semuanya udah dilakukan, pasti ketemu hasil. Walau mungkin agak berbeda dari gambaran awal kita, tapi ada pastinya hasil yang terbaik untuk kita. Sesuatu yang kita inginkan, bukan berarti yang terbaik buat kita. Sesuatu yang kita benci, bukan berarti yang terburuk untuk kita. Makanya jangan suka bilang: "ah, gue gak suka itu" atau "gila gila, gue mau banget itu deh, harus banget punya/dapet/jadi itu". Pokoknya jangan "terlalu" sama sesuatu. Soalnya manusia mudah sekali kecewa.

Hasil apapun nanti yang ada di depan, itulah hasil dari petualanganmu. Indah. Apapun itu. Indah. Ketika kamu diam sejenak dan melihat memori yang kamu punya untuk menghasilkan apa yang kau lihat sekarang, tak ada rasa yang seindah itu. Memori yang baik atau yang buruk, ketika kau kembali melihatnya, kau hanya tersenyum. Karena semua tak bisa diulang, semua akan hanya jadi kenangan dan pembicaraan saja. Masa buruk pun bisa membuat kamu tertawa kelak.

Intinya apa sih niw lu nulis panjang begini?
Intinya, nikmati petualanganmu. Nikmati hidupmu. Nantikan apa yang kamu gambarkan waktu itu. Gambaran di otakmu kelak akan jadi kenyataan. Berusaha dan berdoa itu penting. Walau pun segala sesuatunya sudah ditetapkan. Percayalah apapun yang jadi ketetapan-Nya, adalah yang terbaik untukmu. Semangat kawan! Buatlah petualangan hebat yang akan jadi cerita untuk anak-cucu kita kelak. Untuk jadi sebuah pengalaman. Untuk jadi bahan riset seseorang ketika mereka baru akan berusaha. Semua ada di kamu. Tingkat keseruan petualanganmu, ada di tanganmu sendiri. Pilihannya cuma dua:

Petualangan yang seru?
atau 
Petualangan yang biasa?

ditulis, 09.03.2016
»»  Read More...

02

Sepertiga malam.

Banyak manusia sudah terlelap di waktu ini. Padahal teorinya, waktu ini adalah waktu yang tepat untuk meminta, pdkt, mengeluh, dll. Pada siapa? Pada Allah. Pada Yang Maha Esa. Tapi, banyak kah diantara kita yang menjalankan rutinitas ini? Masih banyak kah manusia yang menjadwalkan waktu ini untuk bermunajat padanya?

Aku mau sedikit bercerita masa SMA ku. Aku rutin tidur setelah isya. Atau malah sebelum waktu isya kalau aku sudah di rumah. Lalu alarm ponsel ku selalu membangunkan aku pada pukul dua dini hari. Tak susah bangun pada waktu ini. Karena biasanya mamah pun sudah bangun dan terdengar aktifitas di dapur. Mugkin juga sudah kebiasaan, jadi tidak susah menjalankannya. 

Biasanya aku langsung ke dapur untuk menyeduh segelas kopi instant. Lalu ke kamar mandi untuk membasuh wajah dengan air yang sejuk. Bahkan aku berwudhu. Lalu aku sedikit mengobrol dengan mamah di dapur, bercerita ini dan itu karena pada malam hari aku sudah begitu lelah untuk cerita. Lalu kami masuk kamar masing-masing sambil menaruh kopi yang hangat. Menggelar sajadah, lalu bermunajat pada-Nya. Itu rutinitasku dulu saat sma.

Suatu hari aku pernah bercerita masa ini pada salah satu sahabatku. Dia langsung saja jatuh cinta. Jatuh cinta pada rutinitasku dulu. Rutinitas yang sayang sekali saat ini sudah aku tinggal kan. Hanya sekali dua kali aku bisa tidur tepat waktu. Entah apa alasannya. Tapi aku jujur, sedih. Ingin sekali aku hidup teratur. Ingin sekali aku tak meninggalkan rutinitas itu. Ingin sekali aku kembali ke masa itu. Atau setidaknya, otak ku bisa mengembalikan jam biologis ku yang dulu. 
»»  Read More...

Wednesday, 9 March 2016

01

Masih terjaga.

Biasanya aku mulai kesal dan lapar. Ada dua pilihan. Tidur atau ikuti keinginan. Ada dua keinginan biasanya. Masak atau menyalakan lagi laptop yang sudah mati. Biasanya butuh 15 menit untuk aku berpikir pilihan mana yang akan kupilih. Kalau aku benar-benar mengatuk, dalam 15 menit itu aku sudah terlelap. Sudah berkeliaran di alam lain. Tapi jika mataku masih belum seberat itu, aku biasanya membutuhkan lima menit lain untuk memutuskan pilihan lain.

Perutku biasanya membantu di lima menit tambahan ini. Kalau dia benar-benar butuh diisi, dia akan bernyanyi dengan nyaring. Jika nyanyian itu terdengar, aku bangkit lagi dari kenyamanan. Membuka selimut tebalku, duduk sebentar karena aku punya gangguan darah rendah yang membuatku harus bangun bertahap. Lalu aku berjalan menuju dapur. Melihat meja tempat aku menyimpan makanan. Jika ada pisang, kulahap habis satu buah. Kalau tak ada, terpaksa aku mengoles roti tawar dengan selai coklat-kacang. Jika pisang dan roti tak ada, aku bereksperimen dengan isi kulkas ku. Jika perutku masih bernyanyi, ku tuang segelas susu dingin ke galas, dan meneguknya cepat.

Bagaimana kalau perutku tidak bernyanyi? Aku tak bergerak dari posisiku. Menyalakan kembali laptop yang sudah kumatikan sejak dua jam yang lalu. Aku buka browser favorit ku, lalu mulai mencari tontonan yang kira-kira bisa membuatku mengatuk. Biasanya kuserahkan pada film kartun jaman kecil. Pokoknya film yang sudah pernah ku tonton, biar aku tak penasaran dengan alur kisahnya. Biar aku tertidur pada seperempat pertama film tersebut.

Ada kalanya aku tak mau menonton. Sehingga aku sumbat kedua telingaku dengan lagu kesukaan. Membiarkan otak ku bekerja dengan liar. Terkadang membuat kesepuluh jemari ku bekerja sampai pagi. Kalau sudah begitu, otakku membuat semua jadwal jadi kacau. Tapi setidaknya aku senang karena aku membuat dini hariku lebih produktif.

Dari semua pilihan di pukul satu pagi ini. Tentu saja aku lebih suka jika otak dan badanku memilih untuk tidur. Karena memang badan manusia butuh tidur pada waktu tersebut. Karena aku manusia yang ingin punya hidup teratur. Aku masih mencoba dan terus mencari cara yang tepat untuk terlelap di waktu yang juga tepat. 

Mungkin kau punya saran?
»»  Read More...

Tuesday, 8 March 2016

00

Tengah Malam.

Aku biasanya belum tidur. Masih terjaga. Masih menggenggam telepon genggam ku. Biasanya aku membuka semua sosial media yang kupunya. Berputar dari mulai path, instagram terkadang mengecek chat di line. Lampu kamar masih menyala. Kadang lilin beraroma sedikit lavender pun menyala. Aku tak suka jika kamarku dingin dan gelap. Mengingatkan pada masa kelam waktu dulu. 

Harusnya aku sudah terlelap. Tapi karena satu dan lain hal, aku terpaksa terjaga. Waktu ngantukku sudah lewat tadi pukul 22. Banyak sebabnya, bisa saja karena mengobrol, bosan lalu menonton film sampai waktu tidurku terlewat, atau yang paling penting biasanya karena aku masih mengerjakan sesuatu. Tapi saat aku sadar sudah masuk tengah malam, biasanya aku mengambil wudhu, melakukan rutinitas sebelum tidur, lalu masuk selimutku yang luar biasa tebal.

Bukannya aku tak mencoba tidur. Tapi memang sulit jika waktu tidur mu sudah lewat. Biasanya aku berjanji untuk tidak mengulangi lagi esok hari. Aku berusaha setiap hari untuk tidur sebelum pukul 00 tiba. Ya, seperti biasa, manusia hanya bisa merencanakan.Tapi wanita tak tegas sepertiku biasanya mengulang kembali kesalahan yang sama untuk sekian kalinya. Maafkan aku. Aku akan selalu berusaha jadi wanita yang lebih tegas.
»»  Read More...

Monday, 7 March 2016

Rund um die Uhr

Artinya: 24 jam.

Setelah menyelesaikan si komitmen #ceritaalfabet, aku sempat berhenti sejenak. Istirahat. Dan memang lagi ada urusan ini dan itu, pikiran kemana-mana, urusan hati juga lagi gak fokus banget, emosi meledak-ledak, dll dll deh kayak ABG pokoknya. Mungkin ya, mungkin, disebabkan oleh hormon wanita yang seenaknya ngobrak-ngabrik mood disetiap bulannya. Terimakasih.

Akhir pekan lalu akhirnya aku punya waktu istirahat di rumah. Berniat emang gak ngapa-ngapain. Cuma pengen gogoleran (tidur-tiduran), nonton atau ngobrol-ngobrol doang. Lalu emang cuma butuh istirahat sedikit, otak nih udah liar pas hari Minggu siang. Udah pengen banget nulis. Akhirya, walau badan rasanya masih pengen istirahat, si jari sama otak kerja. Iya, badannya tetep di kasur. Kalo orang liat mungkin bakal mikir: "Si Niwi mager banget sih seharian ini!"

Sebenernya tema ini udah aku tentukan dulu pas si #ceritaalfabet muncul. Biar aku nulisnya masih bertema, ga terlalu kesana kemari. Masih ada latarnya lah seenggaknya. Tapi pas kemarin mulai nulis, ternyata dalam setiap tulisanku ada kenangan yang muncul. Kenangan yang aku inget di waktu-waktu tertentu. Sekaligus jadi renungan dan sebuah instropeksi diri. Aku lebih banyak bercerita dan mengulang kejadian-kejadian masa lalu. Beda sama #ceritaalfabet yang melihat sudut pandang benda.

Hari ini pun menurutku lebih produktif. Mungkin setelah aku menulis bagaimana aktivitasku dan bagaimana aktivitasku yang SEHARUSNYA, aku jadi tersindir sendiri. Aku malu sendiri dan aku mencoba berubah. Aku ingin jadi pribadi yang lebih baik. Semoga saja bukan hanya aku yang tersindir dan mau berubah. Semoga kalian sebagai pembaca pun ikut tergerak. Bukan, bukan mau menggurui atau apapun, aku cuma ingin sharing. Aku cuma ingin mencambuk diriku sendiri. Maaf jika kalian tersindir atau tercambuk. Aku tidak bermaksud. 

Selamat menikmati BiruBicara edisi "Rund um die Uhr" yaaaa.. Kritik dan saaran bisa langsung di komentari di kolomnya, atau kalau mau lebih privat, boleh di line saja. ID: niwiarti28.

Salam,
Niwiarti.

»»  Read More...

Sunday, 28 February 2016

Zebra

Kali ini sebuah nama hewan.
Hewan yang identik dengan warna unik.
Garis hitam putih yang jelas.
Entah hitam diatas putih
atau putih diatas hitam.


Walau tak jelas mana yang dominan,
setidaknya perbedaannya sangat jelas.
Karena dua warna itu saling bertentangan.

Dalam hidup juga harusnya jelas.
Mana baik dan mana buruk.
Sekarang semuanya sudah tercampur.
Kita tak tau benar hati seseorang.

Memang tak ada yang sempurna dalam hidup.
Si putih selalu punya noda hitam.
Si hitam juga pasti bebercak warna putih.
Tapi setidaknya kita mau memilih sisi.
Di sisi hitam atau sisi putih.

Tak ada paksaan untuk memilih.
Kita hanya lupa akan pilihan kita sendiri.
Kita harus lebih banyak mencari tau.
Supaya semuanya lebih terang.
Dan kau ingat sisi mana yang sudah kau pilih.

Sekarang lebih mudah kita untuk mencari tau.
Membaca. Mendengar. Melihat.
Berusahalah untuk tidak terpatok pada satu sumber.
Lihat sekitarmu, luas, tak berbatas.
Lama-lama kau akan bisa melihat perbedaannya.

Seperti aku.
Sekarang aku melihat Zebra berwarna putih.
Tapi bukan Zebra namanya jika tak bergaris hitam.
Manusia pun begitu.
Semuanya baik, semuanya bersih.
Tapi bukan manusia jika mereka tidak bernoda.

»»  Read More...

Saturday, 27 February 2016

Yakin

Saat kata yakin muncul,
artinya kita sudah percaya
dan mau bersungguh-sungguh atas sesuatu.
Apapun itu.
Mulai dari pilihan, hubungan dan masa depan.

Kenapa kita bisa yakin dalam memilih sesuatu?
Memang tidak ada yang sempurna dalam hidup,
tapi kita mencari sesuatu yang bisa menyempurnakan.

Kita lakukan penelitian.
Kita gambarkan hidup yang akan kita pilih.
Kita catat baik dan buruknya.
Kita ingin ada di kebaikannya.
Kita berani menaklukan keburukannya.

Kadang manusia heran dengan pilihan kita.
Kenapa harus dia?
Apa yang kamu lihat dari dia?
Akankah kamu bahagia dengan dia?
Ya, manusia sekitar kita mungkin terlalu peduli.

Sebuah keyakinan itu butuh gambaran.
Sangat memerlukan fakta-fakta dari setiap penelitian.
Selalu bergantung pada bukti.


Yakin itu harus cerdas.
Tidak tutup mata hati telinga
ketika kenyataan pahit tiba.
Yakin itu harus tegas.
Saat manusia berkata tidak
kau punya alasan untuk tetap.

Setidaknya setiap pilihan punya mimpi tersendiri.
Kau punya jalan keluarnya sendiri.
Kau punya usaha untuk meyakinkan manusia lain.

Saat kau punya gambaran masa depan.
Ikut sertakan manusia yang ada di sekitarmu.
Karena bersama mereka kau raih masa depan.
Karena mungkin mereka ingin punya
masa depan yang cemerlang bersamamu.
»»  Read More...

Friday, 26 February 2016

X

Lagi-lagi aku gak menemukan kata yang tepat.
Cuma kata serapan lagi yang kutemukan.
Itu pun aku gak tau makna-maknanya.
Aku buka lagi Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Ternyata X punya arti sendiri.
Sebagai huruf ke-24 abjad Indonesia.
Lambang bilangan sepuluh angka Romawi.
Sebagai pengganti nama orang.


Setidaknya aku jadi tau,
yang sendiri pun punya arti banyak.
Bahkan sering digunakan.
Bahkan bisa menjadi simbol.

Dengan huruf ini aku baru sadar,
aku sudah 24 hari mengeluarkan tulisanku.
Sudah 24 kata yang aku deskripsikan.
Walau kadang terasa berat, sulit, lelah.
Tak akan aku berhenti sampai huruf ke-24.

Mungkin 24 menjadi bilangan yang penting tahun ini.
Di tulisan ini aku baru benar-benar sadar.
Dengan X sebagai huruf ke-24
dan aku sempat bingung tak berarah.
Tapi akhirnya terciptalah tulisan ini.

Tahun ini, tahun X aku.
Iya, tahun ke-24 hidupku.
Aku berhenti sejenak untuk mengarahkan tujuan hidup.
Aku tau akan ada banyak yang berarti di tahun ini.
Dan aku akan berusaha terus walau rintangan disana-sini.
Hingga aku sampai pada tujuanku itu.
»»  Read More...

Thursday, 25 February 2016

Wanita

Kebetulan aku lahir sebagai bayi perempuan.
Direncanakan untuk menjadi seorang wanita.
Seorang yang diistimewakan,
menjadi tanggung jawab,
dan yang bertanggung jawab.

Wanita adalah perempuan dewasa.
Dia biasanya sudah ditempa.
Baik akal dan fisiknya.
Apalagi batinnya.


Mengapa wanita itu istimewa?
Bayangkan saja,
wanita selalu diberi waktu istirahat
minimal sekali dalam sebulan.

Kadang aku merasa tak mudah jadi wanita.
Aku sering mendengar diriku berdebat.
Padahal aku sendirian.
Iya, perdebatan akal dan batin.

Aku dituntut untuk menjadi orang baik.
Ditunggu untuk jadi orang pintar.
Kadang dimanja karena aku istimewa.
Tapi juga dilatih untuk menjadi seorang yang kuat.

Orang tua ku punya tanggung jawab besar.
Mereka harus bisa membagi waktu
memanjakan dan juga melatih dengan tegas.
Karena ketiga keturunannya seorang wanita
yang akan menjadi panutan generasi baru.

Aku masih harus berusaha untuk mencapai tahap itu.
Tahap dimana aku bisa menjadi seorang wanita.
Disaat aku harus memberi contoh
sekaligus mendidik keturunanku.

Terimakasih untuk orang-orang disekitarku.
Menjadi sandaran untuk aku yang lemah saat ditempa.
Menjadikan aku merasa istimewa.
Dan menunggu aku menjadi seorang wanita.
»»  Read More...

Monday, 22 February 2016

Uang

Sekali lagi aku cek Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Uang adalah alat tukar yang sah.
Uang adalah harta atau juga kekayaan.
Menurutku akal ku,
uang adalah segalanya.

Bukan aku bergantung pada uang.
Bukan aku selalu bergantung pada kekayaan.
Tapi aku heran,
kenapa segalanya harus selalu melulu bergantung pada uang.

Uang itu alat tukar.
Uang itu kotor.
Itu yang aku pelajari dulu sekali saat aku TK.


Dulu orang tuaku melaminating beberapa uang di rumah.
Untuk kami belajar menukar uang dengan barang di warung.
Beberapa warung di daerah rumah kami juga maklum.
Mendukung kami belajar tukar menukar dan kebersihan.

Tapi sekarang yag aku tau,
uang bukan hanya sebagai alat tukar.
Uang itu berarti kekuasaan.
Dan kotornya uang,
bahkan bertambah maknanya dalam pikiranku.

Jika kau mau hidup makmur di dunia,
uang adalah segala solusinya.
Kesehatan, makanan, pendidikan, bahkan kebahagiaan,
semua didapat karena kamu punya uang.

Iya. Bahkan kebahagiaan didapat karena uang.
Mungkin juga semua rasa cinta dan sayang,
hanya akan didapat seutuhnya jika kau punya uang.
Dan aku mengutuk itu.

Aku benci sejujurnya.
Semuanya berkiblat pada materi.
Memang iya setelah kupikir beberapa kali,
tapi juga banyak faktor yang lebih besar dari itu.

Semuanya berputar seperti roda.
Saat kau sehat kau dapatkan uang.
Dan karena uang kau juga sehat.
Hanya jangan sampai roda itu berhenti.
Jika roda itu berhenti,
mungkin kau akan mati.

Akal ku berkata,
faktor lain lah yang membuat roda itu tidak berhenti.
Jadi yang jadi kuasa sebenarnya bukan uang.
Tapi kuasa si pemutar roda.
Mungkin hati nurani, sifat, cinta, apapun.

Sekarang begini,
semakin besar roda makin besar juga usaha si pemutar.
Untuk apa jika kau punya roda besar,
jika kau tak tau cara bijaksana untuk memutar roda itu?
»»  Read More...

Saturday, 20 February 2016

Salah




Apa yang kamu rasakan kalau kamu melakukan kesalahan?
Kamu pasti akan merasa gak enak hati.
Sengaja atau tidak kesalahan itu kamu lakukan.
Besar atau kecilnya rasa gak enak yang kamu rasakan.
Dan kapan rasa gak enak hati itu muncul.

"Aturan itu untuk dilanggar."

Ada sebagian orang menerapkannya.
Merekalah yang sengaja berbuat salah.
Mereka seperti punya aturan sendiri di pikirannya.
Atau ada juga yang punya kepuasan sendiri,
kalau sudah melanggar aturan.

Kelompok ini,
gak punya rasa 'gak enak hati' saat melakukan kesalahan.
Tapi mereka akan merasakannya kelak.
Saat mereka tau itu salah,
atau saat mengenang masa lalu.
Setidaknya, mereka akan punya rasa malu.

Kelompok lainnya adalah orang yang kepepet.
Melanggar aturan karena mereka tak mampu.
Biasanya, kelompok ini punya rasa gak enak hati yang besar.
Dan rasa itu muncul seketika saat mereka lakukan kesalahan.

Kelompok ini akan membuat alasan.
Bohong demi pemakluman atas kesalahannya.
Tapi mereka selalu gelisah saat melakukannya.
Karena mereka tau pelanggaran yang mereka lakukan.

Kesalahan itu bisa dimaklumi,
jika pelanggarnya masih belum mengerti.
Kesalahan bisa dimaafkan,
jika si pelanggar benar-benar menyesalinya.

Kesalahan bisa di hapus,
benar-benar diampuni.
Ibarat tulisan atau gambar,
kesalahan bisa dihapus.


Jika kesalahan benar-benar tak bisa dihapus,
mereka harus menggantinya.
Mengganti yang dengan lembar baru,
atau menjalani hukuman yang setimpal.

Jika si pelanggar merasa bersalah,
artinya dia masih orang yang baik hatinya.
Dia akan menyadari kesalahnnya,
dan berusaha tidak mengulanginya.

Tapi jika dia belum merasa bersalah,
dia juga akan berusaha,
berusaha untuk lebih ahli dalam melanggar aturan.
Padahal, serapih mungkin dia melakukan pelanggaran,
pasti akan ada yang mengungkapnya.
Karena Sang Maha Mengetahui tidak pernah tidur.

»»  Read More...

Monday, 15 February 2016

Nama

Nama itu ciri khas.
Nama diberikan sesuai bentuknya.
Bisa juga sebagai harapan.

Manusia itu belajar dari benda.
Saat benda dinamai berdasarkan bentuknya,
manusia menamai anaknya dengan harapan,
namanya bisa mencermikan sifat.


Saat manusia menamai sesuatu,
apalagi dengan sebutan lain,
kemungkinan besar sesuatu itu lebih berharga.
Mereka lebih terikat satu sama lain.

Tetapi tetap,
ada arti atau harapan saat nama lain dibuat.
Bahkan arti yang berbeda dan punya makna tersendiri.
Ada rasa kasih dalam setiap huruf yang dibuat.
Atau bahkan saat kita tak sanggup mengucap nama.

Tak semua orang paham dengan arti nama.
Tapi setidaknya kita bertanya apa arti nama kita.
Setidaknya kita tau makna nama kita,
setidaknya kita tau dari mana sifat kita terbentuk.
Atau setidaknya kita tahu,
ada harapan dibalik nama kita.

»»  Read More...

Sunday, 14 February 2016

Masak

Sejak lima tahun terakhir,
masak adalah satu kewajiban buat aku.
Tuntutan hidup hemat untuk perantau.
Salah satu cara juga untuk pereda kangen.

Awalnya aku gak terlalu bisa masak.
Tapi karena doyan makan,
dan gak banyak makanan enak banget disini,
aku mulai belajar untuk masak dengan baik.


Belajar dari temen,
dari resep di internet,
tanya resep ke mamah,
atau eksperimen sendiri.

Sekarang masak bukan cuma kewajiban aja,
masak jadi hobi baru.
Penghilang suntuk paling ampuh.

Sampai sekarang aku masih belajar,
masih mencoba resep baru.
Mungkin gak ada batasnya belajar masak.
Karena akan ada lagi resep baru yang lain.

Aku baru sadar,
kewajiban bahkan bisa jadi hobi.
Karena aku tau,
hasilnya baik, enak, ataupun asik.

Coba aja kewajiban lainnya bisa seperti itu.
Jika aku temukan hasil baik
dari setiap kewajibanku,
mungkin saat ini aku berbeda.

Mulai sekarang aku harus mencari.
Mencari hasil dari setiap kewajiban.
Sampai aku menyenangi setiap kewajiban.
Sampai aku gak merasa terpaksa melakukannya.

»»  Read More...