Showing posts with label Saudara. Show all posts
Showing posts with label Saudara. Show all posts

Wednesday, 22 May 2013

Edisi Kangen 3, Kakak.


Assalamualaikum, kawan kawan..

Setelah kemarin udah ceritain tentang temu kangen sama mamah, papah juga ninit, kali ini, tanpa banyak babibu, aku mau ceritain temu kangennya aku dan kakakku tercinta, mba wini.

Setelah seminggu aku di Jakarta, aku belum juga bertemu kakakku satu-satunya itu. Mba Wini bekerja di Balikpapan. Waktu kerjanya pun sangat padat. Dia bekerja full 4 Minggu dan libur (atau biasa suka dibilang "OFF") selama dua minggu. Tapi kali ini, karena dia akan menikah dan mengajukan cuti, maka mba wini tidak libur di jadwal biasanya. Dia menyelesaikan beberapa tugasnya dulu di Balikpapan, lalu ke Jakarta, tapi itu pun bukan untuk OFF, dia masih harus bekerja di kantor yang di Jakarta. Yaaa, begitulah sekiranya. Memang sibuk jika sudah menduduki kursi karir-berkarir.

Aku malah senang. Walaupun mba wini masih harus bekerja di Jakarta, tapi setidaknya, malam hari, ada waktu untuk kami berlima berkumpul. Aku rindu sekali saat-saat itu. Berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, yang sudah jarang kami lakukan bahkan sejak kami di Jakarta. Waktu itu aku SMP dan kakakku sudah ngekos di Bandung. Paling sebulan sekali kami berkumpu bersama, juga saat mba wini mulai kerja di luar pulau Jawa. Apalagi saat aku merantau jauh dari benua Asia. Waktu inilah, saat libur ke Indonesia inilah yang harus kugunakan sebaik mungkin untuk berkumpul bersama keluargaku tercinta.

Aku agak lupa kronologisnya. Aku lupa hari apa waktu itu. Aku juga lupa mba wini pulang naik taksi atau dijemput papa. Karena seperti sudah biasa, mba wini pulang dari luar kota. Yang ku ingat adalah perasaanku waktu itu. Aku sangat-sangat ingin bertemu kakakku tercinta. AKu sangan ingin memeluknya. Aku ingin dipeluk lebih tepatnya. Aku rindu. Rindu dengan nuansa pink dari mulai flat shoes sampai kerudungnya. Walau aku tak suka waran pink. Aku rindu nasihat-nasihat mba wini, mulai dari tentang bagaimana cara belajar, sampai bagaimana cara menghitung kalori.

Aku enatah sedang apa di ruang keluarga sore itu. Aku sedang menunggu sang kakak. Itu saja. Lalu terdengar suara gerbang depan terbuka. Aku langsung berlari keluar. Kakakku datang! Akhirnya aku bisa memeluknya. Kupeluk dia saat dia keluar dari mobil. Badanku seras dua kali lipat dari badannya. Mba Wini sangat langsing. Tapi tak juga begitu kurus. Tingginya, tetap tak bisa kususul. Sepertinya pertumbuhan tinggiku sudah mentok.Tak lama aku memeluknya, karena memang kami harus masuk kerumah. Membawa barang-barang kakak. Sudah kuduga, baju yang ia pakai berwarna pink. Dari atas sampai bawah. Pink. Bahkan koper kecilnya pun berwarna pink. Aku tak tahu apalagi barangnya yang berwarna pink. Pokoknya banyak.

Kakak terlihat lelah. Setelah seharian bekerja lalu dia pulang ke Jakarta. Tapi dia masih menyempatkan diri untuk mengobrol. Dia juga membawa oleh-oleh. Rainbow Cake! Setelah ngetren beberapa waktu lalu, aku masih belum pernah mencoba makan kue beken satu itu. Kakak memang tau banget deh apa yang bikin aku senang. Dia membawakan aku Rainbow Cake terbaik yang pernah dia makan katanya. Bukan berasal dari toko roti ternama manaaaa gitu, rainbow cake satu ini dipesan langsung oleh mba wini ke pembuatnya. Ibu siapa gitu, aku kurang ingat.

Tak banyak memang waktu aku berbincang berdua dengan kakak ku, waktu itu. Tapi dengan adanya dia di rumah saja, aku senang. Jalan-jalan beersamanya juga aku senang, walau hanya sekedar pergi makan. Bercanda dengan kakak dan adik, sahabat yang paling mengerti aku. Walau banyak tugas yang harus kami kerjakan, dari hal kecil sampai yang besar untuk mempersiapkan pernikahan kakak, tak ada keluhan yang terucap dari kami. Kami mengerjakan tugas-tugas itu sambil terkadang bercanda. 

Tertawa bersama kakak, membuat aku senang berkali lipat. Mungkin aku akan lebih awet muda jika aku selalu dekat dengan kakak dan adikku.Dari mulai mba wini datang ke Jakarta, hariku tak seperti liburan. Sibuk kesana kemari, mengetik nama-nama, ngeprint ini itu, buat janji dimana-mana dan harus ditepati dan juga menelpon sana sini untuk memastikan ini dan itu. Ya, aku sibuk membantu mempersiapkan keberhasilan pernikahan (resepsi) kakakku tercinta. Hanya sekali seumur hidupku membantu mempersiapkan acara besar itu. Aku sangat tak mau mengecewakan mba wini. Aku ingin mba wini tersenyum di pelaminan. Menikmati harinya.

Alhamdulillah, hari itu berjalan lancar. Walau ada beberapa bagian yang tidak begitu mulus, tapi itu juga tidak begitu terlihat, karena tamu yang bersangkutan pun tak jadi datang. Komunikasi dengan panitia lain pun berjalan mulus. Tema hari itu pink, aku tak mau protes. Aku pasrah, aku sudah cukup senang melihat kakakku senang. Aku tak protes ketika perias memoleskan ini itu diwajahku. Aku nurut.

Prosesi akad nikah adalah acara yang paling mengharukan setelah acara pengajian kemarin siangnya (sebelum akad). Aku sedih, mba wini tak lagi bisa selalu berlibur bersama kami. Tak bisa lagi seenaknya pergi keluar rumah bahkan untuk sekedar menonton bioskop atau makan sushi. Tak bisa lagi aku nyempil-nyempil tidur disisinya. Kini mba wini sudah berkeluarga. Sudah senang dengan abang. Dengan membayangkan mba wini senang bersama abang, aku mulai ikhlas. Aku mulai rela. Aku senang, mba wini bisa tersenyum setiap hari. Membayangkan mba wini tersenyum senang setiap harinya, aku senang.

Setelah terharu dan lalu tersenyum senang di prosesi akad nikah, kami melanjutkan ke acara resepsi pernikahan yang bertemakan pink dan silver. Pelaminannya sangat megah menurutku. Pernikahan ini, pernikahan pertama yang diadakan kedua keluarga. Mba Wini dan Abang Angga adalah anak pertama. Makanya, tidak heran bila semua serba maksimal tapi tidak juga berlebihan. Aku melihatnya, perfekt! Sempurna! Semoga itu yang mba Wini dan Abang lihat juga. Semoga mereka senang dan bahagia hari itu.

Keesokan harinya, kami bebenah. Merapikan rumah dari balutan tenda bekas pengajian dan midodareni. Beramah tamah dengan saudara-saudara yang masih di Jakarta. Sekaligus ajang temu kangen untukku. Lalu kami langsung mempersiapkan diri untuk berangkat ke medan. Akan ada upacara adat di sana. Pernikahan adat di Medan. Di Sipirok nama daerahnya. Aku sangat senang, liburan ini kumanfaatkan sebaik mungkin untuk keluarga. Pernikahan adat itu juga sebagai ajang liburan untuk kami sekeluarga. Kami bersembilan sekarang. Mama papa ku, mama papa abang, mba win dan abang, aku, ninit, dan Anggi, adiknya abang yang sekarang jadi iparku.

Hampir seminggu kami di Medan. Banyak sekali hal baru yang kami lihat  dan juga kami pelajari. Berlibur, sambil melihat adat disana, juga sambil belajar dan tidak lupa sambil bersilaturahim. Alhamdulillah, banyak yang bisa kami dapatkan. Pulang dari Medan, kami harus berpisah di Jakarta. Aku, mama, papa dan Ninit sampai di Jakarta dan akan langsung ke Rumah. Papa mama abang dan Anggi, melanjutkan perjalanan ke Yogjakarta. Sedangkan mba Wini dan abang melanjutkan ke Bali berdua. 

"met belajar lagiiiii, sehat sehat yaaa" pesennya mba Wini pas aku ke Jerman lagi.

Sejak hari terakhir di Medan, aku sebisa mungkin bersama mba wini terus. Aku tahu kami akan langsung berpisah di Bandara, dan gak akan ketemu lagi dalam beberapa lama. Aku sedih. Aku masih kangen. Rasanya begitu singkat waktuku berbincang dengan mba wini. Waktunya masih kurang, kak. Aku masih kangen. Benar saja, ketika sampai di Jakarta dan mba Wini akan meneruskan ke Bali, aku memeluk mba Wini erat. "Mbaa, aku balik ke Jerman ya lusa." Lalu aku terdiam dipelukannya. "Iya, de.. Hati-hatinya.. Maaf ya mba gak bisa anter kamu lusa." Mendengar kata-kata itu, entah kenapa kau makin ingin terus ada dipelukannya. Lalu aku berkata, "Aku kan masih kangen, mbaaa.." Lalu air mataku tak bisa terbendung. Iya, aku menangis. Aku merasa egois, menangis saat mba Wini senang. 

Tapi aku tak bisa lagi menahan, aku masih kangen. Aku ingin ngobrol berdua lagi dengannya. Aku masih rindu sama mba wini.Jadwalnya memang padat. Mba Wini dapet cuti ini aja udah bagus. Abang juga. Kedua dari mereka sangat sibuk soalnya. Abang yang membuatku berhenti menangis cengeng dengan berkata, "Nanti November ini InsyaAllah kita nengokin mba ade kok, yaa.. Udah, jangan sedih.." Aku meredakan sendiri air mataku. Menahan rasa ingin bersama mba wini. Aku cukup senang bersama mba wini sebulan ini. Lebaran dengannya, bersenda gurau, main, jalan-jalan dan lain-lain. 

Tapi ternyata Abang baru bisa ke Eropa pada bulan Maret lalu kalo gak salah. Sedangkan Mba Wini sedang mengandung, masa iya sampe ikut ke Eropa. Seiring berjalannya waktu juga aku udah bisa menyesuaikan diri lagi di Jerman. Sendirian tanpa keluarga. Dibilang kangen? Pastinya aku kangen. Tapi aku juga gak mau jadi anak cengeng yang cuma bisa bilang kangen aja. Aku mau berusaha yang terbaik disini. Supaya rasa kangenku bisa menjadikan rasa bangga dalam keluargaku, termasuk mba Wini tentunya.

Mba, aku memang belum bisa banggain mba Wini, mama dan papa. Dan juga belum bisa jadi contoh baik buat Ninit. Aku masih berusaha mengejar yang terbaik, mba. Membuat mama, papa dan mba Wini juga Ninit senang adalah cita-citaku sekarang. Maafkan aku masih sering dan selalu merepotkan mba Wini, padahal aku jauh disini. Terimakasih untuk semua support yang mba wini kasih ke aku. Terimakasih untuk segala doa yang mba wini ucapkan pada Allah untuk keberhasilan aku. Sehat selalu ya, kakakku sayang. Aku juga menunggu si dede hadir ke dunia, walau aku mungkin tak bisa ada disana. Aku disini selalu doakan  yang terbaik untuk mba Wini. Semoga mba Wini selalu sehat dan bahagia. Semoga dede, si anak soleh/solehah, juga sehat. Aamiin. Thanks alot, mba. I love youuu..

Buat kawan-kawan semua yang baca ini. Kalau kalian punya kakak, janganlah kau takut untuk bercerita padanya, dia punya segudang ilmu kehidupan yang belum kau cicipi. Dia punya banyak pilihan solusi untuk kau pilih. Dia punya banyak nasihat yang membangkitkan semangat. Jangan gengsi. Dia perantara dari Allah yang bisa membantumu, menyayangimu, dan memberikan kamu yang terbaik. Dengarkan dia, peluk dia, berterimakasihlah padanya. Jika kau seorang kakak, kau hebat. Kau yang membuat adikmu kagum dan ingin menjadi sepertimu.

Sampai bertemu di tulisanku yang lain, kawan..
Wassalamualaikum..

»»  Read More...

Wednesday, 15 May 2013

Edisi Kangen 2, Adik.


Assalamualaikum..

Hai semuaa.. Bertemu lagi lah ya kitaa.. Lagi getol nulis nih. Ya iya lah, internet baru jalan kenceng banget. Digunakan banget untuk posting ini itu nih. Hihihihi..

Setelah kemarin ceritain tentang gimana aku ketemu lagi dengan mama dan papa yang kejadiannya sedikit sinetron itu, sekarang aku mau ceritain kronologis kejadian aku ketemu lagi dengan adik kecilku selama satu setengah tahun kepisah. Padahal aku sama Ninit tuh kayaknya apa-apa bareng. Makan kudu bareng, tunggu-tungguan kalau yang satu belum pulang. Bobo aja kadang sekasur.Cerita ini itu udah gakada rahasia sama sekali sama dia. Nah,kita flash back lagi ke tahun lalu yuuuukkk..

Jakarta makin macet, makin gersang. Tapi aku seneng-seneng aja. Layaknya anak tunggal aku mendapat perhatian kedua orangtuaku sore itu. Di mobil bertiga, mengobrol. Mama dan papa cerita kejadian-kejadian baru di rumah. Aku tak banyak cerita. Memang tak banyak yang harus ku ceritakan.

Sesampainya di rumah, aku bernostalgia lebay dulu dengan rumahku. Banyak sekali yang berubah di rumah. Bahkan perubahan drastis. Semua barang yang ku kenal dulu berkurang. Apalagi dengan tidak adanya si Mellow, kucing kami. Dia di culik orang. Sedih dua kali terjadi pada adikku. Dia mendapatkan pengganti Mellow waktu itu, namanya Bulbul. Walau masih suka di banding-bandingin sama si Mellow, tapi pas Ninit kehilangan Bulbul, karena diculik juga, dia sedih juga. Nangisnya sampe kebawa ke acara paskibra hari itu. Itu yang mama ceritain sambil ketawa-ketawa mengingat kelakuan adik yang lucu. Aku makin gak sabar mau bertemu dengannya. Ingin memeluknya dan mencubit pipinya.

Malam pun tiba di Jakarta, selesai Sholat Isya dan tarawih di rumah, aku dan papa menjemput Ninit yang baru selesai latihan Paskibra. Di jalan, papa merencanakan sesuatu. Papa gak bilang sama Ninit kalo aku ikut menjemput dia. Lalu aku disuruh sembunyi di kursi belakang. Ninit menelepon papa, yang emang agak telat karena macetnya Jakarta. Papa dengan hati-hati menjawab pertanyaan-pertanyaan ade yang cerewet menanyakan aku. Papa sengaja me-Loudspeaker HP nya agar aku ikut mendengar cerewetnya si Adik. Setelah bebas dari pertanyaan-pertanyaan menjurus, papa menutup HP dan menyuruhku langsung pindah ke kursi belakang karena Ninit sudah menunggu.

Mobi menepi, Ninit belum terlihat. Kayaknya masih mengobrol dengan temannya. Aku mengintip-ngintip berusaha sebisa mungkin menyembunyikan badanku yang tak mungil. Papa menelepon Ninit untuk memberitahu kalau papa sudah menunggu di tempat biasa mereka ketemu. Tak lama, terlihat Ninit berlari kecil dari ujung jalan. Badannya yang mungil sudah hilang, terganti dengan badan tagap dan tinggi. Apalagi sekarang dia mengenakan rok abu-abu. Adikku seudah besar. Rasanya ingin aku keluar dari persembunyian dan langsung memeluknya.


"Hai paaa.." Sapa Ninit ketika membuka pintu mobil, lalu dia mencium pipi papa. "Mba ade udah di rumah yah? Ayo pap, ayo kita pulang.." Lalu dengan cepat pintu mobil tertutup. Papa memberi kode padaku. Aku mengusap kepala Ninit dari belakang. Perasaanku? Senang bukan main, melihat adik kecilku tumbuh sebesar itu. Mendengar kembali suranya. Mendengar cerewetnya adikku. Dengan refleks Tae Kwon Do nya, Ninit langsung membalik badannya. "Mba adeeeee!" Dia berteriak sambil tangannya membuka pintu mobil. Secepat kilat dia keluar mobil, lalu dengan cepat menarikku keluar mobil. "Mbaaaa.. Aku aku mau peluuuukkk.. Aku kan kangeeeennn.."

Ninit loncat-loncat kegirangan dan memelukku erat. Posisinya terbalik dari kali terakhir aku memeluknya. Kini kepalaku yang bersandar di bahu adikku yang tegap. Bahu anak paskibra yang tegap, kokoh. Kini adikku yang harus menurunkan kepalanya sedikit untuk bisa menatapku. Dia tinggi. Aku kagum. Pelukannya erat dan mantap. Air mata Ninit membasahi kerudungku, menghilangkan rasa kangennya. Lama dia tak melepas pelukannya. Pipiku juga mulai basah. Senang bisa memeluk adik kecilku satu-satunya ini. Papa mengingatkan kami. Kami memang ada di pinggir jalan. Adik akhirnya melepas pelukannya, tak lupa kucubit pipinya gemas. Masih berair mata, kami masuk ke dalam mobil dan pulang untuk berkangen-kangenan di rumah.

Aku senang sekali tahun lalu itu aku bisa bertemu dengan adikku yang ternyata sudah berubah banyak. Berubah ke arah yang positiv. Dia cerita banyak sekali. Walau adikku itu sekarang sudah mulai sibuk. Tak banyak waktu yang dia miliki. Dia harus latihan paskibra hampir setiap hari. Kadang aku sedih karena ditinggal latihan terus olehnya, tapi ras bangga juga muncul di benakku. Adikku terpilih menjadi PASKIBRAKA JAKARTA SELATAN. Tahun ini, dia juga sibuk melatih anak-anak baru. Ras banggaku berlipat-lipat padanya. Rasa kangenku tak bisa dituliskan. Allah yang tahu.

Beberapa menit setelah adik di kukuhkan menjadi PASKIBRAKA JAKSEL
Untuk adik:
Adik, kakak mu ini sangat ingin lihat adik tumbuh jadi wanita solehah. Jadi contoh untuk saudara-saudaramu yang lain, untuk keponakan-keponakan kamu. Kerjakan apa yang kamu suka, dik. Kamu sudah besar, kamu sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk. Bacalah Al-Quran beserta artinya. Kita sama-sama belajar dari situ. Disitulah titik kesamaan kita. Mempelajari Al-Quran dan belajar mengamalkannya. Adikku yang pintar, aku sayang kamu. Semoga kita bisa kembali bertemu ya, nit. Secepatnya. Sebelum kita bertemu dan berpelukan lagi, ayo kita bertemu dalam sujud kita. Karena sebenernya kita ini deket. Masih sama-sama di bumi Allah. Be a great girl, yaa.. 
Love you, always.
MbaAde mu..

Nah, itulah cerita gimana dua orang kakak beradik yang akhirnya ketemu lagi. Adikku ini memang objek kekangenan semua orang, apalagi kakaknya sendiri. Semoga adikku itu jadi orang sukses yaa.. Semoga dia sehat selalu. Me miss you, deeeekkk.. Buat kawan-kawan semua yang masih tinggal serumah sama adik atau kakaknya, bergembiralah. Akuilah, dia sahabat terbaikmu. Gak perlu gengsi deh. Dia juga merasa hal yang sama. Tunjukkan kasih sayangmu padanya. Gak perlu gengsi-gengsi lagi, kali aja dia lagi butuh banget pelukanmu sekarang ini. Peluk adik atau kakakmu sekarang, bilang kamu sayang padanya. Be a lovely sister or brother, guys..

Wassalamualaikum..

»»  Read More...

Sunday, 15 August 2010

Awal Ramadhan

Sebenernya kalau dibilang awal Ramadhan, engga juga ya? Karena udah di hari ke-lima Ramadhan niih..
Sebelumnya, aku minta maap ya kalo ada salah-salah kata, perbuatan, atau sifat ku yang nyakitin. hehe..

Nah, sekarang, pada akirnya aku bisa menulis (mengetik) lagi di BiruBicara ini. Karena akhirnya weekend untuk ku. Dua minggu terakir ini, di hari sabtunya ada pernikahan sodara. Dan tentunya di hari Minggu-nya aku istirahat. Hehehe..

Walau judul postingan ini Awal Ramadhan, tapi ijinkan aku untuk berbagi pengalaman ku di dua (atau tiga) minggu terakhir yaaa..

Akhir Juli kemarin, tepatnya tanggal 31 Juli 2010, Teh (Kak) Ayu, keponakanku, menikah. Iya, keponakanku memang banyak yang lebih tua. Teh ayu itu, keponakanku se-uyut. Pokoknya panjang banget laaah kalo diceritain disini. Hehe..
Intinya, dia itu saudaraku. Teh ayu dan suaminya itu menikah di Taman Mini Indonesia Indah. Di halaman Keong Mas. Bentuknya Garden Party gitu. Aku disuruh ikut untuk nganter (nunjukin jalan) sodara-sodara yang dari Bandung. Dan aku yang emang dasarnya ga suka dandan, bingung mau pake apa. Biasanya kalo ke undangan sodara, jadi pager ayu (kebaya), kalo ke undangan tetangga, ga diajak sama mamah. Jadi aja bingung mau pake apa. Zum gluck, aku punya baju yang rada resmi. Di padu dengan jeans. Terus dipelototin mama. Tapi tetep ngeyel pake jeans dengan alasan Garden Party. Hehehe..

Nah, kayak gitutuh hasil ngasal bajunya. Hehehe..

Mama akirnya ijinin tuh pake jeans, tapi dengan syarat pake sepatu yang resmi, bukan sneakers yang kayak aku pikirin. Mama emang hebat, tau aja pikiran anaknya.
Nyampe disana, aku yang ga punya temen karena Ninit (ade) maennya sama sepupu, malah kesana-kemari gajelas. Sambil nungguin sodara yang lain, sambil liatin cowok-cowok juga gak apa-apa dong.. Huahaha..
Lagi asik-asiknya bediri gajelas di deket pager ayu (ga ada kerjaan banget), tiba-tiba liat cowok. Sangat menarik perhatian karena tu cowok megangin (keliatannya) neneknya, jarang-jarang liat pemandangan kayak gitu. Udah senyam-senyum ga jelas, tiba-tiba ibu si cowok (yang ada di belakang nenek), manggil aku. Laaaahh.. Ternyata sodara. Pantesan, rada kenal sama nenek dan ibu itu, tapi si anak cowok, emang jarang ketemu. Haha..
Melupakan si cowok-yang-ternyata-sodara itu, aku kembali jalan-jalan ga jelas sampai dipanggil ke tenda keluarga.
Pas mau pulang, Ua (mamanya si cowok yang tadi) sama mamaku ngobrol sambil ketawa-ketawa gitu. Terus tiba-tiba mama kayak nyuruh aku salam gitu sama Ua. Terus tiba-tiba Ua-nya ngomong gini, "Aduuh, calon mantu.. Kapan lagi ya ketemu?".
Reaksi aku : Siyok, bingung, nyengir, terus liatin mama. Gimana gak siyok coba, dia kan SODARA. Ya tuhaaaann, ada-ada ajaaaa..

Malemnya, nganter nenek dulu ke wisma disana. Kaki udah pegel. Ga biasa pake sepatu resmi begitu, aku colong aja sendal hotel dari kamar nenek. Hasilnya..
Sepatu di tangan, kaki pake sendal hotel. ^o^

Terus, besoknya aku sepedahan ke Monas sama sodara-sodara. Pokoknya mah, Cape, tapi seruuuu. hahaha..

Minggu depannya, aku dan keluarga, meluncur ke bandung. Sabtu, 7 Agustus 2010, Mas Didit dan Mba Dini menikah. Nah, kalo ini sodara sepupu se-eyang. Deket banget lah kami sekeluarga sama Mas Dit. Mba Wini aja sampe bela-belain cuti untuk acara yang emang cuma ada sekali seumur hidup ini. Keren kaaaan?
Aku ga jadi pager ayu (tumben kaaan, hehe), jadi bingung lagi. Akirnya, dengan bantuan Mama dan Mba Wini serta De'Nit, aku memakai baju yang pantas. Nah, De'Nit aja ampe bantuin, ketauan banget gabisa dandan. hehehe ^^..

Dan, akirnyaaaaa.. Kemarin dan hari ini libur. Walu tuga masih banyak menumpuk, rasanya pagi ini aku akan sedikit menikmati indahnya akhir pekan dulu. Nanti siang, baru deh kemballi ke aktivitas untuk mempersiapkan hari esok.

Danke sehr..



»»  Read More...