Thursday, 18 April 2013

Molekul Air

Assalamualaikum kawan tukang baca..

Masih di Bibli, masih bergantung pada internet kampus dan masih gemes buat nulis. Engga, kali ini ngetiknya engga di si NAWI. Bukannya males bawa-bawa NAWI, tapi laptop kesayanganku itu harus dicolokin terus charger-nya. sedangkan kalo ke bibli, belum tentu dapet tempat yang ada colokannya. Kalopun dapet, pasti ada komputernya, jadi mendingan pake komputer yang ada aja, kan?

Kali ini aku lagi terpikir tentang penelitiannya Dr. Masaru Emoto. Udah pernah denger? Pertama kali aku mendengar nama dia itu saat mba Wini, beli buku bestseller nya. Judulnya "The True Power of Water". Keren abis gak tuh judulnya? Udah gitu, sampulnya warna biru. Makin-makin aku gemes pengen baca. Waktu itu kayaknya aku masih SMA. Dan cuma bisa mengagumi aja. Terus beberapa bulan kemudian lupa sama kecanggihan buku itu.

Kalo emang belum pada tau penelitian tentang airnya Dr. Masaru Emoto ini, coba deh cari di gugel. Banyak kok yang udah nulis di blog nya tentang penelitian beliau. Berikut dengan gambar-gambar molekul airnya. Ini salah satu blog orang yang aku baca dan tulisannya lengkap. Aku juga lalu pernah buka youtube dan lihat penelitian lainnya.

Inti dari penelitian Dr. Masaru Emoto ini, air itu gampang menyerap perkataan atau lingkungannya. Misalnya, kalo air di omongin kata-kata baik, maka molekul air itu jadi baik. Kalo di omongin kejelekan, molekul airnya juga berubah jadi jelek. Makanya kalo lagi pengajian, ibu-ibu suka banget riweuh naro air di depan Ustadz nya. Suka liat gak? Walau itu cuma kebiasaan ibu-ibu belaka, ternyata mereka punya maksud dan alasannya.

Bukan sugesti, tapi air yang didoakan untuk kesehatan memang bisa menyehatkan. Apalagi air zam-zam. Di blog yang tadi, aku juga baca: 
“Jika kita ingin air terasa manis, masukkan gula, jika ingin air berwarna maka masukan pewarna dan jika ingin air itu mulia, maka masukanlah ayat-ayat yang mulia kedalamnya”

Maksud aku apa sih tiba-tiba nulis tentang air? Sekedar mengingatkan saja kawan, kurang lebih 60% tubuh kita itu air. Kalau air yang udah didoain dari luar tubuh kita aja bisa bikin kita sembuh dari penyakit, gimana yang emang udah ada didalam tubuh kita ini? Bayangin aja kalo kita rajin berdoa, rajin baca Al-Quran, apa jadinya molekul air di tubuh kita ini?

Ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan.

Jadi nyambung juga nih sama omongan mama jaman dulu. Masih aku ingat betul, padahal ini omongan mama jaman aku SD, jaman masih di Tasik. Mama bilang, "Kalo doa atau ngaji, usahain minimal telinga kita denger. Jangan baca dalam hati. Apalagi kalo orang serumah bisa denger. Itu lebih bagus." Mungkin biar air di dalam tubuh kita mendengar ayat suci Al-Quran dengan baik juga kali ya..

Nah, sekarang kalo misalnya kita sering banget ngomong jelek. Maki-maki orang dengan kata kasar atau sekedar keceplosan ngomong kasar karena udah biasa. Ya ampuun, jangan sampe deh ngomong kasar jadi hal yang biasa. Gimana tuh molekul air di tubuh kita jadinya kalo kita udah biasa ngomong jelek? Jadi jelek nantinya, terus nanti jadi sakit. Masa mau menzalimi diri sendiri?

Makanya, yuk kita sama-sama saring omongan kita. Gausah lagi ngomong kasar, gak ada guna, malah bikin orang kesel. Juga adakan waktu untuk baca Al-Quran. Kawan, sudah berapa buku yang kita khatamkan? Bukan novel atau komik deh, itu mah udah hobi kan? Buku pelajaran aja, udah abis berapa judul? Sekarang Al-Quran yang pasti punya di rumah, gausah heboh beli dulu, udah berapa kali tamat? Berapa kali dalam sehari Kitab Suci kita pegang?

Bismillah, kawan. Kita pasti bisa kok.. Baca Al-Quran itu bikin hati tenang dan jiwa sehat. Yuk kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan.
Sampai ketemu di postingan selanjutnya yaa.. Semoga berguna..

Yang salah mah datangnya dari tangan saya, yang benar datang hanya dari Allah swt.

»»  Read More...

Wednesday, 17 April 2013

Gimana rencana awal tahunmu?

Assalamualaikum semuaaaa...

Aku bisa nongol lagi nih.. Walau internet rumah masih gak jelas gimana juntrungannya, aku udah gemes pengen nulis. Akhirnya, tadi pulang ngampus, diajakin balik ke kampus lagi naik sepedah sama Rizka. Yaudah, kesempatan olahraga terus posting di Bibli (Bibliothek=Perpus). Yeay!

Tak terasa yah, sudah bulan ke empat aja. April 2013. Udah ngapain aja ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian? Gimana resolusi tahun baru kalian? Lancar kah? Sudah tercapai kah? Atau malah melempem? Nyerah setelah baru beberapa minggu melaksanakannya? Atau masih ditunda? Hmm.. Aku pun tertohok dengan pertanyaanku sendiri.

Di awal tahun kemarin, aku punya lima rencana di tahun ini. Baru dua yang kira-kira sudah berjalan. Sedangkan yang lainnya masih dalam proses. Menunda? Aku tak mau menunda sebenarnya. Aku berusaha terus untuk bisa meraihnya, hanya saja prosesnya memang tak cepat dan tak mudah. Halangan dan rintangn pun banyak sekali. Oke lah, aku mengularkan banyak sekali alasan. Seperti yang pernah ku dengar, "Wer etwas will, sucht Wege. Wer etwas nicht will, sucht GrĂ¼nde". Artinya, "Kalo orang mau, dia akan cari jalan. Kalo dia gak mau, dia akan cari alasan". Aku bukannya gak mau juga sih, tapi BELUM bisa. Hahaha.. (tetep ngeles kayak bajaj).

Oke, kenapa aku tiba-tiba membahas soal ini? Aku hanya mau mengingatkan diriku sendiri dan kamu. Kamu pembaca tulisan ini. Kenapa tiba-tiba berhenti untuk merealisasikan mimpimu? Mimpimu terlalu berat? Terlalu tinggi? Terlalu berangan-angan? Tak ada yang tak mungkin, kawan. Ayo kumpulkan lagi semangatmu, dan realisasikan rencana mu!


Bukan hanya doa yang kau butuhkan, bukan hanya ridho orangtua yang kau perlukan, kau perlu bertindak, kawan! Bergerak, semangat! Aku sangat ingin membuat BiruBicara aktiv. Ingat? Kalian pernah baca pastinya disini. Selagi aku merencanakan itu, aku berpikir akan menulis setidaknya satu judul sehari. Setidaknya satu tulisan sehari. Tapi aku masih harus belajar untuk mengatur waktu ternyata. Aku tidak akan menyerah dan melalaikan BiruBicara. Aku mau belajar.

Kawan, ini masih bulan April. masih ada sekitar delapan bulan lagi menuju akhir tahun. Delapan bulan untuk merealisasikan rencana awal tahunmu. Cepat, kawan. Waktu itu berlalu dengan cepat begitu saja. Jangan kau jalan untuk mengejar mimpimu, berlarilah! (Itu juga diambil dari perkataan orang). Susah? Iya, karena rencana kita memang berharga untuk masa depan kita. Gak ada yang instan! Semua butuh proses!

Sukses itu bukan dilihat hanya dari hasilnya, tapi proses bagaimana kita mendapatkan itu. Liat aja, orang yang udah sukses! Memang dia hanya duduk-duduk aja, terus dapat apa yang dia banggakan? Masa dia cuma jalan-jalan ke mall dan hura-hura aja, terus kita bisa bilang dia hebat? Engga. Dulu dia susah. Bahkan hidupnya bisa jadi lebih susah dari kamu sekarang.

Biasakan hidup keras dan tinggalkan bersenang-senang!

Kita semua masih belajar, kawan. Semuanya berproses. Jangan kau memudahkan segala perkara. Jangan juga ditunda. Bismillah kawan, kita bisa! Hidup ini memang keras, tapi dengan ijin Allah, semua akan tercapai. Semua ada waktunya! Semangat! Ayo kita saling mengingatkan! 




»»  Read More...

Tuesday, 2 April 2013

Verkehrsmittel in Halle


Assalamualaikum, alle zusammen..

Jadi ceritanya, kemarin temen sma aku, namanya Yoan, nanya tentang kendaraan di Jerman. Terus kemarin udah saya ketik panjang lebar menjuntai, pas lagi dikirim, internetnya ga nyambung. Terus pas di cek, tulisannya ilang. -..- mangkanya, aku tulis disini aja ya.. Kali aja temen-temen yang lain juga penasaran. :D

Di Halle sebenernya ada tiga transportasi dalam kota. S-Bahn (Schnell Bahn) yang artinya kereta cepat, Tram dan Bus. Tapi si S-Bahn ini jarang banget dipake di Halle oleh mahasiswa (aku contohnya), soalnya si S-Bahn di Halle ini menghubungkan desa A ke desa B di Kampung Halle. Jadi si S-Bahn ini ga lewat alun-alun kota (marktplatz) ceritanya. Makanya, aku cuma mau ceritain Bus sama Tram aja dulu yaa..

Bus sama Tram di Halle itu kayak teratur banget. Tram bisa ditemui di jalan-jalan besar. Bahkan cuma si Tram ini yang ngelewatin Marktplatz. Nah, kalo si Bus di Halle, biasanya jemput kita di Halte Tram terakhir, terus anterin kita ke rumah. Hahaha.. Itulah kasarnya. Kita ambil contoh aja misalnya mau jalan dari rumah ku ke Stasion (Hauptbahnhof).

Salah satu halte Tram di Halle
Rumahku itu dekat dengan Halte Bus Zscherbenerstrasse. Halte itu cuma dikunjungi satu jenis Bus di Halle. Bus 36. Itupun hanya 30 menit sekali. Nah, aku naik Bus dari situ sampai Halte An der Feuerwache. Di halte itu ada dua jenis Halte. Halte Bus dan Halte Tram. Aku transit disitu lalu jalan sedikit, ga nyampe 2 menit untuk nunggu Tram. Dari situ lumayan banyak Tram yang lewat. Ada yang langsung ke Hauptbahnhof (HBF), tapi muterin Halle dulu, ada juga yang langsung ke Hauptbahnhof. 

Kalo buru-buru tapi yang langsung ke HBF masih lama datengnya, biasanya aku naik Tram yang ke Marktplatz, terus dari Marktplatz, transit lagi dan ganti tram lain yang lebih cepet nyampe HBF nya. Begitu lah sekiranya.Terus kita juga harus ontime. Si Bus itu datang di Halte dengan waktu yang sudah ditentukan. Kelewat berapa detik aja, bisa ditinggal. Gabisa deh ngejar-ngejar terus teriak "Bang tunggu, bang!". Kecuali kalo kamu seorang sprinter, lari aja cepet-cepet ke Halte selanjutnya. Atoga, sekalian aja lari terus sampe tujuan kamu. Hohohoho... *krik*

Kalo dari rumah terus telat turun (karna rumahku di lantai delapan), aku nunggu sampai waktu bus selanjutnya datang. Artinya aku harus 30 menit menunggu. Ataaaauuu.. Aku lari ke Halte tram yang jaraknya bisa ditempuh dengan lari (atau jalan) 8-15 menit. Soalnya kalo Tram datengnya 10 menit sekali dan jenisnya banyak yang lewat halte itu. Pokoknya kalau udah telat, aku harus milih antara mau telat, atau mau cape. Begitulah..

Nah, sekarang kita menuju ke bayar membayar tiket. Untuk si pelajar, ada semesterticket namanya. Tiketnya beli sekali aja, terus bisa di pake untuk satu semester (6 bulan), dan naik apa aja di Halle. Mau tiap hari naik Bus, Tram atau bolak-balik disitu atau mau ngegalau naik Tram atau Bus dari ujung ke ujung juga bisa. Egal. Terserah. Bebas. Asal bayar dulu di awal semester kurang lebih 75 euro sambil nunjukkin kartu mahasiswa. Kayaknya itu juga berlaku sama nenek-nenek dan kakek-kakek juga deh, soalnya mereka punya kartunya beda gitu sama yang lain. Mungkin lebi murah mereun yah?

Kalo gak ada kartu pelajar, bisa kok beli tiket. Belinya di mesin. Banyak mau pilihannya, terserah mau beli yang mana. Ada einzelkarte (tiket yang bisa di pake kurang lebih 1,5 jam dari waktu penandaan), ada juga tageskarte (bisa dipake seharian, 24 jam atau berlaku sampe jam 3 pagi.Yang ini sesuai aturan kota masing-masing. Kalo di Halle dipake 24 jam), ada wochenkarte (mingguan, 7 hari), ada lagi monatskarte (Bulanan, 30 hari) dan ada pula Jahreskarte (tahunan). Sok mangga, silakan dipilih yang mana yang mau di beli. 

Sistemnya pake sistem kejujuran. Kan gak ketauan tuh siapa yang punya tiket, siapa yang gak punya tiket. Mangkanya kudu musti sadar sendiri. Masa kamu enak-enak pake transportasi tapi gak bayar?Jalan kaki aja sono! Tapi kalo di Halle ini suka ketat. Sering banget ada pemeriksaan tiket. Orang yang meriksanya gak pake seragam kerja. Mereka menyamar, ada yang ibu-ibu banget dandannya, ada bapak gaul, ada pula mas-mas yang terlihat abis jajan kebab. Nah, kalo kedapetan kamu gak punya tiket, kamu harus bayar denda 40 euro. Mendingan beli monatskarte deh dari pada disuruh denda. Beneran deh. Lagian, masa 
kita menggunakan apa yang bukan jadi hak kita sih?

Itu cerita transportasi umum di Halle. Cukup jelas gak sih? Gimana Yoan? Jelas gak sih, yo?

Sekarang cerita transportasi yang di kota besar (seperti Berlin, Hamburg, Frankfurt, dll) sekilas ya.. 
Sama aja sih sebenernya, ada Bus sama Tram juga. Tapi ada pula S-Bahn (Schnell Bahn = kereta cepat) dan U-Bahn (Unter Bahn = Kereta bawah). Sistemnya juga sama. Cuma di Halte tertentu yang ketemu semua jenis-jenis kendaraan ini. Waktu nya juga udah diatur sedemikian rupa. Bedanya, kalo di kota besar, bus nya gak perlu nunggu lama. Armadanya banyak soalnya. Terus juga ada kereta bawah tanah dan kereta cepat yang jenisnya juga banyak. Halte U-Bahn nya seru, kayak di luar negri gitu, ada di bawah tanah. Hohohoho..

Oiya, untuk masalah jadwal kendaraannya juga beda antara weekdays dan weekend dan tanggal merah. Kalo mau aman, mending cek dulu di internet. Ada websitenya sendiri. Nih linknya: havag.de (buat yang di Halle). Coba masukin von: Zscherbenerstrasse nach: Hauptbahnhof. Persis gak kayak yang aku ceritain diatas? 
Jadwal Bus yang tertempel rapi di Halte.
Begitulah sekiranya kendaraan dalam kota di Jerman, tapatnya di Halle (Saale). Semoga bisa membantu yaaa.. Kalo Yoan, awalnya kan bandingin Jakarta sama Jerman. Kalo menurut aku mah, adain halte bus dulu. Dan DITERAPKAN. Bukan ada Halte, tapi turun mah tetep di tengah jalan. Gak ada tuh bilang, "Kiri, bang!". Kalo mau mulai dari sekarang, terapkan aja dulu dari diri sendiri. Bilang Kiri nya di Halte terdekat tujuan kamu. Mager? Panas? Cape? Gak akan rubah kalo pribadi sendiri kita aja gak mau merubah.. *sok bijak*

Elu enak, Niw! Engga di Jakarta, engga panas. Dooooooch.. Ane juga dulu, pas les tuh di jalan Pramuka, udah mraktekin buat selalu naik dan turun di Halte. Bisa kok. Panas? Ho-oh emang. Panas. Tapi seenggaknya jadi ngurangi kemacetan sepersekian detik karena bus nya minggir dulu ke Halte kan? Coba deh, seenggaknya temen-temen yang baca ini dulu yang turun di Halte. Udah sedetik kali berapa tuh? Kali aja lama-lama orang pada malu buat bilang "Kiri!" di tengah jalan.

Harapan buat pemerentah mah, adain Halte yang cukup kali yaaaa.. Itu ja dulu. Sama ga usah ada angkot. Atoga angkotnya di gaji sama negara, biar gak usah pada ngejar setoran. Biar tertib, aman, tentram nyaman. Semoga ya suatu hari nanti anak cucu kita di Jakarta bisa nyaman hidupnya. Biar anak kita gak tua di jalan kayak ambu sama abahnya. ;)

Jika masih belum jelas, di komen aja mangga.. Makasih kawan..

Semua kesalahan datang dariku, kebenaran selalu datang dari yang Maha Benar, Allah swt.
»»  Read More...

Monday, 1 April 2013

28 Maret 2013

Assalamualaikum..
Ini termasuk postingan telat nih.. Aku mau cerita tanggal 28 Maret kemarin.
Kenapa tanggal 28 Maret? Karena, 21 tahu yang lalu, di tanggal 28 Maret itu, ada bocah perempuan yang baru melihat dunia. Melihat kota Tasikmalaya. Kini, perempuan itu sudah beranjak dewasa, dan bisa melihat langit di empat musim. Langit Eropa. Langit di Jerman.

Aku. Niwiarti. Asal Tasikmalaya. Hari Kamis, 28 Maret 2013, mengulang hari kelahirannya yang ke 21. Syukur alhamdulillah, kini aku berada di lingkungan yang sangat baik. Walau jauh dari keluarga, aku kini mempunyai keluarga baru disini. Di Halle. Mereka mereka yang kusebutkan namanya di postingan sebelumnya. Hettstedterstrasse 62.

Malam itu, malam pergantian hari rabu dan kamis. Kami di rumah mengerjakan aktivitas kami seperti biasa. Hari itu, Tari menginap. Rumah terasa ramai. Aku, Chana dan Tari  tidur duluan. Rizka dan Mutiara masih sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tapi tengah malam, ada tangan dingin yang menyentuhku. Aku di bangunkan oleh Mutiara. "Kak, kaaak.. Bangun dulu, kak.." 

Setelah bangun, ternyata Chana dan Rizka juga Tari ada disana, membawa kan kue sederhana di atas piring. Empat buah biskuit, empat buah kue yang aku lupa namanya apa (bentuknya kayak kue sus), dan sebuah lilin di tengahnya. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Setelah aku meniup lilin, mereka mengucapkan selamat ulang tahun, lalu aku kembali tidur. Dalam senyum senang. Bahagia karena ada ditengah-tengah sahabat yang baik-baik.

Paginya, tanggal 28 Maret. Aku sengaja men-silent HP ku. GR? Iya, memang. Emang kenapa? Salah? Benar saja kok, banyak bbm, whatsapp dan juga sms yang masuk. Walau tak semuanya mengucapkan selamat ulang tahun sih.. Notification Facebook dan twitter pun gak kalah ramai. Tapi aku tak menghiraukan HP. Aku beraktivitas normal hari itu. Malah aku pergi mengantar Tisa siang itu. Mengantar dia mengambil paketnya yang malah masuk ke Zollamt (beacukai), yang jaraknya tak bisa di tempuh hanya dengan tram atau bus. Kami harus menyewa taksi untuk sampai kesana dengan selamat dan hangat.

Walau sudah di akhir Maret, tetap saja udara masih dingin dan aku masih harus menggunakan mantel. Aku pulang ke rumah di waktu Magrib. Rumah sepi. Lampu mati. Aku deg-degan. Aku emang geer-an orangnya. Aku tersenyum melihat ada gantungan "HAPPY BIRTHDAY NIWI" di pintu ruang tengah. Aku mulai tersentuh. Terharu dan bahagiaaaa..

Benar saja, ketika aku membuka pintu ruang tengah, mereka kompak bersuara dari arah dapur "Happy Birthdaaaay!" lalu "TEEEEEEEEETTTTTT!!!" Iya, bunyi terompet. Entah berapa terompet kecil yang mereka bunyikan. Backsound lagu selamat ulang tahunnya trio kwek-kwek juga dinyalakan dari youtube. Kini Rizka, Chana, Mutiara, Tari dan Icha yang hadir disana. Dengan membawa kue ulang tahun dan lilin yang serupa dengan lilin tadi pagi. Dan kau tau itu kue apa? BIKA AMBON! Kue kesukaanku!

Ruang tengah penuh dengan balon-balon kecil. Teman-teman semua menggunakan baju berwarna biru. Mereka juga memakai topi ulang tahun. Lucu sekali. Teman, jika kau baca ini. Aku mau bilang makasiiiiiiiiiiiih berkali kali lagi. Ake senang sekalii hari itu. Aku bahagia sekali kenal dan menjadi bagian dari kalian. Danke ya ciwi-ciwi keceee..

Lalu acara potong kue dan buka kado dilakukan setelah kami semua sholat magrib berjamaah. Kue nya enaaaaakkk.. Aku seneng banget dibuatin bika ambon. Teman-teman lain pun senang, jarang-jarang soalnya kita makan bika ambon disini. Makasi yaaaaa... Terus buka kado. Ada banyak bungkusan kado berwarna biru. Banyak juga makna dari setiap kado yang mereka berikan. 



Kado pertama yang kubuka berisi bingkai foto kecil berwarna biru. Tentu saja sudah ada fotonya. Foto saat kami syukuran rumah baru. Saat untuk pertama kalinya rumah ini penuh dengan perempuan-perempuan solehah. Dengan foto ini, aku akan mencoba untuk tetap istiqomah dan semakin memperbaiki diri dalam urusan agama. Agar semua bisa tesenyum seperti di foto itu.

Yang kedua adalah celengan besar berbentuk pensil berwarna biru. "Untuk nabung naik haji!" Seruku setelah mengetahui kalau itu celengan. Tapi ternyata, didalam celengan itu terdapat gulungan-gulungan kertas dari teman-teman yang hanya boleh kubuka jika aku selesai sholat tahajud. Yap! Itu adalah Tahajud Reminder untukku. Makasih, sahabat.:")

Ada lagi buku catatan yang sudah beberapa minggu kucari. Mutiara yang tahu ini. Setiap lagi belanja, aku dan Mute mencari buku catatan untuk mencatat beberapa point penting dari siraman agama. Mencatat beberapa tujuan hidup dan juga untuk mencatat kenikmatan yang selama ini ku dapat. Terimakasih, semuaaa..

Lalu aku juga mendapatkan mug berwarna BIRU dan bergambar LUMBA-LUMBA warna pink! Aku mau loncat kegirangan rasanya dapat hadiah ini. Alasan aku mendapat mug biru di jawab sama Chana."Abisnya Niwi gak mau ikutan kita-kita yang ****** sih. Makanya kita beliin mug." Kenapa di sensor? Cukup kami saja yang tau alasannya yaa.. hehehe.. Lalu aku tanya mereka kenapa Lumba-Lumba? Chana juga yang jawab, "Soalnya status whatsapp Niwi, lumna-lumba." Woaaaahhh.. Aku jatuh cinta sama Lumba-lumba juga memang. Pertanyaan terakhir dari ku adalah,"Kenapa lumba-lumba nya pink?" Dan Chana kembali menjawab, "Biar Niwi agak feminim." Hihihihi.. Makasih ya, Mug nyaaa.. Langsung aku pake buat minum teh ijo besoknya. :")

Lalu ada box besar yang mencurigakan. Aku membayangkan isi box itu adalah mainan. Semacam monopoli. Hhohoo.. Tapi setelah aku pegang, ternyata box itu ringan. Aku langsung terbayang pada rok. Dan benar saja, setelah kubuka, isinya rok panjang berwarna coklat. Semoga aku tetap istiqomah mengubur celana jeans aku ya, kawaaaann..:) Tilimikisi sikili ligi.. :3

Ada satu lagi dari mereka. Bunga. Bunga Tulip cantik yang langsung mereka berika ketika aku pulang. Bunga yang cantik, wangi, dan berwarna-warni. Aku akan berusaha menjadi seperti bunga itu, kawan. Cantik dilihat yang ku artikan, aku harus menjaga penampilanku. Wangi, yang kuartikan sebagai bersih. Bersih dari dosa-dosa besar maupun kecil. Berwarna, yang membuat hidup orang-orang disekitarku berwarna. Semoga kalian juga gak bosen ya sama aku. :3 Makasih lagi. Baru sekali deh kayaknya aku dapet bunga cantik pas ulang tahun begini.. Hihihihihi..

Oiya aku juga dapet kado khusus dari Chanaaa.. Berbenyuk kupon gratis. Ada kupon "Free Hug", bikinin teh ijo gratis, diberesin kamarnya sama Chana juga ada. Tunggu saja kapan aku mau nuker Kuponnya ya Chanaaaa... Lope lope buat Syarafina deh.. :*

Udah semua? Belum, kawan. Mereka memberikan aku kado terbaik juga. Mereka memberiku cinta. :3 Mereka juga yang selalu doakan yang terbaik untukku. Mereka yang mendukungku dan selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Mereka cewek-cewek super! Danke lagii.. :*

Karena jauh dan koneksi internet lagi gak konek, keluargaku hanya memberikan aku doa dan ucapan selamat lewat bbm. Mama yang kasi kado paling berkesan. Mama bikin mukaku merah di tram di depan Tisa lagi pulang ambil barang. Mama kirim aku piiiii~p lewat bbm. Entah aku mau bilang apa, mam. Aku hanya minta doa yang terbaik dari mama. Makasi, mam. :*

Malam harinya, aku membuka kado video dari seseorang di Indonesia. Terimakasih, ya.. Aku bingung mau bales apa dan mau bilang apa ke orang itu. Aku speechless. Maka ya sudah, kubilang terimaksih sajooo.. Baik-baik yah di Indonesiah! Sukses untukmu juga. Aamiin..

Juga puluhan ucapan lainnya dari teman-teman yang baru kubaca setelah tanggal 28 Maret pergi. Maaf ya, kawan. Tapi terimaksih banyak atas doa dari kalian. Semoga Niwiarti ini bisa menjadi seseorang yang kalian harapkan, aamiin..

Segitu aja ya post kali ini. Viel vielen Dank! Ich hab euch sooooo lieb! :)


»»  Read More...

Tuesday, 19 March 2013

Hettstedterstrasse 62

Assalamualaikum semuaaa..

Taraaaaaa.. Setelah sebulan saya tak bersua, kini tangan udah gatel pengen menari-nari lagi diatas keyboard. Kali ini kebetulan bukan di laptop sendiri. Tapi di Laptop temen yang lagi ngunggur di ruang tengah.

Ruang tengah? Iya, ruang tengah. Ruang keluarga. Iya, masih di Halle. Masih di Jerman. Tapi di rumah yang berbeda! Yeay! Rumah baruuuu~ Hihihihi.. Itulah yang mau aku ceritakan sekarang. Setelah bertahan lima bulan tinggal bersama mas dan mba bule dengan dapur untuk sembilan kamar, akhirnya aku pindah ke rumah baru. Dengan tiga kamar, satu ruang tengah, satu kamar mandi, satu dapur, dan ada lorong. 

Hettstetderstrasse 62 Wohnung Nummer 71. Itulah yang tertera di perjanjian kontrak. Itu nama jalan, nomor gedung dang nomor Wohnung. Wohnung itu rumah. Rumah yang aku sebut disini bukan rumah yang kalian bayangkan kali yah? Kecuali kalau kalian membayangkan rumah di appartemen. Tapi juga bukan appartemen yang gaul abis gitu sih. Haduh, begimana yah. Aku sertakan saja lah yah fotonya. Hehehe..

Nah, inilah penampakan rumah beserta orang yang nyewainnya.

Sombong? Engga. Hanya berbagi kesenangan saja. Alhamdulillah niat pindah rumah juga bagus, jadi dapet rumahnya gampang. Perempuan-perempuan kece yang tinggal di rumah ini adalah Rizka, Chana, Mutiara dan saya. Walau ada tiga kamar, tapi kami tinggal berempat. Aku dan Rizka menempati kamar yang agak besar berdua. Chana dan Mutiara menempati masing-masing satu kamar. Tapi sudah setengah bulan lebih ini, kami lebih senang berkumpul di ruang tengah bersama.

Rumah ini alhamdulillahnya udah diisi sama perabot yang oke-oke. Bahkan ada panci, piring, sendok, gelas, dll yang masih terlihat baru. TV pun ada. Sofa nyaman. Seprei juga sudah dipasang. Bahkan ada banyak lukisan dan hiasan-hiasan bunga yang mempermanis Wohnung ini. Alhamdulillah nya lagi, yang ngisi rumah ini juga solehah-solehah. Aamiin..

Walau lumayan jauh dari tengah kota, yang kami sebut Marktplatz (yang mungkin bahasa indonya adalah alun-alun), kami merasa senang bahagia sampai sekarang. Apalagi saya pribadi. Gimana gak bahagia kalo tiap hari bisa sholat berjamaah dan masak-masak bareng? Super pisan lah pokoknya.

Banyak orang beranggapan kuliah di Jerman itu bahaya pergaulannya lah, terlalu bebas lah, ini lah itu lah. Tapi jangan salah. Gak semua orang begitu. Memang ada yang datang kesini lalu bebas dan mengikuti budaya Jerman. Tapi banyak juga kok yang masih cari kebaikan. Buktinya banyak. Malah aku sendiri merasa diuntungkan disini.

Aku merasa di untungkan karena aku kecemplung di Halle dan mengenal teman-teman yang solehah. Luar biasa. Mereka menjaga sholat lima waktu dan sunnah nya, mereka berpuasa sunnah, menjaga makanan yang dimakan, juga saling mengingatkan dalam kebaikan. Subhanallah. Semoga aku juga bisa jadi solehah dan terus istiqomah yaa.. Aamiin..

Fanatik? Apa sih devinisi fanatik? Kalo kata mbah gugel dan mba wiki :

Fanatisme adalah sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politikagamakebudayaan atau apapun saja dengan cara berlebihan (membabi buta) sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius.

Harus digaris bawahi, ...sehingga berakibat kurang baik,....
Itulah fanatik. Tapi kalo kita mengikuti Al-Quran dan Hadis, apa itu fanatik? Malah justru, itulah yang harus kita kerjakan, bukan? Mangkanya, saya alhamdulillah banget kecemplung di Halle yang notabene orang-orang muslimnya masih pegangan kuat sama Al-Quran dan Hadis. Eh, gak cuma di Halle aja kok. Banyak juga kota lain yang anak-anak Indonesianya masih pegangan kuat sama agama nya dan gak neko-neko ikut budaya Jerman. Tenang saja bapa-bapa, ibu-ibu sekalian. :)

Wuiiiihhh.. Jadi ngobrolin agama yah.. Ya namanya juga sharing ya, sobat. Gak apa-apa, kaaaannn? Soalnya aku teh pernah denger ada yang ngomong: "Halle itu pesantren yah? Kok cewek-ceweknya kebanyakan berkerudung gitu yah?" Aku denger nya malah Alhamdulillah. Kali aja ada yang bikin pesantren beneran di Halle, suatu hari nanti. Aamiin..

Hahaha.. Sudah dulu lah yaa.. Maafkan kata-kata saya bila menyinggung perasaan saudara-saudari sekalian. Sampai jumpa di Postingan selanjutnya.

Kalo mau mah mampir mereun ke Hettstetderstrasse 62, gak jauh dari Studkol Halle kok. :3

Ditunggu komentar nya yaaaa..
Assalamualaikum..

»»  Read More...

Saturday, 16 February 2013

salamceria: Belajar itu Ibadah


Masih memumpuk di kanan dan kiri Kiara, buku-buku tebal yang dia pinjam dari perpustakaan kampus sebagai bahan ujian. Piring-piring bekas makan malam dan sarapan masih tergeletak kotor di lantai kamanya. Inilah efek ujian. Kiara seakan gak punya waktu untuk hanya mencuci piring. Kadang Kiara merasa letih terus-terusan belajar siang malam.

Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi. Cuaca di luar terlihat begitu cerah. Ada sebersit senyum yang tergores di wajah Kiara saat melihat langit yang biru. Cerah, terang, indah. Subhanallah. Tapi senyum itu hilang seketika saat Kiara kembali melihat buku-buku yang berserakan.

Hatinya tak tenang, besok dia akan mengikuti ujian. Dia sudah berusaha keras belajar siang malam. Tapi hatinya masih saja gelisah. Akhirnya Kiara memutuskan untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat sunah Dhuha.

Setelah shalat, hatinya begitu tenang. Kiara melanjutkan ketenangannya dengan membaca Al-Quran beberapa ayat. Senyumnya lebar ketika selesai mengaji. Hatinya tenang seakan beban terangkat. Lalu terbesit pertanyaan di kepalanya sendiri.

Kita kan diberi hidup, untuk menyembah Allah. Buat apa kita mengejar kesuksesan dunia? Kita harus sukses akhirat! Akhirat kan kehidupan yang kekal.

Sambil melipat alat sholat dan kembali duduk di depan meja belajar, pikiran itu masih terngiang-ngiang di kepala Kiara. Kiara mengambil telepon genggamnya dan menelepon Fani.

“Assalamualaikum, Fan.”

“Waalaikumsalam, Kiii.. Katanya gak mau diganggu? Katanya lagi belajar? Kok nelpon?”

“Iya nih, Fan. Ada yang ganjel.”

“Apa? Cerita aja, Ki.”

“Fan, kita idup kan buat nyembah Allah yah? Ujung-ujungnya kita bakal punya dua pilihan doang kan, ya? Surga atau Neraka. Buat apa kita masih kejar-kejar ijazah sih, Fan?”

“Nah, kan. Biasanya kamu yang pinter nasihatin orang. Sekarang bingung sendiri.”

“Emang kamu gak pernah kepikiran, Fan?”

“Ya sekarang gini deh, kita dapet pelajaran sabar dari mana, Ki? Salah satunya dari kita nimba ilmu juga, kan? Kalo kita cuman belajar agamaaaaa terus, dapet teorinya terus, tapi gak dipraktekin. Ya, nilainya cuman nilai tau doang. Ujian di sekolah aja, ada ujian tertulis sama praktek. Itu tuh terinspirasi dari ujian Hidup, tau!”

“Iya sih, Fan. Tapi kan ujian hidup gak jadi harus sukses, harus kaya..”

“Ya kalo misalnya nanti engga kaya? Mau sedekah gimana? Mau ujiannya cuman sabaaaar terus? Aku sih gak mau. Sekolah aja naik kelas. Ya kita hidup naik tingkat dong. Tadinya ujian sabar, jadi ujian Ikhlas memberi. Dari puasa, terus nanti naik Haji. Aamiin.”

Hati Kiara sangat tersentuh dengan kata-kata sahabatnya itu. Dia menyesali pertanyaan bodohnya tadi.

“Iya sih, Faan. Bener-bener..” Kiara menjawab pelan.

“Eh, uebrigens! Kamu itu bener-bener nanya, apa ngetes sih, Ki?”

“Beneran ini, Faaaannn.”

“Tumben amat begini. Udah sana, belajar lagi. Sukses ya buat ujian besok. Aku doa terus dari sini, Kiii.. Abis ujian, main-main ke rumahku yaaa..”

“Oke-oke. Aamiin. Makasih ya, Fan. Assalamualaikum.”

“Sip! Waalaikumussalam.”

Setelah mengobrol dengan sahabatnya itu, Kiara mengucap Istighfar berkali-kali. Lalu melanjutkan belajar untuk meraih nilai terbaik. Banyak sekali ibadah dalam menuntut ilmu itu. Salah satunya yang membuat Kiara makin semangat adalah: Bisa membahagiakan orang tua. Itu salah satu ibadah paling oke, kan?

Belajar Jerman
Uebrigens (ubrigens)     : Ngomong-ngomong

»»  Read More...

Thursday, 7 February 2013

Alasan


Assalamualaikum kawan..

Kenapa aku menghilang beberapa minggu terakhir ini? Kenapa? Aku juga gak tau apa sebabnya, tapi beneran lagi ...

Oke. Aku mendengar pernyataan ini sekitar dua minggu lalu : Wenn man will, sucht man Weg. Wenn man nicht will, sucht man Gruende. Yang artinya: Kalo ada kemauan, pasti orang cari jalan. Kalo ga ada kemauan, pasti orang cari alasan!

Dan itulah yang aku lakukan belakangan ini. Mencari alasan. Gatau kenapa. Rasanya ada aja yang ganjel. Aku menghindar dari semua masalahku. Mencari-cari alasan. Entah itu sakit, gak mood, gak konsen, bla bla bla.

Nah, terus alesan pagi ini males nulis adalah: Spasi Keyboard saya ga enak banget. Harus diteken gimana gitu. Jadi kayak ada yang gak lancar gitu. Nanti aku coba oprek dulu ya.. Nanti nulis lagi.

Pokoknya, kawan. Kalo kalian udah ngedapetin diri lagi cari-cari alesan, artinya kamu gak suka atau gak mau sama apa yang kamu jalanin itu. Gitu kali ya.. Nanti lanjut lagi deh nulis yang lain. Ini ga enak pisan ngetiknya! Hahahaha..

Wassalam.
»»  Read More...

Monday, 28 January 2013

Akhir Musim Dingin


Assalamualaikuuum..

Sudah hampir seminggu nih sayah tidak nulis. Ada satu dan lain hal yang harus di selesaikan. Sebenernya agak sedih sih karena si jari udah agak lama gak loncat-loncat di keyboard. Sekarang ada nih kesempatan untuk mencet-mencet tombol keyboard.

Alhamdulillah hari ini cuaca mulai menghangat. Bahagia liat cuaca hari ini tidak menunjukkan tanda-tanda minus. Minggu kemarin sempet dingin banget soalnya. Puncaknya lagi hari Sabtu minggu lalu. Minus duabelas derajat selsiusssss! Tapi aku udah ada rencana keluar rumah hari itu dan tetap dijalani.

Dengan perlengkapan lengkap tentunya, kawan. Baju lapis tiga, celana lapis dua, kaos kaki lapis tiga, terus masih pake sweater juga, terus baru deh di tutup sama mantel, syal dan sarung tangan. Pokoknya udah siap tempur banget. Padahal, biasanya aku paling anti pake syal dan sarung tangan. Tapi sudah lah yaaa.. Biar engga masuk angin. Hehehehe..

Cuaca emang dingin sedingin dinginnya gitu pas minggu kemarin. Aku seorang mahasiswi yang suka malas ke dapur untuk menggunakan kulkas, memanfaatkan udara dingin Eropa ini. Bahan-bahan yang harusnya kumasukkan kulkas, malah ditaro di luar jendela. Kecurian? Engga, soalnya alhamdulillah kamar di lantai dua. Masalahnya ada dua. Kalo engga ketiup angin, ya beku. Hahaha..

Aku pernah taro bawang daun di kulkas alamku itu. Eh, tapi pas besoknya ilang. Ketiup angin kayaknya. Soalnya tinggal beberapa lembar, jadi ringan banget gitu. Terus baru beberapa hari yang lalu, tengah malem aku agak lapar dan kedinginan. Aku berniat bikin susu coklat panas. Setelah bikin coklat panasnya dan tinggal masukin susu, ternyata susunya beku. Untung banget ada susu kental manis. Alhamdulillah.

Di Indonesia gimana nih? Apa cuaca masih buruk juga? Kalau iya, hati-hati ya kawan semua. Jaga kondisi tubuh biar engga sakit-sakit. Sarapan itu penting loh! Gak usah lah jajan-jajan dulu, makanlah yang benar dan sehat juga teratur. Jangan nunggu lapar, kawan. Hidup kan harus seimbang. Otak, hati dan badan harus terjaga asupannya. Belajar, ibadah sama hidup sehat jawabannya. Hidup sehat itu seenggaknya makan teratur dan sempetin olahraga. J

Buat yang udah keburu masuk angin terus jadi sakit, sabar ya kawaaan. Gak perlu ngeluh-ngeluh. Berdoa terus berusaha biar cepet sembuh. Istirahat aja, minta tolong sama orang terdeket untuk bantuin pergerakan kamu. Mereka pasti dengan senang hati membantu. Inget-inget dosa aja, kali aja banyak salah. Terus sabar dan ikhlas jalanin sakit. Mungkin aja Allah lagi ngurangin dosa kita. Semoga lekas sembuh untuk yang lagi kurang fit. Aamiin.. J

Tetap semangat kawan! Cuaca itu cuman sebagian kecil masalah yang ada saat ini. Ayo kerjakan apa yang haris diselesaikan dengan maksimal. Jangan lupa tetep inget sama yang Maha Kuasa. Bismillah, kita pasti bisa!

Walau posting ini agak gak jelas, semoga manfaat yaaa..
»»  Read More...

Monday, 21 January 2013

Catat!


Assalamualaikum, kawan-kawan semua..

Gimana nih kabarnya setelah melewati hari Senin? Masih oke kan? Masih luar biasa kan? Semoga masih dan makin semangat menghadapi hari-hari selanjutnya yaa.. Aamiin..

Udah baca salamceria belum? Gimana nih komentarnya? Dikritik kalo ada yang ganjel, di kasih saran kalo ada yang kurang-kurang, kasih pelajarannya kalo ada yang salah dong.. Plis banget. Bitte banget ini, bitte. Butuh masukan atuh sayah.. ;)

Hari ini aku mau sharing-sharing aja nih kayaknya. Kemarin abis nonton youtube (tuh pideo nya, ditonton mangga..), ustad @felixsiauw yang lagi isi materin di acaranya @pejuangsubuh tentang Habits. Nah, disitu aku dapat ilmu untuk membiasakan diri berlatih. Buat jadi seorang ahli itu bukan warisan. Tapi dari latihan dan mengulang-ulang terus. Kayak misalnya ngapalin ayat-ayat Al-Quran. Diulang-ulang terus aja sampe akhirnya nanti bisa. Masih inget gak sama yang aku tulis di Jadi Mandiri? Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Iya, paksain latihan. Nyambung juga yah, ternyata.. J


Bagitu juga dengan menulis. Harus dibiasakan. Tiap hari menulis. Semoga bisa lah yah istiqomah, bisa tiap hari nulis. Nulis yang kumaksud bukan cuman posting disini aja, tapi juga bisa nulis yang lain. Pengennya mah bisa tiap hari nulis buat BiruBicara, sih. Semoga bisa lah yaaa. Bismillah J

Nah, tadi pagi pas bangun tidur, aku inget mau nulis suatu tema untuk jadi salah satu cerita salamceria. Tapinya teh, setelah melakukan kegiatan lainnya, jadi lupa sampe sekarang. Harusnya pas dapet ide itu dicatet! Ditulis! Dimana aja, entah itu di henpon, entah itu di kertas yang ada disamping kamu, entah itu di Laptop. Dimanapun deh, harusnya kalo inget sesuatu, cepat ditulis!

Pernah gak kalian ngerasain hal yang sama denganku? Inget sesuatu, tapi gak ditulis. Entah itu males gerak atau lagi gak ada apa-apa untuk bisa dipakai menulis. Akhirnya, setelah beberapa menit atau bahkan beberapa detik kemudian menemukan sesuatu untuk menulis, malah lupa mau nulis apa. Kesel banget rasanya. Apalagi kalau alesannya mager. Rasanya pengen jitak diri sendiri.

Paling sering sih kejadian itu terjadi ketika mau belanja. Misalnya minyak abis, tapi gak ditulis. Terus gak punya list belanjaan. Akhirnya kalo lewat supermarket cuman inget harus beli sesuatu. Tapi sesuatunya itu gak tau apa. Lupa. Hasilnya, yang dibeli malah yang dipengen aja. Minyaknya engga dibeli. Terus pas nyampe rumah baru inget. Jadinya minjem minyak temen. *curhat*

Makanya, kawan. Ditulis! Dicatat! Dibaca!

Aku pernah denger:
“Kalo bilang ‘Bakal inget, gak usah di catet ini mah!’ itu adalah kebohongan terbesarku.”

Iya. Bener. Bohong banget deh, kalo pura-pura bakal inget apa yang emang harus dicatet. Yaaa, gak ngerti kalo emang kamu pintar atau jenius dan gak pernah ngalamin hal-hal itu. Aku kan cuman sharing. Kalo kamu masih suka lupa, biasakan bawa notes dan pulpen kemana-mana, yah.. Sekarang masukin gih notes sama pulpennya ke semua tas kalian. Sekarang! Kalo nanti, malah lupa ntar. J

Semangat kawan! Jangan sampai kesalahan kita hari ini terulang di esok hari. Rugiiiii... J
»»  Read More...

Sunday, 20 January 2013

salamceria: Jalanin Dulu Aja


Salah satu hobby Kiara adalah melamun. Sambil melow-melow liat salju yang turun lagi di akhir Januari, Kiara sedang ingat ibunya. Sudah lama ternyata Kiara meninggalkan tanah air. Sudah lama dia begitu sendirian. Kiara bersyukur dia mendapat teman-teman yang baik. Teman-teman yang selalu mengutamakan urusan dengan Allah. Kiara juga bersyukur karena sudah menggunakan kerudung sejak dulu. Sejak kejadian masuk SMA waktu itu.

Waktu itu hari pemesanan baju seragam SMA Kiara. Bersama ratusan murid lainnya, Kiara mengantri didepan koperasi sekolah baru. Kiara hanya mengeluarkan senyam-senyum asalnya pada beberapa orang yang tak sengaja bertatapan mata dengannya. Mama Kiara menunggu dengan sabar sambil memakan gorengan di kantin sebelah koperasi.

Gilaran Kiara tiba. Mamanya menyusulnya masuk ke ruangan koperasi yang penuh dengan seragam baru. Menurut penglihatan Kiara, pengurus Koperasinya adalah salah satu guru Kiara kelak. Maka dia dan mama nya sok kenal sok deket sama guru tersebut.

“Kiara, yah? Ukuran bajunya apa?” mungkin karena sudah lelah, guru itu bertanya to the point.

“L, bu.” Tak mau kalah, Kiara juga menjawab seperlunya. Tapi masih dalam batas sopan.

“Oke. Belinya mau berapa pasang, bu? Mau lengkap saja untuk seminggu?” Ibu itu bertanya pada mama Kiara.

“Eh, tapi bu.. Saya mau rok nya panjang. Boleh kan, bu?” Kiara menyela pertanyaan si ibu guru.

“Wah, nak. Di sekolah ini, gak boleh tuh permpuannya pake rok panjang tapi tangan pendek.”

Kiara memang sangat tidak suka memakai rok pendek. Cukup sudah tersiksa duduk tidak bebas selama tiga tahun di SMP. Sudah gerah sendiri harus beranggun-anggun dengan rok pendek yang tidak diciptakan untuk orang yang teledor dalam menempatkan kaki. Kiara agak kecewa. Menganggap sekolah ini, sekolah yang tidak gaul.

“Yah. Kalo gitu seragam saya panjang semua deh, bu. Saya pake jilbab nanti.” Jawab Kiara mantap.

Bukan hanya guru tersebut yang bengong. Mama Kiara juga terheran-heran. Memang selagi SD, Kiara diwajibkan oleh sekolahnya untuk berjilbab. Tapi setelah masuk SMP, Kiara memutuskan untuk melepas Jilbab. Keputusan yang diambil ketika membeli baju seragam juga. Dulu mama Kiara berpikir bahwa Kiara sudah akan terus berjilbab, tapi ternyata Kiara ingin mencoba melepas Jilbabnya ketika SMP. Tapi mama dan papa Kiara selalu menghargai keputusan putri yang satu ini, yang memang kadang-kadang diluar batas pikiran orang normal.

“Ki, kamu beneran mau pake kerudung lagi?” Mama Kiara masih terbengong-bengong.

“Eh, boleh kan mam? Lebih mahal ya bu harganya?” Kiara malah menghawatirkan biaya seragam.

“Engga beda jauh kok, nak.” Jawab Ibu Koperasi. Entah itu masih dalam keadaan kaget atau sedang promosi.

“Loh, masalah biaya sih ga masalah, sayang. Tapi kamu beneran mau pake kerudung?” Mama Kiara mengerutkan kening tanda berpikir.

“Iya mama, sayaaaang. Aku cape pake rok pendek. Gak sanggup deh.”

“Yasudah, bu. Saya beli sepaket seragam muslimahnya.” Mama Kiara cepat-cepat memutuskan. Takut pikiran anaknya berubah lagi.

Kiara seperti baru bangun dari mimpi ketika sampai dirumah dan mencoba seragam barunya. Putih abu-abu dengan lengan dan rok panjang. Kiara bingung. Kenapa dia membeli sepaket seragam itu. Kiara masih terduduk di kasurnya dengan seragam putih abu-abunya sambil melihat kerudung digenggamannya ketika Kaira, kakaknya, memasuki kamar.

“Ki. Kamu beneran pake kerudung sekarang?” Mba Rara kaget melihat Kiara menggenggam kerudungnya.

“Hehe. Iya, tadi Kiki beli seragam ini, mba. Kiki aja masih bingung ini.” Jawab Kiara sambil menyengir.

“Loh, kenapa bingung? Bagus kok, Ki. Alhamdulillah.”

“Tapi aku takut gak bisa istiqomah, mba.”

“Loh, emang kamu kenapa tiba-tiba beli seragam panjang? Mama tadi cerita sih, dia seneng banget, Ki.” Mba Rara menjawab sendiri pertanyaannya.

“Nah, itu dia, mbaaa.. Niatnya aja bukan mau berkerudung. Enak gak sih, mba?”

“Pake kerudung? Dicoba aja dulu, Ki. Dijalanin. Nanti Kiki jawab sendiri pertanyaan Kiki.” Jawab mba Rara bijaksana.

“Gitu yah, mba? Tapi kelakuan Kiara masih begini, mba. Masih jauh banget dari cewek-cewek yang berjilbab.”

“Loh, emang kenapa? Kan dengan berjilbab, kamu jadi malu ngelakuin hal-hal yang gak pantes dilakukan cewek berjilbab, dong? Jadi kamu bisa jaga diri juga. Masa cewek berjilbab nongkrong sepulang pas pulang sekolah? Masa cewek berjilbab mainnya sama laki-laki semua?” Mba Rara nyebutin beberapa kelakuan buruk Kiara selagi SMP.

“Aduh, mba Rara mah nyindir.”

“Makanya, gapapa dong ngejilbabin dulu luarnya, biar dalemnya malu sama luarnya. Ngerti gak?” Kiara mengangguk. “Kiki kan bilang mau jadi anak baik-baik kalo udah SMA.”

“Iya sih, mba. Kiki harus bisa nih.”

“Bisa lah, insyaAllah. Kalo orang bilang, ‘belum siap pake jilbab. Mau jilbabin hati sama perbuatan dulu’, kata mba Rara sih salah, Ki. Pake jilbab dulu, jadi bisa terhindar dari sifat-sifat yang jelek. Hati terlindung, perbuatan tejaga.”

“Iya sih, kak.”

“Masih nyesel?” tembak mba Rara. Kiara mengangguk pelan. Mba Rara menghela napas. “Kenapa nyesel, sayang?” Tanya mba Rara sabar.

“Kiki nyesel gak beli kerudung segitiga tadi, kak. Kiki pake kerudung ini keliatan tambah bulet.” Jawab Kiara santai sambil mencoba lagi kerudung digenggamannya.

Mba Rara hanya mengeleng dan menjitak sayang adiknya yang sudah besar itu. Lalu mengajak Kiara ke kamarnya untuk belajar menggunakan kerudung segitiga.

Kiara tersadar dari lamunannya sambil tersenyum dan langsung mengambil ponselnya lalu mengirim pesan bbm untuk mba Rara. “Terimakasih waktu itu ya, mba. Sekarang aku udah istiqomah pake Jilbab dan menjilbabkan hatiku sedikit demi sedikit.” Lalu Kiara melanjutkan kembali aktivitasnya yang terganggu lamunan panjangnya akan masa lalu.
»»  Read More...

Thursday, 17 January 2013

Sindiran


Asalamualaikum, saudara-saudariii.. J

Bagaimana teman-teman di Jakarta? Kena banjir kah rumahnya? Atau jalanan menuju tempat aktivitasnya terganggu? Denger-denger malah ada sekolah sama kuliah yang diliburin yah gara-gara banjir? Semoga banjir Jakarta yang luar biasa ini, ada hikmahnya yah.. Bersyukur banyak banyak kalian masih bisa tidur, gak kedinginan, bisa sambil minum yang anget-anget, bisa internetan pula. Kita doain saudara-saudara kita yang terkena musibah, yaaahh.. J

Tadi pas pulang dan buka internet, aku liat salah satu temenku nge-Share foto gitu. Intinya mah, Jakarta abis hura-hura, eh malah kena musibah yang besar. Terus aku senyum. Abis itu mikir. Ini maksudnya si gambar apa yah? Tanpa membaca keterangan gambarnya. Terus aku menyimpulkan bahwa itu sindiran. Eh, gak lama dapet kabar gak enak dari temen aku. Rasanya pengen aja gitu nyindir di media sosial. Tapi buat apa nyindir?

Gambar yang di-Share temen
Aku malah agak lama diam. Berpikir. Ngapain juga nyindir yah, kalo ujungnya malah bikin perang di dunia maya. Kalopun enggak di bales sama yang kesindir, entar dia malah makin dengki sama aku. Makanya, lebih baik diam yah? Toh gak bikin kita jadi sakit, kan?

Sindiran itu apa sih sebenernya? Kalo menurut aku, sindiran itu adalah perkataan seseorang yang enggak nyebut nama, tapi JLEB gitu buat seseorang. Bener gak? Si penyindir ini juga kayaknya emang ada dua jenis. Pertama, yang emang sengaja nyindir. Kedua, yang polos asal ngomong ceplas-ceplos sehingga orang disekitarnya merasa tersindir. Benar begitu?

Aku pernah jadi kedua pelaku penyindir tersebut. Kalo yang pertama, emang aku pernah lagi kesel gitu sama orang. Terus males ngomong samanya, malah berkoar-koar gak jelas di dunia maya. Pengen orangnya baca. Pengen orangnya mikir. Malah aku pernah juga cerita bersifat nyindir di BiruBica. Liat aja tuh kelakuan aku jaman dulu. (3S yang lain)

Menurut aku, sindiran seperti ini ada baiknya ada jeleknya sih. Baiknya, kalo yang tersindir jadi sadar terus memperbaiki sifat. Mungkin malah suatu saat dia bakal makasih sama yang nyindir. Tapi buruknya, PERANG. Kalo cewek sama cewek mah biasanya perang dingin. Kalo udah begitu, lamanya bisa gatau sampe kapan. Kalo gak perang dingin, ya adu mulut atau malah bisa sampe ribut, berantem ngeluarin kekuatannya masing-masing. Aduuh, repot yah kalo begitu?

Naaaahhh.. Kalo yang kedua, aku baru sadar setelah sahabatku itu merasa tersindir. Inget banget waktu itu kami lagi jalan-jalan di Mall keren di Jakarta. Terus aku kan jarang ke Mall, jadi ikut aja mau makan apa. Jadi, pas muter-muter cari makan aku ikut aja. Bilqis dan yang lain juga masih bingung mau makan apa. Tetiba, setelah agak lama nyari makan, aku ngomong : “Wah, udah satu puteran nih kita!” Dengan muka tanpa dosa. Dengan ketidaksadaran. Dengan tidak bermaksud menyindir kawan-kawanku tercinta itu. Tapi mereka langsung kesel gitu kayaknya sama aku hari itu. Maaf berkali-kali lagi ya oyong, terutama bilkisss.. :”)

Abis kejadian itu, kawan-kawanku tercinta itu suka ngebahas sindiran tajam yang suka tiba-tiba keluar dari mulutku. Ternyata aku tukang nyindir. Oke, makanya kadang kalo ngomong suka ngerem sekarang. Kalo nulis juga kadang suka ngerem. Tapi kadang suka geregetan juga kalo udah dibilangin gak bisa-bisa. Makanya masih suka aja nyindir. -____- (Mohon maaf jika ada yang pernah atau sering tersindir sama sayah. Maap pisan.)

Kalo masalah disindir, aku gak punya cerita banyak-banyak sih. Sering juga sih ngerasa tersindir. Apalagi sama ustad-ustad. Haduuu... JLEB banget deh. Tapi aku cenderung orang yang diam kalo tersindir. Mikir. Kalo sebel sama yang nyindir, yaudah. Diem. Hehehe..

Semoga kita bisa jadi orang yang lebih bijak lah, yah. Yang bisa kasitau temen tanpa harus nyindir. Yang bisa terima sindiran orang dan berpikir. Aamiin..

Sukses ya, kawan-kawan. Dimanapun kalian berada. Jangan lupa berdoa. Allah itu MAHA KUASA. Sabar dan ikhlas jalanin semuanya, ya.. J


»»  Read More...

Wednesday, 16 January 2013

salamceria: Kekuatan Do'a


“Teeeeettt... Teeettttt..” Terdengar suara bel rumah berbunyi.

Kiara yang sedang masak seadanya langsung mematikan kompor dan segera membukakan pintu. Setengah terkejut, tenyata Fina yang datang.

“Assalamualaikuuuuum, ibu cantiiiikkk..” Salam Fina sambil spontan memeluk Kiara.

“Waalaikumussalam, Fiiin. Ya, ampun. Kok gak bilang mau kesini? Berangkat pagi-pagi kamu? Mau ngapain kesini?” Pertanyaan orang terkejut memborong Fina.

“Aduuh, di suruh masuk dulu kek temennya ini. Dingin, tau.” Omel Fina sambil langsung masuk.

Fina menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari kotanya dengan menggunakan kereta ekonomi untuk mengunjungi Kiara. Sambil memperhatikan Fina yang membuka mantel nya, Kiara masih kehabisan kata-kata. Hanya tersenyum. Sambil menunggu jawaban dari pertanyaan rombongannya tadi.

“Gue mau kasih kejutan aja. Kangen, Ki. Iiih.. Makin tembem aja sih kamuuuu..” jawab Fina akhirnya sambil mencubit gemes pipi Kiara yang memang agak membesar.

“Kok lo keliatan seneng banget sih? Ada apa sih, Fin?”

“Gue masih seneng ketemu elu, Kiiiiii...”

“Hahaha.. Engga, pasti ada sesuatu nih. Lo terlihat mencurigakan.” Kiara mulai suudzan.

“Gue seneng, Ki. Akhirnya ujian demi ujian gue lalui dengan lancarrrr...” Akhirnya mengakui.

“Terus lo langsung meluncur kesini, gitu?” masih heran sama sahabatnya yang punya sifat spontanius.

“Ya udah sih. Terima aja gue disini.”

“Iye, iyeee.. Gimana ujian-ujiannya? Cerita laaahhh.” Kiara lalu meneruskan memasak sambil mendengarkan cerita Fina.

“... Pokoknya, Ki. Setelah gue cerita sama nyokap, kalo gue ini panikan mau ujian lah, ini lah , itu lah. Kayaknya nyokap doain gue, deh. Pas ujian, semuanya lancar aja gitu.” Jelas Fina akhirnya.

“Wah, doa ibu emang ampuh ya, Fin. Makanya lo juga terus doain nyokap lo.”

“Iya, Ki. Sekarang gue sholat udah gak bolong-bolong lagi deh seenggaknya. Malu juga gue, udah tua masih bolong-bolong kalo sholat.” Jelas Fina tanpa melihat mata Kiara.

“Terus hasilnya lo jadi seneng banget begini ya, hari ini?”

“Ini gue gak tau dapet energi darimana, Ki. Tiba-tiba seneng banget hari ini.” Fina terlihat baru menyadari semangatnya yang berlebih hari ini.

“Mungkin nyokap lagi doain lo, Fin.” Sambar Kiara sambil menata masakannya yang baru jadi.

“Aduuhh.. Nyokap gue baik banget yah?”

“Hahaha.. Makanya, kalo berdoa sebut juga orang-orang yang lo sayang. Biar mereka juga bisa ngerasain kesenengan kayak yang lo rasa sekarang ini, Fin.”

“Bener. Jadi tanpa diminta juga kita udah doain lah ya..? Kali aja mereka pas doa juga jadi inget kita.”


“Iya, genau! Cuci tangan gih! Makan dulu kita.” Kiara mengakhiri pembicaraan lalu mereka menyantap makanan mereka.

Belajar Jerman
Genau  (ge-nau)              : Tepat


»»  Read More...

Launching SALAMCERIA


Assalamualaikuuum..

Iya, aku tau ini udah hampir tengah malem di Jerman. Tapi alhamdulillah si otak masih kerja. Pengen banget nulis ini-itu. Mungkin hari ini jadi hari produktif buat aku. Hehehe..

Tadi setelah blogwalking ke blog-blog yang keren, aku baca beberapa dari mereka punya cerpen di blognya. Terus aku pikir, oke juga ya kalo lagi pengen buat cerpen, terus di post aja di sini. Akhirnya, aku ikut-ikutan bikin cerpen. Terkesan kayak ikut-ikutan yah? Iya, sih emang. Tapi pengen juga berbagi pikiran yang melintas. Di tulis dalam bentuk fiksi sebagai cerpen.

Nah, nama cerpen-cerpen di BiruBica ini adalah: SALAMCERIA. Kenapa namanya aneh? Sebenarnya itu singkatan maksa gitu. Hehehe.. Salamceria itu singkatan dari peSAn daLAM CERItA. Itu juga tadi tiba-tiba cling dapet ide lewat.

Udah ada dua cerita salamceria nih. Pertama, Sepotong Ayam. Terus yang kedua, Khawatir. Maaf-maaf aja kalo tulisan aku menyindir pembaca atau gimana. Tapi kan untuk instropeksi kita sendiri kok sebenernya. Aku juga masih harus instropeksi. Mungkin dengan menulis pesan-pesan itu, aku juga bisa istiqomah mengerjakannya.

Dalam cerpen salamceria ini, aku juga menulis beberapa kata dalam bahasa Jerman. Kata yang memang sering diucapkan sama orang Indonesia di Jerman, juga sama orang Jermannya sendiri. Aku tuliskan juga kok gimana cara membacanya. Jadi sambil baca cerpen, nangkep pesan, sambil belajar Jerman juga dikit-dikit. Ya nggak?

Semoga aku tetap bisa menulis salamceria yaaa.. Semoga manfaat yaa.. Kalau mau kritik atau ngasih saran boleh di kolom komen di bawah. Atau bisa juga mention si @niwiarti. Atau bisa juga di kontek di Facebook lewat Niwiarti Wijadhy. Makasih, kawaaan..
»»  Read More...

Tuesday, 15 January 2013

salamceria: Khawatir


Ringtone Ponsel Kiara berbunyi. Padahal Kiara sedang asik baca artikel di Laptopnya. Sambil dengerin lagu yang dia pasang kencang-kencang. Kiara memang kadang sebal dengan kesendirian. Sepi sekali. Memang bagus sih buat merenung, tapi kalo tiba-tiba jadi galau gimana? Makanya dia kadang benci sendiri, kadang seneng banget kalo sendiri.

Ternyata Fina yang meneleponnya. Sahabatnya tercinta yang memang harus berpisah kota dengan Kiara saat di Jerman. Walau pisah kota, mereka tetap rajin komunikasi. Entah itu lewat telepon, bbm, skype atau malah saling mengunjungi.

“Assalamualakum, Fiiin.. Ada apa?” Sapa Kiara sambil mematikan lagu yang kencang itu.

“Waalaikumsalam. Kiiii.. Gue pusing banget iniii..” Suara Fina terdengar memelas.

“Kenapaaaa? Cerita monggooo..”

“Besok gue Kontrolle, Kiii. Huaaaa..” Terdengar nada kecemasan diseberang sana.

“Kontrolle apa, Fin?” Kiara masih menanggapi santai sambil sedikit-sedikit melirik artikel yang dia baca sebelumnya.

“Deutsch, Kiiii.. Aduuuh.. Gimana inii..”

“Belajar lah, Fin!” Kini Kiara mulai meninggalkan Laptopnya dan fokus pada Fina.

“Ini gue mau belajar malah takut-takut terus, Ki.”

“Sholat dulu makanya!” Masih menjawab santai. Sahabatnya yang satu ini memang panikan sejak mereka menghadapi ulangan pertamakali di SMA.

“Udaaaah.. Aduh, gue mau jungkir balik aja ini.” Fina semakin cemas.

“Emang lo gak gitu nguasain materinya, Fin?”

“Bukan gitu, Ki. Kontrolle kemarin nilai gue gak bagus-bagus amat. Gue takut nilai sekarang malah jelek lagi.”

“Lah, kemarin kenapa nilainya jelek?”

“Gue panik gitu semaleman. Sampe gak bisa tidur, terus pas ujian malah nge-blank. Gue takut besok gue malah begitu lagi.”

“Aduh, Fiin.” Kiara menggelengkan kepalanya.

“Ki, lo sini apa temenin gue.”

“Dikira jarak kota kita deket apa, Fin?” Kiara sewot.

“Aduuhh.. Gue takut banget, Kiii..”

“Shh.. Tarik napas, Fin!” Fina pun lalu menuruti perintah Kiara.

“Terus, Ki?”

“Udah, cukup belajarnya. Lo tidur gih. Witir dulu aja sebelum tidur. Berdoa sama Allah, minta ketenangan. Masalah lo gak akan selese kalo lo panikan sekarang, malah bikin masalah tambah runyam, Fin.”

“Elu enak ngomong doang. Prakteknya susah tau!” Fina terdengar ngambek.

“Yeee.. Belum dicoba udah pesimis duluan. Jelas gak akan bisa. Positiv thinking terus dong, Fiiin...”

“Eh..” Fina seperti menyadari sesuatu.

“Ayo, jangan kalah sama pikiran negatif lo! Semangat, Fiin. Lo pasti bisaaaa..” Ujar Kiara ceria.

“Iya, bener sih, Ki. Danke banget ya, Ki. Gue tidur deh sekarang. Doain gue ya, Kiii..”

“Iya, Fin. Selalu. Bismillah yaaa.. Sana gih tidur! Gute Nacht.”

“Sip, sip. Bismillah. Gute Nacht, Ki. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.” Tutup Kiara sambil masih menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum. Semoga Fina dikasih kedamaian hari ini, deh. Kalo khawatiran terus, bisa gawat dia. Aamiin..

Belajar Jerman
Kontrolle (kon-tro-le)    : Ulangan
Deutsch (Do-ich)           : Bahasa Jerman
Gute Nacht (Gute Nah) : Selamat malam/tidur
»»  Read More...