Friday, 30 November 2012

Lika-Liku Pindahan



Masa Studienkolleg-ku sudah habis sebelum liburan musim panas yang lalu. Kontrak kamar juga habis bulan Agustus. Sementara aku sudah merencanakan liburanku di Indonesia mulai akhir Juli sampai pertengahan September. Maka sebelum liburan ke Indonesia, aku harus keluar dari kamar itu. Sebagai seorang pelajar yang merantau, maka urusan pindah memindahkan barang ini termasuk susah.

Kamar harus terlihat sama seperti pertama kali masuk. Termasuk dapur dan kamar mandi. Maka aku harus ekstra bersih-bersih kamar, dapur dan kamar mandi. Bayangan di kepalaku saat itu, mengeluarkan semua isi kamar, dan mulai mengelap seluruh permukaan kamar. Turunlah sang koper raksasa dari persemayamannya di atas lemari.

Aku berniat memindahkan semua barang-barangku ke salah satu rumah temanku yang masih harus menjalankan Studienkolleg-nya di semester depan. Jadi sesampainya lagi di Jerman, aku berniat numpang beberapa minggu di tempat tinggalnya, sampai aku mendapat kamar baru di kota baru. Karena pengumuman Universitas di umumkan via POS pada waktu aku di Indonesia.

Langkah pertama yang kulakukan, adalah membeli peralatan bebersih. Dari plastik sampah sampai pengharum ruangan. Lalu aku mulai memasukan perintilan-perintilan di rak bukuku ke plastik besar supaya tidak berceceran di koper dan di rumah temanku. Satu koper penuh siap di pindahkan. Seseorang yang dulu spesial untukku, membantuku dengan semangat. Dia bahkan membawa kopernya ke kamarku dan memasukkan buku-buku yang cenderung berat itu.

Dengan dua koper penuh, satu tas belanja IKEA, dan beberapa tentengan, termasuk bonekaku, si ableh, kami JALAN ke rumah tujuan. Tidak begitu jauh memang, tapi sedikit terlihat lucu dengan bawaan sebanyak itu. Sesampainya di rumah temanku, barang di keluarkan dari koper, dan kami balik lagi ke kamar ku untuk membawa barang lagi.

Kegiatan pemindahan barang dengan dua koper itu kurang lebih dilakukan selama empat kali. Lalu kami, ya aku di bantu oleh si spesial masa itu, mulai menyapu, meyikat, mengepel, mengelap dan akhirnya menyemprotnya dengan pengharum ruangan. Beberapa hari kemudian, aku menemui Hausmeister (Landlord) untuk menyerahkan kunci. Selamat tinggal kamar penuh kenangan.... 

Itu baru bagian pengosongan kamar. Aku masih harus membeli kardus pindahan di semacam toko bangunan yang letaknya tidak jauh dari rumah temanku, tempat aku menaruh semua harta benda ku, tapi harus melewati jalan besar (semi jalan tol) yang tidak mempunyai trotoar. Aku membeli empat kardus ukuran sedang (yang ternyata lumayan besar) dan Lakban.

Jalan dengan membawa empat lapisan kardus di musim semi sangatlah tidak mudah. Angin kencang membuat aku oleng. Apalagi kalau ada mobil besar seperti Truck lewat. Berbagai cara memegang lapisan kardus itu sudah dicoba. Mulai di apit di tangan sampai digendong di punggung. Tapi yang paling mujarab adalah ditaruh di atas kepala.

Sesampainya di rumah temanku, aku langsung memilah-milah, barang mana masuk kardus mana. Juga mempersiapkan koper untuk ke indonesia, lusanya. Empat koper sudah siap kirim ke entah kemana. Aku meminjam pojok kamar itu untuk menaruh empat kardus dan dua boneka ku yang tak tega kumasukan ke dalam kardus (satu boneka ku memang tidak muat dalam kardus). Dan aku siap untuk liburan di Indoneisa tercinta.

Pertengahan September, aku sudah kembali lagi ke Jerman. Tanpa rumah, aku hanya bisa menggeret koperku ke rumah temanku. Segera ku baca semua surat dari universitas yang kudapat, setelah aku selesai urusan dengan Jet-Lag ku. Dan dengan rasa syukur, aku mendapatkan tempat di Marthin –Luther Universitaet Halle Wittenberg. Kota Halle yang lebih besar dari Nordhausen. Hanya dua jam perjalan naik kereta biasa dari Nordhausen.

Aku mulai mencari kamar di Halle lewat internet. Semua nomor telpon yang ada aku hubungi. Tapi responnya selalu tidak memuaskan. Entah sudah tak ada lagi kamar kosong atau terlalu mahal untukku. Sampai akhirnya, diakhir bulan, aku mendapat tawaran kamar kosong. Walau harganya tidak murah, tapi masih bisa diakalin dengan pengiritan drastis.

Jumat pagi itupun, aku berangkat ke Halle, sendirian dengan bermodalkan doa, nomor makelar rumah, dan nomor teman Indonesia di Halle. Sesampainya di Halle, aku langsung menuju alamat si calon kamar. Disana sudah menunggu dua orang mahasiswi yang sepertinya akan melihat kamar itu juga. Tapi kecewaku datang lagi ketika sang makelar bilang, bahwa harga tersebut belum termasuk listrik dan air. Aku tidak mungkin mengambil kamar itu.

Aku jalan menuju taman yang kulihat sebelum sampai di alamat tersebut. Aku duduk sendirian di temani angin musim gugur. Aku mulai mencari-cari lagi nomor telepon yang bisa kuhubungi di Internet, sambil mengunyah roti-Nutella yang kubekal dari Nordhausen. Aku juga menghubungi temanku di Halle.

Pencarian nomor telpon terhenti ketika sudah kecewa dengan beberapa nomor yang tidak merespon dengan baik. Untungnya, temanku merespon sms ku dengan baik. Akupun mengunjungi rumahnya untuk numpang Sholat. Disana aku dikenalkan oleh beberapa orang temannya yang juga sedang mencari kamar sepertiku. Bedanya, mereka memang anak Halle. Mereka menyelesaikan Studienkolleg di Halle.

Sorenya, aku pergi bersama tiga teman baruku. Dari empat orang dari kami, belum ada satu[pun yang mempunyai kamar baru. Harapanku kecil ketika mengunjungi mantan rumah salah satu temanku. Dan ternyataaaa.. Ada satu kamar kosong di rumah itu!

Ketiga temanku itu menyerahkan kamar langka ini kepadaku. Kata mereka, mereka masih bisa menumpang di rumah teman-teman mereka di Halle, sedangkan aku sendirian disini. Aku langsung mengiyakan untuk tinggal di Burgstr no.18 itu. Hari Senin aku langsung di kasih kuncinya.

Lika-liku perjuangan pindah-memindahkan barang ini, diselesaikan dengan mengirim empat kardus dari Nordhausen ke Halle.

Dengan beberapa cerita serta kejadian aku dan temanku, aku menyimpulkan. Pindahan itu harus sabar dan pasrah. Pasti ujungnya ada keajaiban tak terduga yang membuat kamu bisa mengucapkan hamdallah berkali-kali. 

»»  Read More...

Thursday, 29 November 2012

Satu pagi menjelang Winter



Payung, Mantel dan Kaos kaki. Ya, tiga benda itu sangat dibutuhkan untuk menghadang cuaca seperti ini. Menjelang winter di akhir November. Aku di bangunkan oleh suara adzan dari HP-ku. Itulah salah satu cara pengingat sholat di awal waktu bagiku, seorang pelajar muslim di benua biru, Eropa, yang sebentar lagi akan menghadapi winter.

Aku mengumpulkan semua niatku untuk berangkat ke kampus jam tujuh pagi di hari Rabu yang dingin itu. Ramalan cuaca di laptop hanya memperlihatkan angka delapan. Aku cepat-cepat memakai sweater hangat kesayanganku dan menyambar matel sebelum buru-buru memakai sepatu dan berlari ke Halte. Aku nyaris ketinggalan Tram yang cuma ada 20 menit sekali itu.

Tram arah kampusku pagi itu, seperti biasa, penuh dengan anak-anak yang berangkat sekolah. Mulai dari anak SD sampai mahasiswa dan gak kalah kake-kake dan nenek-nenek yang mungkin mau menghirup udara segar kota Halle. Lantai tram basah karena sepatu-sepatu penumpang yang juga basah, juga karena payung yang masih menampung air hujan. Tak lama, tram tiba di Halte tujuanku. Dengan susah payah menembus kerumunan anak-anak, aku akhirnya turun.

Langit masiih hitam, padahal jam tangan menunjukan pukul 7.20. Rintik-rintik air yang ringan masih menyerbu dari langit. Aku berjalan sendiri ke arah Kampus. Basah, karena terlalu buru-buru sampai lupa membawa Payung. Beberapa sepeda menyusulku menuju parkiran sepeda di depan kelas. Si pengendara sepeda memakai perlengkapan anti dingin, dari Boots, Jaket tebal, Syal, sarung tangan, dan Topi (kupluk).

Kira-kira seperti ini
Kelas sangat sepi saat aku masuk. Tapi hangat luar biasa. Aku langsung duduk di tempat biasa dan membuka mantelku yang agak basah. Dosen belum datang, teman-teman lain terlihat memakan bekal rotinya. Aku hanya mempersiapkan buku dan melihat sekeliling. Semua tampak tidak antusias untuk menerima pelajaran hari ini.

Dosen datang diikuti teman-temanku yang lain. Kuliah dimulai tepat pukul 07.30, dimana sudah sebagian besar kursi terisi. Dosen memulai kuliah hari ini dengan bergurau bersama beberapa mahasiswa yang duduk di depan. Aku mempersiapkan catatanku. Pulpen dan pensil sudah tersedia rapih. Aku mulai menyimak dan mencatat yang penting-penting, sampai ketika beberapa mahasiswa yang terlambat duduk di depanku.

Sejak konsentrasiku agak buyar, aku terkadang melihat keadaan kelas. Ternyata pagi yang dingin ini membuat beberapa anak mengantuk dan meminum kopi hangatnya sambil mendengarkan dosen. Ada juga yang mungkin menceritakan dinginnya cuaca hari ini pada teman sebelahnya. Sampai ada beberapa anak yang mungkin mengantuk dan mengeluarkan Laptop dari tasnya untuk bermain game.

Kesadaran belajar disini sangat ditentukan oleh tanggung jawab pribadi. Dosen tidak merasa terganggu oleh ulah beberapa anak, beliau terus mengajar untuk mahasiswa yang memang ingin belajar. Walalu diluar masih gelap dan juga hujan, sang dosen dengan semangatnya mengajarkan materi kuliah semaksimal mungkin. Mungkin itu juga yang harus dilakukan pelajar-pelajar yang bergelut dengan materi kuliah dan winter : SEMANGAT.

Ya.. Mungkin agak sedikit membosankan membaca ini. Tapi aku akan mulai mencoba untuk menulis setiap hari lagi. Sampai tulisanku engga semembosankan ini.  
»»  Read More...

Move On

Hai kawan, aku nemu ini di draft ku. ternyata udah jadi tapi ga aku post karna mungkin aku terlalu malu untuk posting ini dulu. Kira-kira setahun yang lalu. Ternyata bisa ngebuka pikiranku sekarang, moga bisa buka pikiran kalian juga yaaa..


Assalamualaikuuuuummm semuanyaaa..

Hmm, jangan salah kira ya judul Postingan kali ini berhubungan dengan si Pengembaraku itu. Hahaha.. Jauuuuhhh..

Move On. Sering banget kata itu kita denger sekarang-sekarang ini. Liat twitter, facebook, film, ato dengerin radio, banyak banget yang bilang, "Lo harus bisa Move On!". Tapi kebanyakan, itu move on dari masalah percintaan kalangan muda yang sedang menggalau ria. Padahal sakit hati dan menggalau itu bukan cuma karna cinta loh.. Banyak hal lain yang bikin kita sakit hati, dan harus dilupain terus mulai yang baru.

Aku cuma mau berbagi pengalaman aja niiihh.. Kalo mau tau, ya mangga di baca, kalo gamau ya silahkan membuka situs lain. Pengalaman kali ini memang berhubungan dengan move on. Tapi seperti yang aku bilang diatas tadi, pengalaman ini ga ada hubungannya dengan cinta.

Masalah. Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun, pasti aja ada masalah. Kita memang ga mau masalah itu datang, tapi apa artinya hidup kalo ga ada masalah? Ya kaaaannn.. Nah, sesungguhnya saat ini aku bisa dibilang sedang ketumpahan masalah. Satu hal yang buat aku ga bisa ngapa-ngapain. Kejadian yang bikin aku gabisa tidur nyenyak setengah bulan terakhir ini. Masalah ini diawali dengan kepolosanku membuka telinga, mata, hati dan pikiran pada sesuatu yang harusnya ga penting.

Gini nih cerita singkatnya..

Saat itu, aku lagi semangat banget ngejalanin satu kerjaan. Dimana aku udah mulai bisa adaptasi dan punya motivasi. Aku belajar untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik di kerjaan itu. Tiba-tiba, karna kepolosan yang tadi aku bilang itu, aku mendapati diriku yang sakit hati. Aku gabisa apa-apa. Aku payah banget waktu itu. Aku sedih banget. Semangatku hilang. Kerjaanku berantakan. Aku hancur.

Si Pengembaraku ga biarin aku dalam keadaan kayak gitu. Dia ceramah ini itu, marahin aku, nyabar-nyabarin aku, nemenin aku, sampe akhirnya semangatku bangkit lagi. Setengah kerjaan yang hancur itu, harus kubenarkan sampe waktu yang udah ditentukan. Aku kembali bangkit, semangat dan berusaha agar kerjaanku selesai tepat waktu.
Hari itu, waktunya tiba. Hari dimana kerjaanku direspon. Pagi hari, aku mendapati diriku senyum-senyum karena sebagian kerjaanku direspon sangat baik. Aku lihat ada cahaya (lebay), ada celah dimana seluruh kerjaanku akan berhasil. Aku seneng banget. Terharu, aku langsung ngasih tau si pengembara. Tapi tentu aja, aku agak takut dengan hasil keseluruhannya, karna aku tau, diawal aku ga kerja dengan baik.

Siangnya, dimana aku sangat sangat sangat degdegan dengan hasil kerjaanku, dimana aku sudah punya rencana untuk bertanya, aku malah dipanggil duluan. OK. Ini bisa jadi berita baik, ataupun buruk. Aku berpikiran positiv kali itu. Dan ternyataaa.... Kerjaanku di tolak. Aku gagal. untuk pertama kalinya aku gagal dalam bidang yang satu ini. Aku sangat sangat sangat gatau apa yang harus kulakukan saat itu.

Gamau ketemu sama semua orang, aku cuma nunggu si Pengembaraku itu, langsung ngasih tau dia, dan langsung pulang tanpa babibu. Aku ga keluar rumah. Keluar kalo emang penting doang. Kalo ga ada makanan doang, itupun kalo inget makan.

Iya, jujur, sampai sekarang aku belum bisa move on. Tujuan aku nulis kayak gini, biar orang yang baca bisa move on. Yang baca. Jadi termasuk aku, si penulis. Kalo aku bisa move on di masalahku yang pertama, sampe aku dapet sesuatu yang bagus, kenapa kali ini gabisa? ini memang lebih besar sakitnya, tapi terus kenapa? Toh ini bisa dijadiin pelajaran untuk kedepannya.

Mari kita lupakan sementara masalah kita, baik yang besar atau engga. Kita simpan masalah ini di suatu tempat yang tertutup. Jangan kita buang hal buruk ini. Sesakit sakitnya masalah ini, kita butuh loh untuk jadi pelajaran disuatu saat nanti. Jadi, yuk kita taro ini di ujung sana. Jadi suatu saat nanti, kalo kita lagi beres-beres hati dan nemuin masalah ini, kita bisa senyum. Kita bisa sukses dengan melewati masalah ini. Move on yuk teman :")
»»  Read More...

Thursday, 22 November 2012

Hanya Mereka



Dingin. Dengan suhu delapan derajat celcius diluar kamar, aku tetap tak mau beranjak dari kasurku yang hangat ini. Walau setelah akhirnya aku membuka tirai kamarku, ternyata sinar matahari yang terlihat hangat tidak menggugah hatiku untuk keluar dari kamar.

Aku sudah hampir tiga bulan terus menerus seperti ini. Aku tau ini salah. Jalan hidupku sedikit demi sedikit digantungkan pada diriku sendiri, yang pada akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di benua eropa. Jerman. Negara yang modern dan antik sekaligus menurutku. Dulu, semuanya begitu indah. Indah karena setiap hari aku selalu melihat dirinya. Penuh semangat, tampan, menyejukkan, dan juga menyebalkan.

Keindahan itu hilang setelah aku kembali lagi ke Jerman setelah liburan musim panas di Indonesia. Aku kembali sendiri. Seorang yang mempunyai semangat tinggi itu, memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di negri kami tercinta, Indonesia. Dan untuk meraih kesuksesan yang seimbang, kami memutuskan hubungan kami.

Aku pikir, semua akan berjalan lancar. Tapi kekecewaan itu datang ketika kamu mengharapkan sesuatu dengan terlalu tinggi, dan kamu tidak mendapatkannya. Itulah aku sekarang. Dimana aku telah begitu banyak memberi harapan pada masa depanku bersamanya. Semangatku ada dalam senyumnya. Senyumku ada untuk tatapannya. Sehingga, aku tak bisa lagi tersenyum, semangat dan meraih masa depanku lagi.

Hidupku seakan hancur berkeping keping. Tak tau semangat itu hilang kemana. Mungkin masih ada padanya. Harapan yang hancur, kupunguti satu persatu. Tapi sebagian besar hilang, karena harapan yang kubuat bersamanya, telah hilang. Aku hanya berharap, aku bisa menukan pengganti harapan itu. Aku tak mau lagi tidur dengan dihantui mimpi-mimpi buruk yang membuat aku sesak napas.

Banyak sekali yang bilang, jangan biarkan kejadian masa lalu membuat harimu berjalan buruk dan merusak masa depanmu. Aku sangat ingin keluar dari masa kelabu ini dan mempraktekan kalimat itu, tapi jujur masa ini sangat sulit jika kau lalui sendiri. Temanku bilang, mereka akan ada untukku, tapi aku juga tau diri untuk tidak selalu ganggu hari mereka yang sedang membangun masa depannya.

Keluarga memang tempat yang paling tepat untuk berbagi kesedihan dan menemukan masalah serta menularkan kebahagiaan, tapi apa yang harus kulakukan jika kesedihan itu ada sebab tersendiri dari larangan orang tua. Benar, wejangan orangtuaku dulu sebelum aku berangkat ke Jerman adalah, serius kuliah, ga usah terlalu mikirin orang lain, dan gausah kenal laki-laki.

Mungkin ini juga yang namanya hukuman. Hukuman karena aku telah melanggar aturan hidup. Tapi apa aku tidak berhak untuk bahagia? Itulah yang jadi pertimbangan untukku. Sampai akhirnya aku mengenal lelaki itu, mengenalnya sangat dekat, dan menganggap dirinya adalah penggati seluruh keluarga aku saat aku di Jerman.

Aku salah.

Teman, sahabat, pacar. Mereka semua kelak akan pergi. Mereka semua akan mempunyai kesibukan mereka sendiri. Mereka membangun masa depannya sendiri. Kita punya mereka, karena kita ditakdirkan untuk saling membantu masa depan itu. Jika pacarmu itu memang jodohmu, maka dialah yang akan menjadi masa depanmu kelak. Jika bukan jodoh, dialah yang membantumu meraih masa depan itu.

Tapi Keluarga. Mereka hidup untukmu. Mereka yang tau keadaanmu saat senang atau sedih. Mereka yang harus pertama kali kau beritahu mengenai kabar apapun, suka atau duka. Karena mereka akan menerima dengan ikhlas apapun itu. Mereka tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah membencimu, ketika semua orang di dunia menghindarimu. Keluarga adalah satu-satunya tanggung jawabmu, sampai kelak kamu punya keluarga beserta tanggung jawabmu sendiri.


Hei, aku tau. Aku tau perasaan dimana kamu menganggap orang tuamu terlalu kolot. Mereka tidak mengizinkanmu pulang malam disaat teman-temanmu yang lain dengan bebasnya pulang jam berapapun dia mau, ada juga yang boleh menginap. Atau mereka tidak mengizinkanmu untuk pacaran. Padahal teman-temanmu sudah cerita tentang berbagai mantan, bergandengan tangan dimana-mana bahkan sampai ada yang sudah mengenalkan pacarnya kepada orang tuanya.

Tapi orang tuamu itulah yang tau bagaimana keadaan anak tercintanya, Mereka tau yang terbaik bagimu. Jangan sekali-kali kamu menggerutu pada mereka. Jika kamu tidak terima dengan larangan-larangan itu, bicaralah pada mereka. Diskusikan. Mereka akan mengerti dan sangat merasa dihargai, daripada kamu diam-diam melanggar aturan mereka.

Mungkin beberpa dari kalian yang membaca ini, menganggap hal itu payah. Kenapa harus diikuti jika aku punya teman yang bisa menutupi aku, bisa ikut bersekongkol untuk berbohong biar aku bisa pulang malam. Itulah tadi jawabannya diatas. Karena keluarga, orangtua, adalah tempat dimana nanti kamu bisa mengadu dan menerima apapun kamu.

Aku sempat beberapa kali melanggar. Mungkin kesalahan terbesarku adalah melanggar wejangan orangtuaku untuk tidak pacaran. Aku kena ganjarannya sendiri kawan. Aku harus mengobati rasa sakit hatiku sendiri. Karena aku terlalu malu untuk berbagi rasa sakit hati ini pada orang yang selalu menyayangi aku, orangtuaku. Mereka tau sebabnya, mereka tau karena mereka sudah berpengalaman. Mereka memang tidak hidup di zaman kita. Di zaman serba gaul sekaligus serba bobrok. Dengarkanlah mereka kawan.

Sekarang aku mau bangkit, aku mau membetulkan semua salahku pada orangtuaku, pada keluargaku. Aku akan memulai masa depanku mulai hari ini. Dengan selalu mendengarkan kata orangtuaku. Apapun itu. Salah satu yang sangat terngiang di kepalaku adalah satu kalimat sederhana dari ibuku tercinta.

"Untuk apa teman jika ia hanya membuatmu punya masalah lain, untuk apa pacar jika kau punya kasih sayang dari keluargamu, bertemanlah dengan orang yang akan membantumu meraih masa depan, carilah masa depanmu, bertanggung jawablah pada semua perbuatanmu, dan hiduplah hanya untuk keluargamu dan tuhanmu. Karena merekalah yang selalu ada untukmu, kapanpun itu."

»»  Read More...

Sunday, 4 September 2011

Nordhausen, Deutschland.

Hai hai haaaaaiiii.....

Assalamualaikum...
Nach lange zeit habe ich nicht hier etwas geschrieben. Tut mir leid, habe ich viele Dinge zu tun..
Eigentlich habe ich jetzt nicht viel zeit aber mir ist egal. Wenn ich Idee habe, dann moechte ich hier schreiben.. :)

Nah loooo.... Pembukaannya pake bahasa Jerman. Tak berniat sombong atau apapun kawan. Itu aku lagi belajar. Jarang banget aku pake tu Bahasa Jerman. Lah? Katanya tinggal di Jerman, kok jarang di pakee?? Itu diaa.. Ini salah satu alasan kenapa aku mau nulis hari ini. Tapi ga cuma itu koookk.. Banyak alasan lainnya. Termasuk kenalin orang-orang yang sekarang udah kayak keluarga buat aku, disini.

Pertama aku mau ngenalin Jermannya dulu. Gimana lingkungan di sini. Di rumah, di sekolah, atau di kotanya. Kedua, aku mau kenalin teman-teman s
eperjuangan aku disini. Teman-teman yang udah seperti saudara sendiri.. Yang terakhiiir, aku mau kasih tau apa aja yang aku pelajari disini. Pokoknya yang ketiga ini tentang Pendidikan disini.

Jerman. Awalnya, ada sedikit rasa takut untuk merantau kesini. Aku akan jadi kaum minoritas disini, aku berkulit coklat (bukan putih seperti penduduk sini), aku muslim, aku berjilbab. Bisakah aku hidup di negara ini? Tapi kenapa takut? Mama bilang, "Dimana pun kamu
berdiri, dimana pun kamu menuntut ilmu, semua sama saja. Semua milik Allah. Ga usah takut". Itu kata-kata mama selagi aku bimbang untuk berangkat ke Jerman.

Dengan segala persiapan, aku beragkat. Sekarang aku udah hampir 8 bulan di Jerman. Aku bisa hidup disini. Awalnya aku tinggal sebulan di Hamburg, seperti apa yang aku ceritakan di 'Awal Kisah'. Setelah itu, aku sempat numpang sana sini karna susah cari tempat tinggal di Nordhausen, dimana aku sekolah sekarang. Hampir sebulan aku numpang sana-sini. Untungnya ada orang-orang baik seperti ka Elva, Fajar-Reavan dan Akina yang mau di tumpangin rumah nya sama aku dan Fia. Sampai akhirnya aku dan Fia dapet tempat tinggal. Di Studenten Wohnheim, tempat tinggal pelajar di belakang Studienkolleg kami. Aku satu rumah sama Fia dan satu orang berkebangsaan Vietnam, Linh. Sayangnya, Linh jarang sekali keluar kamar. Kalopun keluar kamar, dia cuma bilang "Halo", atau kalo mau pergi langsung ke arah pintu dan bilang "Tschuss" (Daaahh..). Jadilah aku ngobrol sama Fia terus. Tentu saja dengan bahasa Indonesia, atau malah bahasa sunda. Tapi kami juga sering mencoba ngobrol pake bahasa Jerman, tapiii.. Tau sendiriiiii.. Bahasa Indo lagi yang keluar dari mulut.

Tempat tinggal ku dekat banget sama Studienkolleg. Aku cuma butuh 3 menit untuk nyampe kelas, dari kamar. Ga perlu bangun pagi, ga perlu naik bis, ga perlu naik S-Bahn atau U-Bahn (emang ga ada juga sih di Nordhausen). Tapi cukup jauh ke pusat Nordhausen. Naik bis sekali, atau jalan kaki 20 menit. Yaaa, sejauh-jauh nya jarak di Nordhausen itu ga terlalu jauh. Nordhausen itu kota kecil. Kalo ketinggalan Bus, ya jalan kaki. Karna Bus disini hanya ada 20 menit sekali. Daripada nunggin Bus, mendingan jalan kaki. Karna waktu yang diperlukan sama. Kalau mau pergi, liat lah jam. Ingat jadwal bus di setiap halte. Karna disini, semuanya teratur.

Kalau biasanya di Indonesia, hari Minggu adalah
hari belanja atau jalan-jalan, kalau disini? Ga ada Toko yang buka di Hari Minggu. Restaurant juga. Jadi hari Minggu itu ya hari istirahat.. Toko-toko disini buka cuma sampai jam 8 malam. Mall juga, cuma sampai jam delapan. Jangan harap mau malem Mingguan di Mall dehh.. Tutup. Tapi kalo di kota besar, seperti Berlin, yaaaa ada lah beberapa yang buka.. :)


Suedharz, Mall di Nordhausen.
Liat tuh, cuma segede itu Mall satu-satunya di Nordy.

Seperti beberapa temanku yang pada nge-kos di Indonesia, aku pun mulai belajar mandiri. Mulai dari makan, beres-beres, balanja, nyuci baju, ngurus keuangan, ngurus pindahan rumah, dan lain lain, semuanya sendiri. Ya mau bagemana lagi? Siapa yang mau ngurusin kalo ga ngurus sendiri? Untungnya, banyak kakak-kakak seperantauan disini yang baik. Yang mau kasi tau ini itu nya, mau nunjukin jalan atau cara untuk ke suatu tujuan. Aku jadi ga berasa hidup terlalu sendiri, disini.

Makanan disini memang agak beda sama di Indonesia. Beras lumayan mahal, lebih murah kalo makan kentang. Tapi emang dasar anak Indonesia, ga bisa jauh-jauh dari yang namanya beras. Ada lah beras yang agak murah dan enak, ada juga yang beli beras bagus terus nantinya di campur sama beras jelek. Akal-akalan lah.. Belanja daging juga harus hati-hati banget. Pernah waktu itu, aku salah beli daging. Daging potongan gitu, ternyata "Gemischt" yang artinya "Campuran" antara Sapi sama Babi. Ya dibuang deeeehhh.. Untung sempet baca ulang pas belum dimasak.

Masak pun dilakukan sendiri. Laper? Ya masak. Ga bisa kayak biasanya yang udah ada di meja makan. Tadinya selalu masak yang gampang-gampang, kayak telor, nasi goreng, ayam yang udah dibumbuin (tinggal goreng) atau tinggal oven kentang sama Chicken Wings. Sekarang, karena udah terlatih masak, jadi lumayan deh bisa bikin sayur sendiri, ayam di bumbu India (gara-gara ada temen orang Nepal), malah terakhir bikin Opor sendiri untuk Lebaran. Yaaa.. Kangen sama masakan Indo, cobalah masak sendiri sambil liat resepnya di Internet. Terimakasih Internet dan ibu-ibu yang bikin blog tentang resep-resep masakan Indonesia. :)

Doenner, makanan pelajar Indonesia saat malas masak.


Ngomongin Lebaran, banyak banget temen-temen yang tanya soal Puasa dan Lebaran disini, yang semoga terjawab di Postingan sebelum ini. Kalo belum ya, comment saja, nanti insyaallah aku jawab. Seperti yang udah aku bilang, Puasa disini berdurasi 18 jam. Lama. Iya. Lama. Hmmm.. Ini gara-gara musim panas kok.. Matahari lebih lama dari pada si bulan. Alhamdulillah-nya, walaupun musim panas, tapi ga pernah lebih dari 32 derajat Celcius.. Oppppsss, gatau harus Alhamdulillah atau apa, tapi ini gara-gara Global Warming.

Sekarang masih awal September, masih di musim panas. Tapi kalau malam datang, dinginnya sungguh-sungguh deh.. Kalau siang baru deh agak panas, yaaa kayak hari ini nih, 25 derajat. Anehnya, di 25 derajat aku udah kepanasan, mungkin karena efek udah-jarang-kena-panas. Tapi liat aja nanti malam, suhu bisa merosot sampai 7 atau 9 derajat. Hmmm.. Selimut mana selimut?

Besok akan ada rombongan anak Indonesia ke kotaku (Nordhausen), hmm bukan cuma anak Indo aja sih. Hari Senin nanti, Studienkolleg Nordhausen mangadakan Aufnahmetest (Penerimaan siswa baru). Dari kabar yang terdengar, sepertinya akan sangat lumayan banyak anak Indonesia yang akan test disini.. Waaaa, semangat yaaaa.. Hmmm, sebenernya gabegitu enak juga sih kebanyakan orang Indonesia di suatu kota. Apalagi kota kecil. Sekelas bisa isinya anak Indonesia semua, yaaa ngobrol jadi sama mereka-mereka juga, pake bahasa Indonesia (brb digebukin sama temen sekelas). Eh, tapi bener kok, bahasa Jerman jadi agak tersendat-sendat. Kalo ada temen beda bangsa, langsung deh diajak ngobrol. Kadang malah gajelas ngobrolin apa.

Hari Selasa, keesokan harinya setalah Aufnahmetest, anak-anak semester dua (termasuk aku) pun mulai masuk. Mulai lagi belajar Grammatik (Deutsch) di kelas Frau Stadler, belajar Mathe di kelas Herr Erd, belajar Fisika, Kimia, Biologi, und Informatik. Itu pelajaran di Kurs aku sih. M-Kurs atau kelas kedokteran, yang nantinya bisa lanjut kuliah kedokteran di Universitas. Ada lagi T-Kurs (teknik), W-Kurs (Wirtschaft atau ekonomi) yang nantinya bisa ke bisnis gitu, ada juga G-Kurs (Germanistik gitu) yang nantinya bisa nyambung ke politik.

Studienkolleg Nordhausen, sekolahku, kelas 13 ku.

Pelajaran di Studienkolleg masiih ga jauh beda sama palajaran SMA, emang sih sedikit agak runyem, tapi itu mungkin karena masalah bahasanya aja yang beda. Guru di sini juga ngerti kalo kita butuh pelan-pelan. Makanya mereka ngajarnya pelan-pelan juga, tapi kalo mereka udah anggap kita bisa, jadi cepet bin ngebut belajarnya. Apalagi di semester dua ini nih.. Cuma empat bulan aja. Yuk tancap gas..

Kemungkinan besar aku akan tancap gas kuat-kuat nih sampai awal Desember nanti. Dimana di bulan Desember itu, aku akan ada FSP (Festellungpruefung) yang nilai nya akan jadi penentuan dimana aku kuliah.. Makanya, doakan yaaaa..

Semoga Postingan aku kali ini berguna untuk semua :) Ayo ayoooo, sekolah ke jerman yuuukk.. Kalo emang mau tanya-tanya tentang sekolah di Jerman lebih lanjut, silahkan. Bisa comment disini atau twitter (@niwiarti) atau facebook (Niwiarti Wijadhy) juga bisa. Hihihihi malah iklan.. Mangga atuh nyaaa, ditinggal dulu sementara waktu. Silakan dibaca.

Aufwiedersehen :)
Tscuess :)

Wassalamualaikum

»»  Read More...

Friday, 2 September 2011

Lebaran di Negeri Orang

Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaa..
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriah :)

Setelah puasa sebulan penuh, akhirnya sampai juga di hari kemenangan Idul Fitri ini.. Alhamdulillah yaaahh.. :)

Di hari-hari akhir puasa, hati mulai gundah gulana. Lebaran.. Ahhh. Lebaran tahun ini sendiriii.. Jauh dari keluarga, jauh dari tanah kelahiran, jauh dari ketupat (loh?). Aku sama Fia (temen setanah air, serumah, se-ini dan itu) sering banget ngomongin perbedaan puasa di Indonesia sama di Jerman. Sering banget ngomong "Kalo di indo........." dan percakapan itu selalu hadir tiap sahur atau buka puasa. Percakapan itu terus berlanjut sam
pai malam takbiran, hari Raya dan pasca lebaran. Berikut adalah contoh-contoh percakapan singkat kami:
Sahur pertama yang agak telat :
Kalo di indo, mama pasti udah masak, terus aku kebangun sama wangi masakan dan bunyi-bunyi di dapur, mana emang masih semangat banget mau puasa.
Sore-sore di awal Ramadhan :
Biasanya jam segini (jam lima-an), ngilangin rasa laper sambil nonton, terus tiba-tiba magrib. Kalo disini, mau nonton juga, film udah tamat, masih lama bukanya.
Buka puasa awal Ramadhan :
Hmmh.. Alhamdulillah deh ada Kurma.. Kalo di Indo sih, pasti ada kolek atoga cendol atoga es kelapa muda atoga... atoga..
Waktu taraweh :
Kalo di Indo, taraweh bareng keluarga. Iniii.. Taraweh sendiri aja udah untung..
Akhir-akhir puasa :
Biasanya udah banyak kue kering nih. Kangen deh Nastar, putri salju, kue kejuu...
Besok kita mudik yuk, cari mesjid.. Atau ke KBRI.
Kalo di indo, pasti banyak Kembang api sama bunyi petasan.
dan lain-lain, dan lain-lain. Banyaaaak banget. Yaaah, disyukuri saja siiihh.. Akhirnya, hari Minggu sore pun kami (aku dan Fia) berangkat ke Berlin dengan kereta sederhana dan Gruppenticket tentunya. Tak di duga, ternyata kereta penuh.. Berasa mudik naik kereta.

Sesampainya di Berlin, kami buka puasa. Karena di Nordhausen ga ada KFC, kami puas-puasin makan KFC. Buat, buka dan sahur di hari senin. Seperti di Indonesia, hari terakhir puasa kami gunakan untuk belanja makanan. Belanja makanan di toko Indonesia "Indomarkt" di Berlin.

Toko Indomarkt, Berlin

Kami beli Bumbu disana, kalap liat sambel ABC, kecap, sama bumbu jadi. Dan bumbu jadi untuk beli Opor pun kami beli. Terus liat juga macem-macem sambal jadi. Malah ada sambel gandaria, yang orang indo sendiri aja jarang tau.

Esok harinya, kami pergi ke KBRI di Berlin. Sholat di aula KBRI yan penuh dengan orang -orang Indonesia. Rata-rata emang keluarga kedutaan sih, tapi banyak juga pelajar Indonesia. Kami sholat sunat Idul Fitri dengan khusyuk, setelah itu mendengarkan ceramah dengan bahasa Indonesia. Senangnyaaa... :)

Karena keluarga Kedutaan jadi tinggal di jerman, maka lumayan banyak anak-anak kecil yang bermuka Indonesia, tapi ngomongnya bahasa Jerman. Lucunya lagi, si anak ngomong pake bahasa Jerman, di jawab sama si Ibu pake bahasa Indonesia, tapi nyambung. Malah kadang si anak usaha ngomong pake bahasa Indonesia. Ada percakapan ibu (atau mungkin tantenya) dan anak yang saya tangkap :

anak : "Umi, wo ist mein Handy?" (Umi, dimana HP-ku?)
Ibu : "Tadi umi kasih Bunda, tanya bunda deh!"
anak : "Achsoo, danke Umi. (beralih ke bundanya) Bunda, wo ist mein Handy?"

Aku merhatiin anak itu kayaknya ga bisa ngomong bahasa, tapi ngerti. Bagus ga ya kayak gitu?? Tapi bahasa sehari-harinya emang Jerman sih. Orang dia sekolah disini, dari TK. (antara takjub sama ngiri).

Selesai sholat, kami langsung pulang. Ga ikut acara makan-makan di Wisma, karena ingin langsung pulang ke Nordhausen. Kami berdua memang ga begitu betah tingal di Berlin. Sore itu juga kami sampai di Rumah kami di Nordhausen. Istirahat untuk esok harinya.

Esok harinya, dengan kemauan sangat besar dan kepedean sangat tinggi. Kami masak Opor Ayam beserta lontongnya. Walau lontongnya cuma pake plastik, tapi lumayan kok miriiiipp.. (membela diri sendiri). Yah, itulah kalo hidup sendiri, jadi usaha banget kalo mau sesuatu. Malah jadi bisa masak opor sendiri. Mandiri deh bener-bener (gatau harus seneng apa sedih).

Ya begitu siih, lebaran pertama ku di negeri orang. Ga begitu enak. Kangen sama keluarga menjadi-jadi, pas Skype bawaannya pengen nembus dari layar Laptop, terus ikut rame-rame disana. Untungnya, di Jerman, lebarannya lebih dulu dari di Indonesia. Jadi pas hari lebaran, pas ngumpul-ngumpul itu, ya aku ikut skype. Makasih loh, pemerintah Indonesia.. Hehehehe :D
»»  Read More...

Ramadhan di Negri Orang


Assalamualaikumm..
Sebenernya Postingan ini copas dari artikelku yang kukirim buat guruku di Indonesia.. Tapi ya karena ini suatu pengalamanku juga, jadi ga salah dong, aku taro di sini, biar bisa berbagi pengalaman Ramadhan di Negeri Orang. Selamat membacaaa.. :)

Ramadhan kali ini akan berbeda buatku. Ini pertama kalinya aku Ramadhan di Negeri orang. Di Jerman, tempat aku menuntut ilmu sekarang. Sebelum Ramadhan, aku repot tanya sana-sini, tanya kakak-kakak seperjuangan dari Indonesia, tanya gimana pengalaman puasa tahun lalu. Mereka bilang, memang banyak berbeda. Terutama masalah waktu. Kalo di Indonesia, kita puasa selama 14 jam. Kalo disini bisa rubah-rubah. Untuk tahun ini, bulan Ramadahan jatuh di musi Panas. Dimana matahari akan lebih lama bersinar dan malam hanya beberapa jam. Awal musim panas bulan Juni lalu, waktu subuh itu sekitar pukul 02.30 dini hari dan magrib sekitar pukul 23.00. Kalau dihitung -hitung berarti, bisa sampai 21 jam puasa. Hmmm... Aku dan teman-teman disini mulai latiihan puasa. Latihan dengan puasa sunnah Senin-Kamis.

Untungnya, waktu terbit dan terbenamnya Matahari, terus berubah. Sampai pada awal bulan Ramadahan, waktu subuh adalah pukul 3.01 dan magrib pukul 9.06. Berarti puasa selama kurang lebih 18 jam. Aku pikir, sama aja kok, cuma beda 4 jam lebih lama. Kenapa ga bisa? Kenapa susah? Sampai pada hari pertama. Saya kesiangan sahur. Saya baru bangun jam 02.30, sedangkan Imsyak 20 menit lagi. Ga punya cukup waktu untuk masak. Untungnya masih ada nasi, dan saya pun sahur dengan nasi dingin dan sisa abon kiriman mama di bulan lalu. Puasa hari pertama itu, tak begitu berat buatku. Aku dan seorang temanku pergi ke kota untuk membeli beberapa kebutuhan, termasuk beli kurma untuk Ta'jil. Ketika beli kurma di toko Turki, kami mendapan potongan harga untuk dua kotak kurma. Penjual bilang, "10 Euro zusammen fuer Sie.." Kata 'fuer Sie' itu sepertinya karena si penjual melihat kami yang juga Muslim, seperti dia. Karena pada saat kai datangpun, mereka mengucap salam pada kami. Tapi, saat mendekati kasir dan akan bayar ke penjual itu, saya melihat ada sepiring makanan di dekat dia, dan ternyata dia sedang makan. Aku dan temanku merasa keheranan. 'Kenapa merka tidak puasa?'

Hari itu terasa sangat panjang, aku dan temanku akhirnya memutuskan untuk membeli makanan jadi untuk berbuka, karena sudah terlalu capek. Jadi di rumah tinggal masak nasi. Tapiiii, ternyata kami salah naik kereta. Sehingga di perkirakan akan sampai rumah sekitar pukul 23.30. Maka, di stasiun ditempat kami sadar kalo kami salah kereta, kami berniat membeli makanan lain untuk menemani ayam panggang yang kami beli tadi. Akhirnya, kami berniat untuk beli kentang goreng di tukang Kebab (yang biasanya halal). Ketika kami memesan kentang goreng, si penjual bilang, "Kami menggunakan minyak babi disini, dan anda muslim. Sebaiknya anda membeli sesuatu yang lain seperti Nudel.' Si penjual tahu kami muslim karena melihat aku menggunakan Jilbab sepertinya. Maka kamipun membeli Nudel sesuai saran si penjual. Dan seperti yang telah dijadwalkan, kami berbuka puasa di kereta menuju rumah dan sampai pukul 23.30 dirumah. Esok harinya, aku telat sahur lagi.

Dihari ketiga aku tidak tidur malam hari, aku makan dan menonton. Malam yang hanya 6 jam itu digunakan untuk mengisi perut dangan makanan-makanan sehat, vitamin dan tidak lupa madu. Sebisa mungkin aku masak makanan yang sehat agar tubuh bisa kuat berpuasa. Waktu dimana perut mulai terasa lapar adalah pukul 17.00. Tapi tidak terasa lagi setelah dihari kelima. Di hari kelima, aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan waktu makan dan waktu tidur. Aku mengganti pola tidur. Aku tidur setelah sholat subuh dan bangun sebelum waktu dzuhur. Untungnya, sekolah sedang libur, libur musim panas (sommerferien).

Bagaimana dengan kegiatan-kegiatan lainnya di bulan Ramadhan, seperti shalat tarawih, tadarusan dan ngabuburit? Berbeda. Tarawih kulakukan sendiri di kamar. Aku kurang begitu tahu ada Shalat Tarawih berjamaah di masjid di kotaku atau tidak. Kalaupun ada, waktu Isya itu sangat malam, sekitar pukul 23.00. Aku tinggal di kota kecil di Thueringen, Nordhausen. Hanya ada mushola kecil di kota ini. Walau tidak begitu jauh dari rumahku, tapi untuk kesana malam-malam sangat rawan, dikota ku masih ada kelompok orang-orang yang tidak suka dengan pendatang. Apalagi aku berjilbab, rawan sekali untuk kami keluar lebih dari jam 8 malam. Walau masih terang, tapi kelompok-kelompok seperti itu sudah kelihatan berkumpul.

Tadarusan? Hanya dilakukan sendiri setelah sholat. Aku seringkali rindu dengan suasana tarawih berjamaah yang dilanjut dengan tadarusan atau ceramah. Aku juga rindu mendengar bapak-bapak yang suka bangunin sahur atau memberi tahu waktu Imsyak tiba, acara tv yang membuatku tidak ngantuk saat sahur dan ngabuburit. Kalau di Indonesia, aku mengisi waktu sore dengan ngabuburit sebelum buka puasa. Membeli es Kelapa muda atau cendol atau gorengan yang ramai sepanjang jalan. Disini, aku mengisi waktu sebelum buka puasa dengan internet, entah itu menonton atau cuma sekedar chatting sama teman-teman di Indonesia yang akan sahur.

salah satu yang kurindukan


Suasana memang berbeda. Banyak sekali yang berbeda. Tapi semua sama saja. Semua kuasa Allah. Jadi, aku pikir, jangan mengeluh dengan perbedaan suasana, karena sebenarnya sama saja. Sama saja kita beribadah, tempat ini juga sama saja, ini memang negeri orang, tapi ini tanah Allah. Kita tidak boleh bilang kita tidak bisa dan takut untuk mencobanya, jangan mengasihani diri sendiri karena kita beum mencoba. Kita harus mencoba dulu, baru kita tahu kesanggupan kita dan mengisi kekurangan kita dengan yang kita bisa. Menjadikan kekurangan kita itu pengalaman yang tidak boleh diulang sampai kita bisa terbiasa dengan keadaan.

Mungkin itu pengalaman puasa pertamaku di negeri orang. Lebaran nanti akan jadi hal yang baru lagi untukku. Semoga bisa indah juga seperti lebaranku di Indonesia. Walau tak ada saudara kandung, aku masih punya saudara seperjuangan. Teman-teman yang juga menuntut ilmu di Jerman ini. Bersyukurlah dengan apa yang kita punya, dan bersabarlah dengan apa yang kita anggap berat. Terimakasih.
»»  Read More...

Tuesday, 18 January 2011

Awal Kisah

Assalamualaikuuuumm..

waaaahh.. setelah off selama 5 bulanan, akhirnya aku posting jugaaaa.. kangen yaaa?? Setelah mendengar pendapat orang2 terdekat, ternyata postingan yang paling diminati adalahhhh.. yang bahas bala-bala! hahaha..

Tapi kali ini aku ga bahas bala-bala, atau bawang daun. Kesempatan kali ini aku mau curhat aaahh... Curhat ini mungkin bisa jadi sejarah di masa depan (?) hihihi.

Alhamdulillah, hari ini jadi hari ke-18 aku hidup di negara orang, negara Hitler, Deutschland (baca: Jerman). Makanya aku sebut postingan ini awal kisah. Kisah dari seorang yang bernama Niwiarti.

Alhamdulillah saat ini aku udah mendapat kepastian untuk Studkoll di Nordhausen. Makasih buat semua temen-temen yang udah dukung dan bantu doa. S
pesial makasih buat mama-papa-mba wini-de ninit yang terus2 dukung aku sampe saat ini :)

Studkoll? Apa tuh niiw?

Yayaya. Banyak kok yang tanya begituu.. Studkoll itu singkatan dari Studienkolleg. Dimana para Auslaender (luar jerman) belajar selama satu tahun sebelum kuliah. Tujuannya untuk menyamakan bahasa dan pengetahuan.

Aku ke Jerman ga sendiri. Setelah di gembleng selama kurang lebih 6 bulan di Stufen, kami akhirnya berhasil sampai di Jerman (setelah ngelewati tes di Goethe institut, dan mendapat Visa studi). Kami bersepuluh. Perempuan lima, laki-laki lima, dan satu pembina. Siapa sajakah itu?
Nih, ku kasih liat tampang calon anak-anak sukses (aamiin).

dari kiri (atas) : wahid, tina (agus), inggi, akina, niwi (sibiru), fia, anro
dari kiri (bawah) : hardylen (mul), herr ahmad (pak pembina), michael, rian

Nyampe Jerman, kita bersepuluh ga di lepas gitu aja. Kami udah di cariin tempat (rumah tinggal) sementara di kota Hamburg. Rumahnya nyaman. Dapurnya enak. Tapi agak di desaaa. Dari rumah ke pusat kota aja butuh waktu sejam. Untungnya ada Aldi (semacam supermarket), jadinya kalo mau belanja gampang (walau harus jan kaki kira2 8 menit).

Walau satu rumah, cewek sama cowoknya aman kok. Kamar kami misah. Agak jauh. Satu kamar isinya 5 orang. Dan tentu saja kamar Perempuan (yang belakangan di jadikan tempat ngumpul) lebih besar.

Sayangnya sekarang rumah udah mulai sepiii.. Inggita, Anro, Michael dan Hardylen udah pindah ke Berlin. Mereka udah keterima di Berlin. Walau sepi, tapi seneng. Karena sebagian dari kita udah terima kepastian untuk belajar di Berlin.

Mungkin sekarang aku mau cerita tentang Hamburg dulu.

Tempat tinggal ku ga begitu jauh dari pusat kota Hamburg. Namanya Roennerburgerstrasse 10 Seevetal, Meckelfeld. Sepi? Lumayan. Tapi setidaknya masih deket sama Aldi, terus juga ada Budni sama Kik. Jadi, yaa lumayan.

UNS. University Service. Sebuah Sprachkurs (kursus bahasa) di Jerman (Hallerstrasse, Hamburg) dan bekerja sama dengan Stufen. Seru kok belajar di UNS, walau sekarang jadi sepii.. Yang ngajar kami di UNS adalah Frank Schettkat. Dia sabar banget kayaknya ngajar kita yang kalo ditanya masih suka jawab pake Bahasa Indonesia. Kalo Erk Yontar, beliau bisa di bilang pimpinan UNS. Niih, aku kasi liat suasana UNS.



Itu dia saat-saat belajar sore di UNS dari jam 14.30-17.45. Foto itu diambil pada saat istirahat. Kalo pas belajar, sebaiknya ga usah di foto. Pada ga senyum soalnya. hihihi

Hamburg juga punya beberapa tempat indah kook.. Misalnya Danau Alster yang di depannya ada Hamburg-Rathaus. Ada juga Haven City yang indaaaaahh banget. Apalagi pas sunset. Romantissssss..

Tapi tak lama lagi aku akan meninggalkan Hamburg ini dan pindah ke Nordhausen. Nordhausen memang bukan kota besar, tapi cukup mengingatkanku pada Tasikmalaya (?)

Sip lah cerita Hamburg-nya. Mungkin di kesempatan lain, akau bakal cerita sebuah kota kecil bernama Nordhausen.

wish me luck, yaaa..

Semangat kawan!

Wassalam :)

»»  Read More...

Sunday, 15 August 2010

Awal Ramadhan

Sebenernya kalau dibilang awal Ramadhan, engga juga ya? Karena udah di hari ke-lima Ramadhan niih..
Sebelumnya, aku minta maap ya kalo ada salah-salah kata, perbuatan, atau sifat ku yang nyakitin. hehe..

Nah, sekarang, pada akirnya aku bisa menulis (mengetik) lagi di BiruBicara ini. Karena akhirnya weekend untuk ku. Dua minggu terakir ini, di hari sabtunya ada pernikahan sodara. Dan tentunya di hari Minggu-nya aku istirahat. Hehehe..

Walau judul postingan ini Awal Ramadhan, tapi ijinkan aku untuk berbagi pengalaman ku di dua (atau tiga) minggu terakhir yaaa..

Akhir Juli kemarin, tepatnya tanggal 31 Juli 2010, Teh (Kak) Ayu, keponakanku, menikah. Iya, keponakanku memang banyak yang lebih tua. Teh ayu itu, keponakanku se-uyut. Pokoknya panjang banget laaah kalo diceritain disini. Hehe..
Intinya, dia itu saudaraku. Teh ayu dan suaminya itu menikah di Taman Mini Indonesia Indah. Di halaman Keong Mas. Bentuknya Garden Party gitu. Aku disuruh ikut untuk nganter (nunjukin jalan) sodara-sodara yang dari Bandung. Dan aku yang emang dasarnya ga suka dandan, bingung mau pake apa. Biasanya kalo ke undangan sodara, jadi pager ayu (kebaya), kalo ke undangan tetangga, ga diajak sama mamah. Jadi aja bingung mau pake apa. Zum gluck, aku punya baju yang rada resmi. Di padu dengan jeans. Terus dipelototin mama. Tapi tetep ngeyel pake jeans dengan alasan Garden Party. Hehehe..

Nah, kayak gitutuh hasil ngasal bajunya. Hehehe..

Mama akirnya ijinin tuh pake jeans, tapi dengan syarat pake sepatu yang resmi, bukan sneakers yang kayak aku pikirin. Mama emang hebat, tau aja pikiran anaknya.
Nyampe disana, aku yang ga punya temen karena Ninit (ade) maennya sama sepupu, malah kesana-kemari gajelas. Sambil nungguin sodara yang lain, sambil liatin cowok-cowok juga gak apa-apa dong.. Huahaha..
Lagi asik-asiknya bediri gajelas di deket pager ayu (ga ada kerjaan banget), tiba-tiba liat cowok. Sangat menarik perhatian karena tu cowok megangin (keliatannya) neneknya, jarang-jarang liat pemandangan kayak gitu. Udah senyam-senyum ga jelas, tiba-tiba ibu si cowok (yang ada di belakang nenek), manggil aku. Laaaahh.. Ternyata sodara. Pantesan, rada kenal sama nenek dan ibu itu, tapi si anak cowok, emang jarang ketemu. Haha..
Melupakan si cowok-yang-ternyata-sodara itu, aku kembali jalan-jalan ga jelas sampai dipanggil ke tenda keluarga.
Pas mau pulang, Ua (mamanya si cowok yang tadi) sama mamaku ngobrol sambil ketawa-ketawa gitu. Terus tiba-tiba mama kayak nyuruh aku salam gitu sama Ua. Terus tiba-tiba Ua-nya ngomong gini, "Aduuh, calon mantu.. Kapan lagi ya ketemu?".
Reaksi aku : Siyok, bingung, nyengir, terus liatin mama. Gimana gak siyok coba, dia kan SODARA. Ya tuhaaaann, ada-ada ajaaaa..

Malemnya, nganter nenek dulu ke wisma disana. Kaki udah pegel. Ga biasa pake sepatu resmi begitu, aku colong aja sendal hotel dari kamar nenek. Hasilnya..
Sepatu di tangan, kaki pake sendal hotel. ^o^

Terus, besoknya aku sepedahan ke Monas sama sodara-sodara. Pokoknya mah, Cape, tapi seruuuu. hahaha..

Minggu depannya, aku dan keluarga, meluncur ke bandung. Sabtu, 7 Agustus 2010, Mas Didit dan Mba Dini menikah. Nah, kalo ini sodara sepupu se-eyang. Deket banget lah kami sekeluarga sama Mas Dit. Mba Wini aja sampe bela-belain cuti untuk acara yang emang cuma ada sekali seumur hidup ini. Keren kaaaan?
Aku ga jadi pager ayu (tumben kaaan, hehe), jadi bingung lagi. Akirnya, dengan bantuan Mama dan Mba Wini serta De'Nit, aku memakai baju yang pantas. Nah, De'Nit aja ampe bantuin, ketauan banget gabisa dandan. hehehe ^^..

Dan, akirnyaaaaa.. Kemarin dan hari ini libur. Walu tuga masih banyak menumpuk, rasanya pagi ini aku akan sedikit menikmati indahnya akhir pekan dulu. Nanti siang, baru deh kemballi ke aktivitas untuk mempersiapkan hari esok.

Danke sehr..



»»  Read More...

Sunday, 25 July 2010

Untuk: Sheila, Icha, Imel dan Vega

assalamualaikum..
hari ini aku akan sedikit bercerita tentang penemuan barang-barang lama di kamar.

Hari ini aku coba benahi kamar yang ya-ampun-penuh-banget ini. Tadinya rada males, soalnya bakal lama banget. Tapi karena emang udah niat dari kemaren-kemaren, jadi harus di realisasikan.

Pertama aku ambil tumpukan buku dan kertas di pojok kamar. Hmm, lumayan berdebu. Aku ambil masker dulu. Aku pake masker, terus mulai sortir dengan tega. Ga ada lagi nyimpen buat di kenang. Buku-buku catetan SMA, kertas-kertas ulangan kelas X, buku catatan kelas 3F SMP (hah? aku kaget sendiri masih nyimpen benda itu), kartu-kartu ucapan selamat ulang tahun dari temen-temen SMA, SMP dan SD, surat-surat yang menurutku sekarang ga penting banget, dan lain-lain.

Yang paling buat aku kaget, adalah: Surat-suratan jaman SD sama sahabat.
Waktu itu kami lagi bertengkar. Sama sekali ga ngomong. Gara-gara laki-laki. Hahahaha.. Patut di tertawakan memang, tapi menurut kami hal itu (dulu) serius.
Suatu hari, sebut saja Sheila, dia memberiku surat. Yang intinya dari surat itu, dia tahu kalau aku suka sama cowok yang sama dengan yang dia suka. Sebut aja namanya Adit. Adit itu anak baru. Lucu, emang. Tembem. Hehehe..
Aku tau kalau Sheila emang suka sama Adit, walau Sheila ga pernah kasih tau. Maka aku hanya curhat sama Bona (nama samaran juga,cewek), yang juga anak baru.

Awalnya, semua lancar-lancar aja. Sheila dan aku sama-sama suka Adit (ya ampun cintamonyet banget)dan kami tetap main bareng. Tapi suatu hari, Sheila bener-bener agak menjauh dari aku. Aku stres, lalu kami surat-suratan. Sahabat kami yang lain ga tau kalo kami berdua surat-suratan.

Setelah (mungkin 10 kali) surat-suratan, akhirnya kami memutuskan untuk melupakan si Adit. Karena eh karena, si Adit-nya suka sama temen kita yang lain. Hahaha..

Di akhir kelas lima (iya, ini kejadiannya awal ato pertengahan kelas lima SD), aku baru tahu kalo ternyata Sheila tahu kalo aku juga suka sama Adit, dari Bona. Ya ampun. Persahabatanku jadi kacau gara-gara si Bona. Bona yang dulu aku percaya. Yang dulu aku kasihani karena dia anak baru yang aku takuti dia gakan punya temen. Aaaaaarggh. Aku salah cari teman.

Sekarang, saat ini. Aku yang disini namanya Karen, mau minta maap sama Sheila, Vega, Icha ma Imel. Aku salah waktu itu. Kenapa aku mau nurut aja sama Bona ya?
Mungkin sekarang Bona udah rubah (jadi rong-rong , mungkin). Aamin kalo emang udah rubah.

Buat Sheila, yang aku omongin tadi bukan Adit yang emang pacarmu sekarang kok, hehe.. Maap ya, namanya di pake. Tapi aku udah pake nama itu dari dulu, dari kamu (mungkin) belum kenal sama Adit mu yang sekarang. Hehehe..

Buat Imel, makasih.. Kalo ga salah, dulu kamu yang sadarin aku kalo Bona itu yang baik. (ya ampun, kalo ga salah)

Buat Icha, mungkin kamu ga pernah suka sama Bona. Aku juga sekarang masih ga suka. Makasih udah sadarin aku.

Buat Vega, kalo ga salah (lagi) kamu sama Imel yang ngomong langsung ke aku kalo Bona itu ga baik. Thanks, kawan..

Buat Sheila, Imel, Icha dan Vega. Aku : Karen, mau minta maaf dengan kejadian kelas lima itu. Aku selalu sayang kalian. Aku kangen banget sama kalian. Semoga perbedaan jarak ini ga aka rubah persahabatan kita.

Love,
Karen (Niwi)

»»  Read More...

Thursday, 15 July 2010

3S yang lain..

Assalamualaikum..
sik asik posting di tengah kesibukan. tapi emang tangan udah gatel banget pengen ngetik, si mata gamau merem karna si otak masih pengen ngeluarin yang dipikirin. hehehe..
Padahal besok masih tes Muendlich A2. Sprechen test gituu.. moga aja bisa. tadi kan udah sempet latihan. hehehe..

Jadi, kenapa aku maksa pengen ngetik ini? Karena suatu hal di hari ini. Bisa di bilang, aku kayak lagi jelek-jelekin orang. Tapi aku gakan tulis nama. Dan aku pun tak berharap ia membacanya, kalo pun baca, moga dia bisa sadar. Aku hanya ingin memberi pengalaman untuk sedikit di pelajari.

Ok. Mari kita mulai.
Sebut saja Garam. Dia salah satu temanku. Teman baru. Teman yang mau gamau jadi teman. Yah, pokoknya dalam situasi ini kami berteman. Tadi siang, kami pulang bersama. Dan kebetulan, tadi bisa dibilang, kami nebeng sama teman lain yang lebih baru (maap ya, kalo pusing).
Kau pasti tau, rasanya orang nebeng? Apalagi sama yang baru kenal. Belum kenal deket, tapi untung banget kalo nebeng. Lagian, kali aja bisa lebih deket, kan? Rasanya, kalo aku, sedikit ga enak. Merasa harus menghargai orang tersebut. Yang punya mobil apalagi. Aku duduk disitu dengan jurus andalanku. Diam.
Tapi ya namanya juga temen baru (yang nebeng pula), aku dan si pemilik mobil mulai berbincang-bincang. Kebetulan, aku, si pemilik mobil dan temannya berasal dari wilayah yang sama. Setidaknya SMA kami masih dalam satu kota yang sama. Tapi si Garam tidak.
Garam ikutan mengobrol. Dia memberi tahu apa-apa yang dia ketahui. Hampir semua. Garam mulai mendominasi pembicaraan.
Aku? Diam. Tapi disana garam itu temanku. Aku hanya berkomentar sedikit. Tapi mataku melihat keluar jendela. Kedua temanku yang lain (pemilik mobil dan temannya), mulai bercerita tentang sekolah mereka yang dulu.
Dan itu berlangsung sampai aku dan garam turun. Aku langsung pulang. Tak mau terlibat dengannya jauh lebih banyak.

Aku tau dia ingin di dengar, aku tau sebelumnya dia selalu di dengar, aku tau dia anak bungsu. Tapi apakah dia masih berumur 12 tahun? Tolong lah, umurmu sebentar lagi 17 tahun. Tolong bersikap lebih dewasa.

Aku tau, menulis hal ini tidak baik. Aku juga tau aku belum sempurna. Terkadang aku ingin di dengar. Aku masih mengobrol berlama-lama bercerita tentang diriku pada orang lain. Aku juga sering seperti itu. Tapi aku pun mendengarkan orang lain. Setidaknya, aku sadar saat aku bicara terlau banyak.

Baiklah. Sekarang gini. Ga ada manusia yang sempurna. Tapi kita bisa mengubahnya menjadi hampir sempurna. Apa salahnya mendengar orang lain? Apa lagi temanmu sendiri. Apa susahnya mengakui kehebatan orang lain? Apa susahnya menahan otakmu yang sudah ingin menceritakan hal menarik pada seseorang?

Kita harus sadar. Kita itu bukan seseorang yang harus terus-menerus didengar (kecuali kau presiden, atau seseorang yang punya dayang yang tugasnya mendengarkanmu). Kita pun harus mendengarkan orang lain. Ga ada ruginya dengerin orang lain, loh.. Kamu bisa belajar dari keberhasilan dia. Atau kau bisa menghindari kesalahan yang ia lakukan.. Atau setidaknya, kau tau kabarnya. Sehingga kau bisa meresponnya. Bahkan kau bisa menghiburnya kalau dia sedang sedih atau marah.

Bayangkan, ketika kamu marah/sedih, lau kau ingin bercerita. Hanya membuang rasa sedih. Tapi yang ada, lawan bicaramu menceritakan kehidupannya yang begitu sempurna. Kau akan merasa dunia ini tak adil. Tapi ketika lawan bicara mendengarkan, lalu menghibur atau bahkan memberikan solusi, kau akan sangat tertolong. Beban terasa hilang, walau tidak semua. Tapi kau akan sangat berpikir bahwa dunia itu indah.

Jadi, kawan. Mulai lah bersikap sadar, sabar, dan sopan (wow, 3s yang lain). Maka kau akan mendapatkan hal yang indah.

Danke..
»»  Read More...

Sunday, 11 July 2010

Sekolah Menengah Pertama

assalamualaikum...
hahahaha.. i'm back!
setelah perjalanan panjang melewati pegunungan, samudra yang luas, dan padang pasir..
hahaha, engga deng..
setelah semuanya selesai. ya. selesai.
selesai tes-tes-an. hhh.. akirnya.
tapii.. aku masih was-was juga sama hasilnya. apapun itu, semoga jadi yang terbaik aja yaaa.. aamiin.

Jadi, pada akirnya aku kembali berceloteh di BiruBicara ini. Kali ini aku lagi inget sama masa SMP ku. Saat itu, aku baru saja pindah ke jakarta, dan melepas jilbab SD-ku. Hmm, bukan keputusan yang baik kurasa. Tapi aku jadi punya pengalaman sekolah tanpa jilbab. Hihihi.. Bandel.

Kelas satu.
Aku ga ikut MOS. Aku lupa kenapa. Datang hari kamis, pake baju putih-merah. Minta buku ke koprasi, ditemenin Anti (Harjianti) sang ketua kelas. Duduk sebangku sama Anti, di belakang.
Aku juga punya temen-temen yang baik kayak: Anas (yang sempet jadi temen sebangku juga), Nitya (yang sama-sama punya darah sunda, dan jadi sobat), Julian (yang jadi temen sekelompok b.indo bareng Anas ma Edo, dan punya cerita khusus yang ga perlu di ceritain disini), Edo, Rian (Syahriandi), Tari, Faisal (Icank), Dedi, dan banyak banget yang lainnya.
Aku milih ekskul PASKIBRA. Ga kepilih untuk ikut OSIS. Tapi lumayan jadi rajin di kelas. hehe..
Oya, ikut latihan calung, dan tiba-tiba dipilih jadi mayoret calung. Lucu.

Bukan, ini bukan saya. Ini contoh memainkan calung.
Kelas dua.
Teman berganti. Aku punya teman dekat. Aku, Ferdina, Mayang, Indah, Mahda, Meri dan Amel sulit terpisahkan. Aku juga aktif di paskib (walau cuma di balik layar), dan OSIS. Udah mulai lupa apa yang terjadi di kelas dua ini. Tapi yang aku inget, aku udah mulai pengen tau apa yang namanya cinta itu. Hihihi..

Kelas tiga.
Sibuk mempersiapkan UAN. Makin akrab sama Ferdina. Sekelas lagi sama Julian (walau jadi ga akrab gara-gara kami ga bisa menyelesaikan masalah kami dari kelas satu). Dan berkenalan sama Dendie. Masalah organisasi makin berjalan, tapi mulai memberika beban sama junior yang pinter-pinter.

Garis besarnya, begitu.

Untuk organisasi.
PASKIBRA. Walau ga aktif jadi yang baris-berbaris di lapangan, aku lumayan aktif di organisasi nya. Dengan ikut paskib di SMP Hang Tuah 2 ini, aku jadi bisa lebih mandiri dan tegas. Aku jadi ga gampang nyerah dan kuat di dalam beberapa halangan. Aku belajar banyak dari Paskib ini. Termasuk belajar ga pilih-pilih makanan dan menghormati yang lebih tua.
OSIS. Sekretaris OSIS bersama Indrawan Putra (yang selalu sibuk). Seru banget, punya pengalaman dan kesempatan berharga di SMP. Tau kegiatan baru di sekolah, pulang agak sore, seru deh pokoknya. berguna banget. Aku gakan lupain gimana pembinaku (yang juga tetangga ku) membimbing aku, kak Aris. Juga kakak-kakak yang lain.
Salam PASKIBRA kak..

Untuk yang gak bisa di bohongin, cinta.
Mau ga mau, suka ga suka. Masa SMP-ku punya kenangan cinta 'monyet' juga. Sebagai anak yang labil, ga punya pendirian dan sangat ingin gamau-ketinggalan-jaman, aku jatuh cinta. Dan ga cuma sekali. Hehehe.. Tapi, sungguh.. Ternyata yang kurasa itu bukan cinta. Dan aku baru menyadarinya.
Aku mengenal cinta saat kelas satu. Dimana banyak dari teman dekatku punya pacar dan aku terseret pengen tau juga. Tapi juga berakir dengan cepat. Hihihi.. Lalu yang terakir, di kelas tiga. Dimana aku pacaran selama satu tahun lebih (berakir di kelas dua SMA).
Dan sekarang, aku sadar. Itu bukan cinta. Itu cuma sekedar keingintahuan anak SMP. Untung aku cepat sadar dan berhenti.

Kau tahu? Cinta itu bukan sekedar pacaran. Ada arti lain dari cinta, yang sampai saat ini belum ku temukan.

Halaaaaahh.. Bahasanyaaaa.. Cinta.
Hhhh.. Membosankan.

Intinya, masa SMP ku begitu rumit buat aku. Aku seolah terseret dalam dunia yang lain. Dunia remaja. Dan aku sudah melewati itu dengan melewati beberapa peristiwa yang aneh. Tapi, Ya Allah, terimakasih sudah memberiku pengalaman yang luar biasa itu. Terimakasih juga buat teman dan guru-guru ku. Kalian ga tau ya? Kalo bukan karena kalian, aku ga bisa bertahan sampai sekarang.

Sip deh, intinya gitu.
Sekarang, saya mohon dengan sangat doa dari pembaca (kalo ada yang baca), karena saat ini saya ada dalam masa galau dimana saya belum tahu kepastian masa depan saya. hehe..

Danke schoen..
»»  Read More...

Tuesday, 20 April 2010

Menigkatkan Adrenalin dengan Proposal

Assalamualaikumm...

Akhirnya waktu nge-blog ku datang. Walau masih ditunggu kerjaan lain. Hihihi..

Judulnya terlihat aneh ya? Biasanya kan orang meningkatkan adrenalin bukan dengan proposal. Apa kek gitu, naik halilintar atau tornado di Dufan, misalnya. Tapi bener loh. Ini fakta. Kalian tau kan, kalo adrenalin meningkat, biasanya ada rasa takut, rasa ingin berhenti dan rasa yang menggebu-gebu. Yaah, pokoknya gitu deh, bagi yang ga tau, silahkan sisihkan uang jajan dan pergi ke Dufan untuk naik Tornado, Kicir-kicir dan Halilintar. Setelah adrenalin meningkat dan selesai, akan ada kepuasan tersendiri yang timbul dengan sendirinya.

Hal itu akan dirasakan pada saat Anda membuat Proposal sungguhan. Proposal yang merupakan salah satu kunci kegiatan kita akan berlangsung. Terus ada dimana tantangannya? Dari awal pembuatan. Anda akan mulai berdebat dengan pikiran, hati dan semua orang yang berhubungan dengan proposal tersebut. Lalu pada saat meminta persetujuan dari orang-orang yang terkait. Walah, minta tandatangan aja bisa berhari-hari deh. Tapi, saat proposal disetujui, akan ada perasaan yang sangat menyenangkan.

Aku sudah pernah beberapa kali membuat Proposal. Makanya aku bisa nulis kayak tadi. Soalnya ada rasa yang lain saat buat proposal itu. Tahun lalu, saat masih aktif di Organisasi sekolah, aku sering mendapat tugas untuk membuat proposal acara kami. Pada awalnya, rasanya susah sekali membuatnya. Terkadang aku takut untuk memulainya. Kenapa? Aku belum siap untuk menghadapi rintangannya. Padahal cuma buat proposal aja.

Selalu, ketika membuat Proposal, harus beberapa kali mengulangnya, karena salah ketik misalnya. Atau ketika sang ketua sudah setuju dengan proposal itu, malah Sang Pembina yang protes dengan konsep acara kami. Atau ketika pembina sudah setuju, ada perubahan jadwal akademis dari sekolah. Atau, masalah dengan kepala sekolah, beliau selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak selalu di tempat, dan membuat kami menunggu dan menunda jadwal pergerakan panitia sampai proposal di setujui.

Ada kalanya, air mata jatuh dari kami, karena begitu kesal dengan alasan-alasan kecil sehingga yang bersangkutan tidak menyetujui proposal kami. Ada kalanya kami loncat-loncat kegirangan karena proposal kami disetujui. Mungkin Anda juga pernah merasakan hal yang sama.


Teman-teman yang satu Organisasi denganku juga turut merasakan hal itu. Kalau kalian baca ini, dan mengingat satu tahun terakhir kita, pasti akan terkenang tahun kedua kita di SMA tercinta itu. Saat acara-acara di sekolah seperti 'HEBEMOREF', GOE, MOS atau acara besar kita di luar sekolah, seperti JAMSIS dan LDKS. Dimana kita sedikit melupakan kewajiban kita sebagai pelajar dan anak. Hihihi..

Sebenarnya kami sudah membuat laporan pertanggungjawaban di organisasi kami itu, tapi aku dan beberapa temanku masih saja ngurusin satu proposal terakhir kami di SMA. Proposal Buku Tahunan. Dan kami masih dalam tahap memacu adrenalin. Hihihi.. Doakan kami ya.. Karena perbedaan pendapat dengan sang Pembina, proposal pertama kami yang kemarin di tolak dan kami di 'cerewetin'. Hari ini, kami akan ajukan Proposal yang sudah di perbaiki sesuai kemauan beliau, tapi tanpa merubah konsep kami. :)

Semoga yang kali ini tidak akan seburuk proposal pertama saya, saat seleksi adik-adik kelas yang mau masuk Organisasi kami. Saat itu, proposal tidak sempat di 'acc' oleh kepala sekolah. Sehingga acara terlihat ilegal. Tapi acara itu memang di haruskan oleh pihak sekolah kok. Maaf ya pak kepala. Terutama maaf dariku untuk ketua acra tersebut (afa). Maaf ya, jeng..^^

Udah dulu ya, saya harus mempersiapkan diri untuk menghadap pembina. Semoga berhasil.

Ingat, sesuatu tidak akan sia-sia jika kita memang benar-benar mengerjakannya. Dan kita akan benar-benar mengerjakannya apabila, kita mencintai pekerjaan tersebut. Maka, cintailah pekerjaanmu.
»»  Read More...