Friday, 7 December 2012

Memulai Buku Baru


Diawali dari kegiatan SIDIK 3 di Darmstadt hari Sabtu dan Minggu lalu, aku mulai hari-hari baruku yang penuh dengan ibadah. InsyaAllah. Minggu ini, Rizka, teman baruku, teman yang mengajakku ikut SIDIK 3, pindah ke kamar kosong di sebalah kamarku. Kamar itu baru saja kosong awal bulan ini. Maka Rizka yang memang lagi mencari rumah, langsung pindah ke kamar itu.

Hari Rabu, Rizka mulai menyicil memindahkan barang-barangnya. Aku itu ke tempat tinggal Rizka yang lama, berkenalan dengan beberapa muslimah Indonesia di kota Halle. Banyak. Aku merasa sangat malu pada diri sendiri. Kenapa aku sampai hati menyembunyikan diri di kamar, bila ada banyak orang yang menyenangkan?

Aku dan Rizka sampai di rumah sedikit larut malam. Kami lalu masuk ke kamar masing-masing karena dingin yang luar biasa. Rasa lelah menyuruh badanku untuk tidur. Tapi aku teringat masih harus Sholat Isya. Sedikit bandel, aku menunda sholat isya, karena udara dingin menggodaku untuk diam di bawah selimut. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk sholat, setelah kaki terasa hangat.

Aku bersiap tidur, selimut, sweater dan kaus kaki sudah ku pakai. Pemanas ruangan sudah menyala full, tapi aku masih merasa kedinginan. Pindah berbagai macam posisi, aku tidak bisa tidur. Aku masih sempat melihat waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Setelah itu aku tidak tersadar lagi. Aku tidur. Pulas.

Ya, aku tidur terlalu pulas. Aku terbangun pukul setengah sepuluh pagi itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Berharap subrang (subuh kabeurangan = subuh kesiangan) itu masih diterima. Aku melihat bb, dan ternyata rizka sudah nge-PING aku pada waktu subuh. Aku menghubungi dia, yang kupikir sudah ada di kampus.

Ternyata Rizka masih dirumah. Dia pun bangun kesiangan. Katanya masih Jetlag karena pindah rumah. Alasan ini digunakannya untuk tidak kuliah hari itu. Rizka mengetuk kamarku dan kami sarapan bersama. Rizka yang menyadarkan aku, bahwa salju turun. Aku harusnya sudah melihat saljuu itu dari jendela kamar. Tapi aku ga akan sadar kalo Rizka ga kasih tau. Aku masih linglung sepertinya.

Hari itu, kemarin, di rencanakan untuk mengadakan Liqo. Mengaji bersama, meningkatkan ibadah di tengah menuntut ilmu. Liqo di kota Halle in ada dua. Untuk perempuan, dan untuk laki-laki. Aku kurang begitu tau kalo yang laki-laki gimana jalaninnya. Liqo kemarin, diadakan di Rumah Neta, yang ternyata tidak jauh dari tempat tinggalku.

Aku berkenalan lagi dengan beberapa Muslimah Halle yang lain. Beberapa ada yang sudah ku kenal, karena kemarinnya menemani Rizka mengambil barang. Ada Heni juga, adik Stufen ku yang baik hati itu. Dan dengan tidak diduga, ada adik kelasku di 47. Kenal wajah, tapi takut salah, ternyata benar wajahnya familiar karena kami pernah berada di bawah atap yang sama selama dua tahun, di SMAN 47 Jakarta.

Liqo hari itu, diawali dengan sholat Ashar berjamaah. Dilanjutkan dengan membawa Al-quran bergantian disertai pembacaan artinya. Lalu dilanjutkan dengan membahas mengenai tawakal. Dimana kita diperintahkan untuk bertawakal, menyerahkan semua kepada Allah swt, setelah berusaha memberikan yang terbaik.

Liqo di akhiri dengan sholat Magrib berjamaah, selingan permainan piano yang sangat romantis itu, dan sesi curhat. Alhamdulillah dengan adanya liqo, beberapa masalah bisa kemungkinan di dapatkan. Seperti Heni yang bingung mencari tempat Vorpraktikum dan ternyata Neta punya kemungkinan jalan keluarnya.

Selingan Piano yang Romantis saat Liqo
Rizka memberi tahu teman-teman Liqo, bahwa ternyata malam itu ada acara Stammtisch (kumpul-kumpul gitu deh) dengan MHG Halle (Muslimische Hochschule Gruppe Halle, perkumpulan mahasiswa muslim di Halle). Rizka mendapat kabar tersebut dari mba Katharina (dipanggil MbaKet), seorang muslimah berdarah Jerman yang fasih bahasa Indonesia.

Sayangnya, tidak semua bisa ikut. Hanya setengahnya yang bisa ikut. Sepulang Liqo di rumah Neta, kami mampir dulu ke rumahku dan Rizka. Ternyata, kami sempatkan untuk sholat isya berjamaah terlebih dahulu. Lalu kami juga sempatkan mengisi perut dan berfoto-foto dulu di Weinachtsmarkt (Pasar Natal) di Marktplatz Halle.

Isi perut dan sesi foto di Weinachtsmarkt
Sekitar pukul delapan malam, kami sudah berkumpul di satu ruangan di sebuah kedai makanan di Halle. Makanannya halal, tentu saja. Kami yang sudah kenyang, hanya meminum teh panas. Ruangan penuh. Orang Hungari, Yaman, Indonesia dan beberapa negara lainnya berkumpul jadi satu. Hanya Islam yang menyamakan kami. Suasana terasa hangat dengan adanya senda gurau dari mahasiswa kedokteran senior. Juga dari yang lain menambahi.

Muslimische Hochschule Gruppe in Halle
Kami diminta menandatangani selembar kertas untuk permintaan pengadaan Mushola di MLU (Martin-Luther-Universitaet) Halle.  Ya, kami sedang berjuang untuk memiliki Mushola di Universitas kami tercinta ini. Agar sholat pun menjadi nyaman. Kami juga diminta untuk meminta tanda tangan dari teman-teman Indonesia. Semoga misi ini berjalan lancar yah. Aamiin..



Kemarin termasuk dalam hari terbaikku. Aku mempertabal iman sambil mengenal kawan-kawan baru. Subhanallah sekali. Akan kutuliskan beberapa kisah kami selanjutnya. Akan kutuliskan letak mushola baru kami di Uni (InsyaAllah Aamiin..). Semoga aku dan teman-teman yang lain tetap istiqomah.
   
»»  Read More...

Wednesday, 5 December 2012

Misalnya


Pernah ga kalian curhat sama orang tapi pake permisalan, karena ga mau orang yang kamu curhatin nganggep kamu punya masalah? Atau karena emang masalah kamu itu, ya sama orang yang ada di depan kamu saat itu.

Buat kasus yang pertama, aku menyimpulkan ada dua alasan kenapa kamu malakukannya. Pertama, karena kamu lagi suntuk dan banyak masalah banget, terus lagi ga ada temen curhat. Terus tiba-tiba ada temen kamu yang ga gitu deket ngajak chat atau bbm-an. Jadi curhat colongan deh, tapi menyamarkan nama. Dengan cara itu kamu bisa dapet solusi saat itu juga. Lumayan buat jadi bahan pemikiran penyelesaian masalah kamu saat itu. Tapi buat yang ini, jangan dilakuin kalo temen kamu itu punya rasa keingintahuan yang tinggi alias KEPO.

Kedua dalam kasus ini, kamu lagi butuh nasihat, tapi kamu gamau bikin orang yang kamu curhatin itu khawatir. Biasanya targetnya kakak atau sahabat kamu yang jauh. Soalnya takut mereka malah jadi kepikiran sama kamu. Tapi biasanya sih kalo yang kayak gini, ujung-ujungnya mereka tau kalo kamu lagi ada masalah sama siapa dan mereka tau pasti jawaban yang bikin kamu lega. Terus mereka juga bakal keliatan biasa aja, walau mereka pengen banget peluk kamu saat itu.

Nah, kalo buat kasus yang kedua, paling sering dilakuin sama orang-orang yang lagi pendekatan sama gebetannya atau sama mantan yang pengen balik lagi. Yaaa, kalo gini kamu harus siap-siap aja antara di tembak atau malah dicuekin sejadi-jadinya. Hati-hati loh makanya..

Tau gak yang lebih bagus yang mana kalo lagi emang butuh temen curhat? SHOLAT. Berdoa. Curhat sama Allah. Cuma Allah yang tau pasti keadaan kita, dan cuma Allah yang punya solusi paling tepat buat kita. Hati kita yang amburadul juga bisa dibuat tenang oleh-Nya.

»»  Read More...

Tuesday, 4 December 2012

Penyesalan


Kenapa penyesalan datang belakangan?

Apa kalian pernah bertanya hal yang sama denganku? Mungkin pernah terpikirkan oleh kalian, seperti aku memikirkannya saat ini. Aku melakukan beberapa kesalahan berantai tahun ini. Kesalahan yang mungkin aku sendiri tak bisa memaafkannya sampai detik ini. Sangat mengganggu ketika aku mengingatnya. Rasanya ingin marah pada diri sendiri.


Rasanya ingin kembali ke masa lalu, dimana aku memulai semuanya. Masa labilku dulu. Masa percobaanku tentang hidup. Semua berawal dari sana. Ketika aku duduk di salah satu bangku SMP di Jakarta. Aku mencoba memahami gaya orang-orang di Jakarta, karena aku sendiri bearasal dari Tasikmalaya. Aku ga tau gimana caranya jadi orang Jakarta yang dulu ku anggap serba WOW.

Aku berkenalan dengan banyak orang, melakukan hal-hal bodoh bersama teman-teman. Aku juga mulai merasakan cinta. Cinta. Penyesalanku sampai saat ini. Aku sempat marah dan bingung. Kenapa cinta harus di ciptakan jika ujungnya rasa sakit yang di dapat. Tapi sekarang aku sadar. Bahwa cinta adalah sesuatu yang luar biasa indahnya jika di jaga.

Semua indah jika dijalani berdua. Itu yang aku rasakan ketika aku pernah mencoba rasanya cinta. Tapi sangat pahit saat kita harus berpisah. Aku hanya berharap aku ga pernah rasain cinta. Mungkin hal itu gak mungkin. Kita pasti akan merasakannya. Tapi jika kita menjaga nafsu, mungkin rasa sakit hati tidak pernah terjadi.

Nafsu untuk memiliki seseorang. Nafsu pacaran. Pacaran itu ketika seorang lelaki dan seorang perempuan mulai menyatakan cintanya, merasa saling memiliki, tapi tidak disertai akad nikah. Dimana seseorang menganggap pacaran adalah waktu perkenalan sebelum menikah. Dimana mereka pergi berdua tanpa muhrim kemanapun mereka mau.

Indah. Memang sangat indah rasanya, seperti dunia punya berdua. Tapi dengan tidak adanya ikatan nikah, janji tulus dan restu dari orang tua, maka cinta itu bisa lenyap. Bisa pergi dan meninggalkan lubang besar di hati kita. Membuat semua yang indah jadi kelabu. Jadi gelap.

Buat kalian yang masih ‘single’, bersyukurlah. Bersyukur kalian tidak terjerumus dalam dunia pacaran yang haram itu. Untuk kalian yang masih punya pacar, pikirkanlah. Akan kah kalian menyesal suatu hari nanti?

Tapi akupun bersyukur telah di beri pengalaman itu. Sehingga aku bisa berpikir sekarang. Berpikir baik dan buruknya masa laluku. Penyesalan itu, membuat aku ingin menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari aku yang sekarang. Dimana kelak, aku mendapatkan sesuatu yang indah. Seandainya, aku tidak mengalami hal itu, mungkin sekarang aku masih terjebak dalam dunia yang harusnya tidak aku injak itu.

Penyesalan hanya bisa dijadikan pelajaran untuk hidup yang lebih baik. Hargailah masa lalumu. Buatlah dunia barumu lebih indah dan tanpa penyesalan di kemudian hari.

»»  Read More...

Sunday, 2 December 2012

SIDIK 3

Assalamualaikum..

Satu Desember 2012. Selagi transit di Frankfurt Hauptbahnhof, kami memutuskan untuk menghangatkan diri di toko buku di sana. Karena, kereta menuju Darmstadt baru akan berangkat 30 menit lagi. Selagi beralibi melihat-lihat buku, aku dipeluk dari belakang. Ternyata eliiiin.. Elin adalah salah satu teman seperjuanganku di Nordhausen, ketika Studienkolleg dulu. Mungkin sudah hampir lima bulan aku tak bertemu dirinya. Aaah, senang sekali rasanya bertemu dan bisa bergurau bersamanya lagi.

Kami sampai di Masjid sekitar pukul 12 siang. Kami langsung menaruh barang bawaan di ruang serbaguna masjid tersebut. Lalu kami ambil wudhu untuk bersiap sholat dzuhur. Aku menjamak ashar juga kali ini. Perjalanan yang panjang, membuat kami di perbolehkan untuk menjamak sholat. Selesai sholat, agenda dilanjutkan dengan makan siang.

Aku dan temanku menduga akan makan kebab, karena kami makan di dapur turki di masjid itu. Kami juga melihat roti yang tersedia di meja. Sejenis roti kebab. Tapi ternyata kami harus mengantri untuk memakan sup. Setelah kenyak memakan sup beserta roti dan salat yang tersedia di meja, kami merasa cukup kenyang dan akan bersiap untuk kegiatan lainnya. Tapi ternyata, masih ada makanan utamanya. Nasi, kentang rebus dan ayam panggang. Makanan yang mewah untuk harga yang murah.

Kegiatan di lanjutkan dengan materi-materi tentang kepemimpinan. Sempat terpotong karena kami harus sholat magrib dan isya berjamaah. Materi selesai sekitar pukul sepuluh malam waktu Darmstadt. Kami di suguhkan tontonan menarik dari negeri kita tercinta. Negeri 5 Menara. Sebenarnya aku sudah sangat lelah ketika kakak panitia menyalakan film tersebut, tapi aku hatus tetap menjalani acara dari awal sampai akhir. Itu niatku.

Film diputar. Lampu dimatikan. Cemilan diputar ke seluruh ruangan. Sebenarnya aku sudah menonton Negeri 5 Menara ini. Berhubung ini Film yang bagus, aku siap menontonnya lagi. Tak cuma sekali aku metubah posisi untuk mencegah rasa kantuk. Tak sekali pula aku tertidur. Tapi suasana malam itu terasa hangat. Mengingatkan masa-masa di Nordy dulu. Malam Minggu, nonton bareng.

Film selesai diputar. Kakak panitia menyalakan lampu. Aku yang setengah tertidur langsung bergegas memakai sepatu dan mengambil barang-barangku untuk menuju kamar perempuan, yang sebenarnya sebuah kelas, di lantai tiga. Setelah mendapatkan tempat yang strategis, aku bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih, diikuti beberapa temanku. Aku termasuk beberapa orang yang tidak membawa sleepingbag. Kakak panitia membagi sleepingbag untuk kami. Tapi aku memilih untuk berbagi sleepingbag bersama elin. Rasanya hangat sekali ketika aku mulai rebahan samping elin.

Lampu dimatikan, aku masih mendengar beberapa orang yang membereskan peralatan tidurnya. Aku mulai mencoba untuk tidur. Aku merasa sangat mengantuk. Tapi perlahan punggungku terasa sangat dingin. Aku banyak mengubah posisi agar tidak terlalu kedinginan. Memang, di ruangan itu, hanya ada satu pemanas yang menyala. Jadi memang di maklum kalo kami bisa kedinginan.

Tidurku masih sangat tidak nyenyak. Aku kedinginan dan hidungku mampet. Aku duduk dalam gelap. Di luar jendela terlihat salju yang jatuh dengan deras. Beberapa kakak panitia sedang menemani beberapa peserta yang kedinginan. Beberapa peserta pindah untuk tidur di masjid. Aku merubah fungsi jaketku yang tadinya untuk bantal, menjadi untuk selimut. Akupun mengoleskan minyak angin sebanyak yang kubisa. Hangat. Aku mulai bisa tidur lelap. 

Waktu menunjukkan pukul 05.00 saat aku dibangunkan oleh kakak panitia. Kegiatan qiyamullail akan segera dimulai. Aku merasa bangga karena aku bisa tidur pulas. Aku bergegas menyiapkan diri. Shalat tahajud dan witir berlangsung di masjid. Sudah lama sekali aku tidak melakukan hal seperti ini. Tahajud berjamaah di masjid. Aku masih terus bersyukur, aku bisa mendapatkan kesempatan mengikuti SIDIK 3. Setelah shalat witir, para akhwat berkumpul di ruang tidur untuk sharing. Kakak panitia membimbing kami. Hingga waktu subuh tiba. Sebenarnya waktu subuh sudah masuk setelah kamu selesai witir, tetapi kami mengikuti kebiasaan masjid tersebut yang mengakhirkan shalat subuh, agar jamaah yang hadir cukup banyak.

Setelah shalat, kami bersiap untuk acara penutupan dan operasi semut. Panitia memberi kami roti dan minuman untuk sarapan di jalan. Karena kami harus mengosongkan masjid tepat pukul sembilan. Setelah semua beres, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama di depan masjid. Salju masih turun. Semua senang melihat salju. Tak peduli dengan rasa lelah, kami bermain salju dan berfoto bersama. 

Berfoto bersama seluruh peserta dan panitia SIDIK 3


Setelah foto bersama, kami saling berpamitan. Lalu bergegas ke halte bus terdekat. Dengan perut lapar dan cuaca dingin, kami masih tetap tersenyum sambil melihat putihnya salju. Bus telah lewat empat menit sebelum kami sampai di halte, membuat kami harus menunggu setengah jam lagi untuk naik bus selanjutnya. Kami yang rata-rata baru melihat salju setebal itu, langsung menyempatkan diri untuk berfoto. Sampai banyak orang yang sudah kami pamiti, datang dan ikut menunggu bus.

Ternyata banyak sekali yang menaiki kereta yang sama dengan kami. Rombonganku memang termasuk rombongan paling niat datang ke acara tersebut. Menempuh waktu tujuh jam sampai di kota kami. Teman-teman lain turun satu persatu. Rombonganku terlihat kecapean kali ini. Akupun merasa sangat lelah. Aku tidur.

Aku terbangun karena seorang penumpang membuka jendela kereta. Aku teterpa angin dingin. Teman-teman yang lain tertidur. Pengumuman dikereta menunjukkan bahwa kami sudah sampai di tempat transit kami. Aku bergegas membangunkan teman-teman dan kami segera turun. Lupa memakai jaket, aku merinding terkena angin dingin.

Sekarang aku berada di kereta menuju Halle. Beberapa temanku sudah tertidur lagi. Aku juga sudah mulai mengantuk lagi. Aku harap kami tidak terbawa jauh oleh kereta ini. Karena akan sangat lelah jika itu terjadi. 

Mungkin segitu dulu ceritaku kali ini. Lain kali akan kuceritakan detail acara SIDIK 3 ini. :)

Wassalamualaikum..
»»  Read More...

Saturday, 1 December 2012

Sebuah Mimpi

Assalamualaikum..

Mimpi malam ini luar bisa membuatku bangun sambil tersenyum. Mimpi itu terdiri dari dua episode, karena terpotong dengan alarm ku yang berbunyi lantang. Ajaibnya, mimpi ini membuat pikiranku yang selama ini mentok, terbuka dan otak bisa lagi berpikir positiv.

Selama ini, aku galau. Dengan bodohnya galau tentang lelaki itu membuatku terseret galau dengan perkuliahan juga. Lelaki itu selalu mambayangin pikiranku tiga bulan terakhir ini. Aku  merasa dia akan menjadi jodohku. Aku bersikeras melawan kenyataan bahwa aku sudah tidak bersamanya. Aku terlalu terobsesi dengannya. Menyeramkan.

Kira-kira sebulan yang lalu, sahabatku menyuruhku untuk mem-follow ust felixsiauw di twitter. Dia menyuruhku membaca twit favorit ustad tersebut. Sahabatku itu bilang, kalau otakku yang mampet itu bisa terbuka kalo bacanya pake hati. 

Aku masih kacau sebulan terakhir. Aku lupa segalanya. Seperti aku lupa kalau aku butuh hidup. Baru-baru ini aku mendapatkan kembali semangatku itu. Semangat yang datang karena sahabat-sahabatku protes dengan aksi bodohku yang hanya mendiam diri. Baru kemarin aku membaca twit nya ust felixsiauw tersebut.

Dalam twit tersebut, ust menjelaskan banyaknya kerugian pacaran, haramnya pacaran, dan indahnya menikah. Aku juga membaca beberapa twit mengenai kerudung dan jilbab. Aku membacanya dengan hati. Otakku merespon. Akhirnya. Akupun merasa betapa bodohnya diriku, galau untuk seorang lelaki yang baru hadir dalam hidupku yang indah, sampai merusak kehidupanku sekarang ini. Apalagi aku belum tau pasti, siapa jodohku sebenarnya. Belum waktunya aku memikirkan jodoh. Harusnya aku memikirkan cara, agar jodohku datang. Dengan menambah diri menjadi pribadi yang sangat baik. Solehah dan sukses.

Mungkin karena otakku mulai bekerja, maka mimpi itu datang. Mimpi itu hadir setelah aku terbangun di tengah malam dengan kaget. Entah mengapa. Mungkin karena bunyi bbm. Lalu aku mulai tertidur lagi, dan mimpi iu datang.

Mimpi iu berlatar belakang liburan summer ku di Indonesia kira-kira dua atau tiga tahun dari sekarang. Adikku sudah kuliah, keponakanku sudah besar. Malam itu Sepertinya kami berlibur di rumah saudara kami di Bandung. Tiba-tiba kakaku senyam-senyum padaku sambil melirik seorang lelaki.

Ketika kulihat, lelaki itu tak lain dan tak bukan, teman SD ku di Tasik dulu. Keluargaku sudah kenal dia sedari kecil. Tapi kami kehilangan kontak sampai sekarang karena aku pindah ke jakarta dan masa media sosial belum beken. Kembali lagi ke mimpi, lelaki itu (kita akan namakan dia Fahri), menatapku tajam lalu berlari kearah luar taman rumah itu. Ia pergi setelah melihatku.

Tapi tak lama ia kembali sambil membawa bunga dengan jaket penuh keringat. Fahri berlari karena sepertinya ia lupa membawa bunga itu. Dia memberikan bunga itu padaku, dan mengajakku untuk keluar malam itu. Lalu pergi.

Malamnya, aku bergeming. Masih kaget dengan kehadirannya dan mengetahui bahwa aku tak mungkin bisa meninggalkan rumah karena sedang kumpul keluarga. Lalu kakakku datang, dia menyuruhku bersiap-siap untuk pergi menemui Fahri. Tapi aku menolak, karena aku tau aku tak akan dapan ijin dari mamah. Kakaku hanya menggelengkan kepala dan bilang bahwa dia akan membantuku keluar rumah. Dia sendiri dan suaminya yang akan mengantarku menemui Fahri. Lalu alarm berbunyi dan aku terbangun. Tersenyum sambil masih melihat wajah kakakku.

Aku tertidur lagi, dan mimpi  berlanjut. Latar belakang mimpi berubah menjadi salah satu Supermarket di tasik yang kuingat. Entah mengapa kami bertemu disitu. Kakakku malah belanja. Tapi ada Fahri bersamaku. Aku sangat malu rasanya ketika Fahri bilang bahwa dia masih sayang dan mengagumiku. Akupun begitu. Rasanya sangat senang hingga aku mau terbang. 

Ketika aku dan kakakku mengantri untuk membayar belanjaan, Fahri mengirim sms padaku. Isinya bahwa ia ternyata masih belum terlalu yakin padaku. Aku bilang pada kakakku. Lalu abang, kakak iparku, berbicara pada Fahri ketika ia mulai melihat mata kecewaku. Dan akhirnya Fahri memantapkan niatnya untuk meminangku. Syarat dari kakakku adalah ia harus menungguku lulus kuliah sambil dirinya melanjutkan kehidupannya seperti biasa, bekerja. Fahri senang, aku apalagi, kakakku pun terlihat senang. Dan alarm berbunyi sekali lagi. Aku terbangun dengan senyum sangat lebar.

Dari mimpi itu aku bisa menyimpulkan untuk diriku sendiri. Kalau jodoh itu, tak perlu mencari. Tapi buatlah dirimu menjadi magnet untuknya. Dia akan datang saat waktunya tiba. Dimanapun dan kapanpun. Kita tak akan tahu pasti kapan. Untuk membuat kita jadi magnet tersebut, buatlah diri menjadi lebih solehah dan asah otak untuk membuat masa depan menjadi cerah. Dengan itu, jodohmu mungkin tak akan ragu seperti Fahri, yang sepertinya ragu karena aku masih kuliah, padahal kami seumuran.

Tak perlulah lagi galau-galau. Kejarlah mimpi sambil tingkatkan ibadah. Allah telah menuliskan rencana terindahnya untuk kita semua. 

Semangat berjuang kawan..

Wassalamualaikum..

»»  Read More...

Perjalanan Pagi

Dengan semangat 45 aku mematikan alarm yang bunyi pada pukul tiga hari ini. Setelah tersenyum dan mengingat mimpi yang sangat indah itu, aku bergegas masuk ke kamar mandi. Suhu pagi itu menunjukkan angka tiga. Aku memberanikan diri untuk mandi pagi, supaya ga menggigil selama di perjalanan nanti.

Aku akan mengikuti acara SIDIK 3. Studi Islam dan Dialog Interaktif Kemahasiswaan ke-3. Acara tahunan ini di selenggarakan FORKOM Jerman untuk pelajar muslim diseluruh Jerman. Dan tahun ini di adakan di kota Darmstadt. Aku baru sekali mau ikutan acara seperti ini. Karena aku tahu, akan sangat bermanfaat untukku. Aamiin..

Peta dari Halle ke Darmstadt
Kemarin malam, aku sempat kecewa karena tiba-tiba mendapat e-mail dari panitia yang menyatakan bahwa aku dan beberapa temanku tidak bisa ikut, karena pesertanya sudah melebihi rencana awal. Tapi Rizka, teman baruku yang sesama mahasiswa di Halle, memperjuangkan agar nama kami tetap tercantum sebagai peserta. Dengan sabar menunggu, akhirnya kemarin sore kami mendapat kabar kalo kami tetap bisa mengikuti acara tersebut. :)

Dengan perlengkapan seadanya, aku memberanikan diri untuk ikut.Kami berlima, pelajar indonesia dari kota Halle, harus berangkat pukul lima pagi agar bisa tepat waktu. Kami berangkat di pagi yang dingin ini, kami menaiki kereta ekonomi dengan gruppen tiket. 

Shoenes Wochenende Ticket. Tiket ini berlaku untuk maksimal lima orang, dengan tujuan manapun di Jerman. Harga jadi lebih murah jika yang pergi pas berlima. Tiket ini berharga 40€. Kalo di bagi lima kan, cuma 8€. Sedangkan tiket asli untuk satu orang, dari Halle ke Darmstadt bisa mencapai 50€. Sangat menguntungkan :D

Perjalanan dari Halle ke Darmstadt memakan waktu kurang lebih enam jam. Teman-teman mulai tertidur di selimuti jaket mereka yang tebal. Waktu baru menunjukan pukul 06.00 dan langit masih gelap. Masih ada waktu dua jam lagi untuk pemberhentian kami yang pertama. Setelah itu kami harus melakukan sekali transit lagi sebelum sampai Darmstadt. Semoga perjalanan dan acara ini membawa manfaat bagiku dan peserta lain. Aamiin..
»»  Read More...

Friday, 30 November 2012

Lika-Liku Pindahan



Masa Studienkolleg-ku sudah habis sebelum liburan musim panas yang lalu. Kontrak kamar juga habis bulan Agustus. Sementara aku sudah merencanakan liburanku di Indonesia mulai akhir Juli sampai pertengahan September. Maka sebelum liburan ke Indonesia, aku harus keluar dari kamar itu. Sebagai seorang pelajar yang merantau, maka urusan pindah memindahkan barang ini termasuk susah.

Kamar harus terlihat sama seperti pertama kali masuk. Termasuk dapur dan kamar mandi. Maka aku harus ekstra bersih-bersih kamar, dapur dan kamar mandi. Bayangan di kepalaku saat itu, mengeluarkan semua isi kamar, dan mulai mengelap seluruh permukaan kamar. Turunlah sang koper raksasa dari persemayamannya di atas lemari.

Aku berniat memindahkan semua barang-barangku ke salah satu rumah temanku yang masih harus menjalankan Studienkolleg-nya di semester depan. Jadi sesampainya lagi di Jerman, aku berniat numpang beberapa minggu di tempat tinggalnya, sampai aku mendapat kamar baru di kota baru. Karena pengumuman Universitas di umumkan via POS pada waktu aku di Indonesia.

Langkah pertama yang kulakukan, adalah membeli peralatan bebersih. Dari plastik sampah sampai pengharum ruangan. Lalu aku mulai memasukan perintilan-perintilan di rak bukuku ke plastik besar supaya tidak berceceran di koper dan di rumah temanku. Satu koper penuh siap di pindahkan. Seseorang yang dulu spesial untukku, membantuku dengan semangat. Dia bahkan membawa kopernya ke kamarku dan memasukkan buku-buku yang cenderung berat itu.

Dengan dua koper penuh, satu tas belanja IKEA, dan beberapa tentengan, termasuk bonekaku, si ableh, kami JALAN ke rumah tujuan. Tidak begitu jauh memang, tapi sedikit terlihat lucu dengan bawaan sebanyak itu. Sesampainya di rumah temanku, barang di keluarkan dari koper, dan kami balik lagi ke kamar ku untuk membawa barang lagi.

Kegiatan pemindahan barang dengan dua koper itu kurang lebih dilakukan selama empat kali. Lalu kami, ya aku di bantu oleh si spesial masa itu, mulai menyapu, meyikat, mengepel, mengelap dan akhirnya menyemprotnya dengan pengharum ruangan. Beberapa hari kemudian, aku menemui Hausmeister (Landlord) untuk menyerahkan kunci. Selamat tinggal kamar penuh kenangan.... 

Itu baru bagian pengosongan kamar. Aku masih harus membeli kardus pindahan di semacam toko bangunan yang letaknya tidak jauh dari rumah temanku, tempat aku menaruh semua harta benda ku, tapi harus melewati jalan besar (semi jalan tol) yang tidak mempunyai trotoar. Aku membeli empat kardus ukuran sedang (yang ternyata lumayan besar) dan Lakban.

Jalan dengan membawa empat lapisan kardus di musim semi sangatlah tidak mudah. Angin kencang membuat aku oleng. Apalagi kalau ada mobil besar seperti Truck lewat. Berbagai cara memegang lapisan kardus itu sudah dicoba. Mulai di apit di tangan sampai digendong di punggung. Tapi yang paling mujarab adalah ditaruh di atas kepala.

Sesampainya di rumah temanku, aku langsung memilah-milah, barang mana masuk kardus mana. Juga mempersiapkan koper untuk ke indonesia, lusanya. Empat koper sudah siap kirim ke entah kemana. Aku meminjam pojok kamar itu untuk menaruh empat kardus dan dua boneka ku yang tak tega kumasukan ke dalam kardus (satu boneka ku memang tidak muat dalam kardus). Dan aku siap untuk liburan di Indoneisa tercinta.

Pertengahan September, aku sudah kembali lagi ke Jerman. Tanpa rumah, aku hanya bisa menggeret koperku ke rumah temanku. Segera ku baca semua surat dari universitas yang kudapat, setelah aku selesai urusan dengan Jet-Lag ku. Dan dengan rasa syukur, aku mendapatkan tempat di Marthin –Luther Universitaet Halle Wittenberg. Kota Halle yang lebih besar dari Nordhausen. Hanya dua jam perjalan naik kereta biasa dari Nordhausen.

Aku mulai mencari kamar di Halle lewat internet. Semua nomor telpon yang ada aku hubungi. Tapi responnya selalu tidak memuaskan. Entah sudah tak ada lagi kamar kosong atau terlalu mahal untukku. Sampai akhirnya, diakhir bulan, aku mendapat tawaran kamar kosong. Walau harganya tidak murah, tapi masih bisa diakalin dengan pengiritan drastis.

Jumat pagi itupun, aku berangkat ke Halle, sendirian dengan bermodalkan doa, nomor makelar rumah, dan nomor teman Indonesia di Halle. Sesampainya di Halle, aku langsung menuju alamat si calon kamar. Disana sudah menunggu dua orang mahasiswi yang sepertinya akan melihat kamar itu juga. Tapi kecewaku datang lagi ketika sang makelar bilang, bahwa harga tersebut belum termasuk listrik dan air. Aku tidak mungkin mengambil kamar itu.

Aku jalan menuju taman yang kulihat sebelum sampai di alamat tersebut. Aku duduk sendirian di temani angin musim gugur. Aku mulai mencari-cari lagi nomor telepon yang bisa kuhubungi di Internet, sambil mengunyah roti-Nutella yang kubekal dari Nordhausen. Aku juga menghubungi temanku di Halle.

Pencarian nomor telpon terhenti ketika sudah kecewa dengan beberapa nomor yang tidak merespon dengan baik. Untungnya, temanku merespon sms ku dengan baik. Akupun mengunjungi rumahnya untuk numpang Sholat. Disana aku dikenalkan oleh beberapa orang temannya yang juga sedang mencari kamar sepertiku. Bedanya, mereka memang anak Halle. Mereka menyelesaikan Studienkolleg di Halle.

Sorenya, aku pergi bersama tiga teman baruku. Dari empat orang dari kami, belum ada satu[pun yang mempunyai kamar baru. Harapanku kecil ketika mengunjungi mantan rumah salah satu temanku. Dan ternyataaaa.. Ada satu kamar kosong di rumah itu!

Ketiga temanku itu menyerahkan kamar langka ini kepadaku. Kata mereka, mereka masih bisa menumpang di rumah teman-teman mereka di Halle, sedangkan aku sendirian disini. Aku langsung mengiyakan untuk tinggal di Burgstr no.18 itu. Hari Senin aku langsung di kasih kuncinya.

Lika-liku perjuangan pindah-memindahkan barang ini, diselesaikan dengan mengirim empat kardus dari Nordhausen ke Halle.

Dengan beberapa cerita serta kejadian aku dan temanku, aku menyimpulkan. Pindahan itu harus sabar dan pasrah. Pasti ujungnya ada keajaiban tak terduga yang membuat kamu bisa mengucapkan hamdallah berkali-kali. 

»»  Read More...

Thursday, 29 November 2012

Satu pagi menjelang Winter



Payung, Mantel dan Kaos kaki. Ya, tiga benda itu sangat dibutuhkan untuk menghadang cuaca seperti ini. Menjelang winter di akhir November. Aku di bangunkan oleh suara adzan dari HP-ku. Itulah salah satu cara pengingat sholat di awal waktu bagiku, seorang pelajar muslim di benua biru, Eropa, yang sebentar lagi akan menghadapi winter.

Aku mengumpulkan semua niatku untuk berangkat ke kampus jam tujuh pagi di hari Rabu yang dingin itu. Ramalan cuaca di laptop hanya memperlihatkan angka delapan. Aku cepat-cepat memakai sweater hangat kesayanganku dan menyambar matel sebelum buru-buru memakai sepatu dan berlari ke Halte. Aku nyaris ketinggalan Tram yang cuma ada 20 menit sekali itu.

Tram arah kampusku pagi itu, seperti biasa, penuh dengan anak-anak yang berangkat sekolah. Mulai dari anak SD sampai mahasiswa dan gak kalah kake-kake dan nenek-nenek yang mungkin mau menghirup udara segar kota Halle. Lantai tram basah karena sepatu-sepatu penumpang yang juga basah, juga karena payung yang masih menampung air hujan. Tak lama, tram tiba di Halte tujuanku. Dengan susah payah menembus kerumunan anak-anak, aku akhirnya turun.

Langit masiih hitam, padahal jam tangan menunjukan pukul 7.20. Rintik-rintik air yang ringan masih menyerbu dari langit. Aku berjalan sendiri ke arah Kampus. Basah, karena terlalu buru-buru sampai lupa membawa Payung. Beberapa sepeda menyusulku menuju parkiran sepeda di depan kelas. Si pengendara sepeda memakai perlengkapan anti dingin, dari Boots, Jaket tebal, Syal, sarung tangan, dan Topi (kupluk).

Kira-kira seperti ini
Kelas sangat sepi saat aku masuk. Tapi hangat luar biasa. Aku langsung duduk di tempat biasa dan membuka mantelku yang agak basah. Dosen belum datang, teman-teman lain terlihat memakan bekal rotinya. Aku hanya mempersiapkan buku dan melihat sekeliling. Semua tampak tidak antusias untuk menerima pelajaran hari ini.

Dosen datang diikuti teman-temanku yang lain. Kuliah dimulai tepat pukul 07.30, dimana sudah sebagian besar kursi terisi. Dosen memulai kuliah hari ini dengan bergurau bersama beberapa mahasiswa yang duduk di depan. Aku mempersiapkan catatanku. Pulpen dan pensil sudah tersedia rapih. Aku mulai menyimak dan mencatat yang penting-penting, sampai ketika beberapa mahasiswa yang terlambat duduk di depanku.

Sejak konsentrasiku agak buyar, aku terkadang melihat keadaan kelas. Ternyata pagi yang dingin ini membuat beberapa anak mengantuk dan meminum kopi hangatnya sambil mendengarkan dosen. Ada juga yang mungkin menceritakan dinginnya cuaca hari ini pada teman sebelahnya. Sampai ada beberapa anak yang mungkin mengantuk dan mengeluarkan Laptop dari tasnya untuk bermain game.

Kesadaran belajar disini sangat ditentukan oleh tanggung jawab pribadi. Dosen tidak merasa terganggu oleh ulah beberapa anak, beliau terus mengajar untuk mahasiswa yang memang ingin belajar. Walalu diluar masih gelap dan juga hujan, sang dosen dengan semangatnya mengajarkan materi kuliah semaksimal mungkin. Mungkin itu juga yang harus dilakukan pelajar-pelajar yang bergelut dengan materi kuliah dan winter : SEMANGAT.

Ya.. Mungkin agak sedikit membosankan membaca ini. Tapi aku akan mulai mencoba untuk menulis setiap hari lagi. Sampai tulisanku engga semembosankan ini.  
»»  Read More...

Move On

Hai kawan, aku nemu ini di draft ku. ternyata udah jadi tapi ga aku post karna mungkin aku terlalu malu untuk posting ini dulu. Kira-kira setahun yang lalu. Ternyata bisa ngebuka pikiranku sekarang, moga bisa buka pikiran kalian juga yaaa..


Assalamualaikuuuuummm semuanyaaa..

Hmm, jangan salah kira ya judul Postingan kali ini berhubungan dengan si Pengembaraku itu. Hahaha.. Jauuuuhhh..

Move On. Sering banget kata itu kita denger sekarang-sekarang ini. Liat twitter, facebook, film, ato dengerin radio, banyak banget yang bilang, "Lo harus bisa Move On!". Tapi kebanyakan, itu move on dari masalah percintaan kalangan muda yang sedang menggalau ria. Padahal sakit hati dan menggalau itu bukan cuma karna cinta loh.. Banyak hal lain yang bikin kita sakit hati, dan harus dilupain terus mulai yang baru.

Aku cuma mau berbagi pengalaman aja niiihh.. Kalo mau tau, ya mangga di baca, kalo gamau ya silahkan membuka situs lain. Pengalaman kali ini memang berhubungan dengan move on. Tapi seperti yang aku bilang diatas tadi, pengalaman ini ga ada hubungannya dengan cinta.

Masalah. Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun, pasti aja ada masalah. Kita memang ga mau masalah itu datang, tapi apa artinya hidup kalo ga ada masalah? Ya kaaaannn.. Nah, sesungguhnya saat ini aku bisa dibilang sedang ketumpahan masalah. Satu hal yang buat aku ga bisa ngapa-ngapain. Kejadian yang bikin aku gabisa tidur nyenyak setengah bulan terakhir ini. Masalah ini diawali dengan kepolosanku membuka telinga, mata, hati dan pikiran pada sesuatu yang harusnya ga penting.

Gini nih cerita singkatnya..

Saat itu, aku lagi semangat banget ngejalanin satu kerjaan. Dimana aku udah mulai bisa adaptasi dan punya motivasi. Aku belajar untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik di kerjaan itu. Tiba-tiba, karna kepolosan yang tadi aku bilang itu, aku mendapati diriku yang sakit hati. Aku gabisa apa-apa. Aku payah banget waktu itu. Aku sedih banget. Semangatku hilang. Kerjaanku berantakan. Aku hancur.

Si Pengembaraku ga biarin aku dalam keadaan kayak gitu. Dia ceramah ini itu, marahin aku, nyabar-nyabarin aku, nemenin aku, sampe akhirnya semangatku bangkit lagi. Setengah kerjaan yang hancur itu, harus kubenarkan sampe waktu yang udah ditentukan. Aku kembali bangkit, semangat dan berusaha agar kerjaanku selesai tepat waktu.
Hari itu, waktunya tiba. Hari dimana kerjaanku direspon. Pagi hari, aku mendapati diriku senyum-senyum karena sebagian kerjaanku direspon sangat baik. Aku lihat ada cahaya (lebay), ada celah dimana seluruh kerjaanku akan berhasil. Aku seneng banget. Terharu, aku langsung ngasih tau si pengembara. Tapi tentu aja, aku agak takut dengan hasil keseluruhannya, karna aku tau, diawal aku ga kerja dengan baik.

Siangnya, dimana aku sangat sangat sangat degdegan dengan hasil kerjaanku, dimana aku sudah punya rencana untuk bertanya, aku malah dipanggil duluan. OK. Ini bisa jadi berita baik, ataupun buruk. Aku berpikiran positiv kali itu. Dan ternyataaa.... Kerjaanku di tolak. Aku gagal. untuk pertama kalinya aku gagal dalam bidang yang satu ini. Aku sangat sangat sangat gatau apa yang harus kulakukan saat itu.

Gamau ketemu sama semua orang, aku cuma nunggu si Pengembaraku itu, langsung ngasih tau dia, dan langsung pulang tanpa babibu. Aku ga keluar rumah. Keluar kalo emang penting doang. Kalo ga ada makanan doang, itupun kalo inget makan.

Iya, jujur, sampai sekarang aku belum bisa move on. Tujuan aku nulis kayak gini, biar orang yang baca bisa move on. Yang baca. Jadi termasuk aku, si penulis. Kalo aku bisa move on di masalahku yang pertama, sampe aku dapet sesuatu yang bagus, kenapa kali ini gabisa? ini memang lebih besar sakitnya, tapi terus kenapa? Toh ini bisa dijadiin pelajaran untuk kedepannya.

Mari kita lupakan sementara masalah kita, baik yang besar atau engga. Kita simpan masalah ini di suatu tempat yang tertutup. Jangan kita buang hal buruk ini. Sesakit sakitnya masalah ini, kita butuh loh untuk jadi pelajaran disuatu saat nanti. Jadi, yuk kita taro ini di ujung sana. Jadi suatu saat nanti, kalo kita lagi beres-beres hati dan nemuin masalah ini, kita bisa senyum. Kita bisa sukses dengan melewati masalah ini. Move on yuk teman :")
»»  Read More...

Thursday, 22 November 2012

Hanya Mereka



Dingin. Dengan suhu delapan derajat celcius diluar kamar, aku tetap tak mau beranjak dari kasurku yang hangat ini. Walau setelah akhirnya aku membuka tirai kamarku, ternyata sinar matahari yang terlihat hangat tidak menggugah hatiku untuk keluar dari kamar.

Aku sudah hampir tiga bulan terus menerus seperti ini. Aku tau ini salah. Jalan hidupku sedikit demi sedikit digantungkan pada diriku sendiri, yang pada akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di benua eropa. Jerman. Negara yang modern dan antik sekaligus menurutku. Dulu, semuanya begitu indah. Indah karena setiap hari aku selalu melihat dirinya. Penuh semangat, tampan, menyejukkan, dan juga menyebalkan.

Keindahan itu hilang setelah aku kembali lagi ke Jerman setelah liburan musim panas di Indonesia. Aku kembali sendiri. Seorang yang mempunyai semangat tinggi itu, memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di negri kami tercinta, Indonesia. Dan untuk meraih kesuksesan yang seimbang, kami memutuskan hubungan kami.

Aku pikir, semua akan berjalan lancar. Tapi kekecewaan itu datang ketika kamu mengharapkan sesuatu dengan terlalu tinggi, dan kamu tidak mendapatkannya. Itulah aku sekarang. Dimana aku telah begitu banyak memberi harapan pada masa depanku bersamanya. Semangatku ada dalam senyumnya. Senyumku ada untuk tatapannya. Sehingga, aku tak bisa lagi tersenyum, semangat dan meraih masa depanku lagi.

Hidupku seakan hancur berkeping keping. Tak tau semangat itu hilang kemana. Mungkin masih ada padanya. Harapan yang hancur, kupunguti satu persatu. Tapi sebagian besar hilang, karena harapan yang kubuat bersamanya, telah hilang. Aku hanya berharap, aku bisa menukan pengganti harapan itu. Aku tak mau lagi tidur dengan dihantui mimpi-mimpi buruk yang membuat aku sesak napas.

Banyak sekali yang bilang, jangan biarkan kejadian masa lalu membuat harimu berjalan buruk dan merusak masa depanmu. Aku sangat ingin keluar dari masa kelabu ini dan mempraktekan kalimat itu, tapi jujur masa ini sangat sulit jika kau lalui sendiri. Temanku bilang, mereka akan ada untukku, tapi aku juga tau diri untuk tidak selalu ganggu hari mereka yang sedang membangun masa depannya.

Keluarga memang tempat yang paling tepat untuk berbagi kesedihan dan menemukan masalah serta menularkan kebahagiaan, tapi apa yang harus kulakukan jika kesedihan itu ada sebab tersendiri dari larangan orang tua. Benar, wejangan orangtuaku dulu sebelum aku berangkat ke Jerman adalah, serius kuliah, ga usah terlalu mikirin orang lain, dan gausah kenal laki-laki.

Mungkin ini juga yang namanya hukuman. Hukuman karena aku telah melanggar aturan hidup. Tapi apa aku tidak berhak untuk bahagia? Itulah yang jadi pertimbangan untukku. Sampai akhirnya aku mengenal lelaki itu, mengenalnya sangat dekat, dan menganggap dirinya adalah penggati seluruh keluarga aku saat aku di Jerman.

Aku salah.

Teman, sahabat, pacar. Mereka semua kelak akan pergi. Mereka semua akan mempunyai kesibukan mereka sendiri. Mereka membangun masa depannya sendiri. Kita punya mereka, karena kita ditakdirkan untuk saling membantu masa depan itu. Jika pacarmu itu memang jodohmu, maka dialah yang akan menjadi masa depanmu kelak. Jika bukan jodoh, dialah yang membantumu meraih masa depan itu.

Tapi Keluarga. Mereka hidup untukmu. Mereka yang tau keadaanmu saat senang atau sedih. Mereka yang harus pertama kali kau beritahu mengenai kabar apapun, suka atau duka. Karena mereka akan menerima dengan ikhlas apapun itu. Mereka tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah membencimu, ketika semua orang di dunia menghindarimu. Keluarga adalah satu-satunya tanggung jawabmu, sampai kelak kamu punya keluarga beserta tanggung jawabmu sendiri.


Hei, aku tau. Aku tau perasaan dimana kamu menganggap orang tuamu terlalu kolot. Mereka tidak mengizinkanmu pulang malam disaat teman-temanmu yang lain dengan bebasnya pulang jam berapapun dia mau, ada juga yang boleh menginap. Atau mereka tidak mengizinkanmu untuk pacaran. Padahal teman-temanmu sudah cerita tentang berbagai mantan, bergandengan tangan dimana-mana bahkan sampai ada yang sudah mengenalkan pacarnya kepada orang tuanya.

Tapi orang tuamu itulah yang tau bagaimana keadaan anak tercintanya, Mereka tau yang terbaik bagimu. Jangan sekali-kali kamu menggerutu pada mereka. Jika kamu tidak terima dengan larangan-larangan itu, bicaralah pada mereka. Diskusikan. Mereka akan mengerti dan sangat merasa dihargai, daripada kamu diam-diam melanggar aturan mereka.

Mungkin beberpa dari kalian yang membaca ini, menganggap hal itu payah. Kenapa harus diikuti jika aku punya teman yang bisa menutupi aku, bisa ikut bersekongkol untuk berbohong biar aku bisa pulang malam. Itulah tadi jawabannya diatas. Karena keluarga, orangtua, adalah tempat dimana nanti kamu bisa mengadu dan menerima apapun kamu.

Aku sempat beberapa kali melanggar. Mungkin kesalahan terbesarku adalah melanggar wejangan orangtuaku untuk tidak pacaran. Aku kena ganjarannya sendiri kawan. Aku harus mengobati rasa sakit hatiku sendiri. Karena aku terlalu malu untuk berbagi rasa sakit hati ini pada orang yang selalu menyayangi aku, orangtuaku. Mereka tau sebabnya, mereka tau karena mereka sudah berpengalaman. Mereka memang tidak hidup di zaman kita. Di zaman serba gaul sekaligus serba bobrok. Dengarkanlah mereka kawan.

Sekarang aku mau bangkit, aku mau membetulkan semua salahku pada orangtuaku, pada keluargaku. Aku akan memulai masa depanku mulai hari ini. Dengan selalu mendengarkan kata orangtuaku. Apapun itu. Salah satu yang sangat terngiang di kepalaku adalah satu kalimat sederhana dari ibuku tercinta.

"Untuk apa teman jika ia hanya membuatmu punya masalah lain, untuk apa pacar jika kau punya kasih sayang dari keluargamu, bertemanlah dengan orang yang akan membantumu meraih masa depan, carilah masa depanmu, bertanggung jawablah pada semua perbuatanmu, dan hiduplah hanya untuk keluargamu dan tuhanmu. Karena merekalah yang selalu ada untukmu, kapanpun itu."

»»  Read More...

Sunday, 4 September 2011

Nordhausen, Deutschland.

Hai hai haaaaaiiii.....

Assalamualaikum...
Nach lange zeit habe ich nicht hier etwas geschrieben. Tut mir leid, habe ich viele Dinge zu tun..
Eigentlich habe ich jetzt nicht viel zeit aber mir ist egal. Wenn ich Idee habe, dann moechte ich hier schreiben.. :)

Nah loooo.... Pembukaannya pake bahasa Jerman. Tak berniat sombong atau apapun kawan. Itu aku lagi belajar. Jarang banget aku pake tu Bahasa Jerman. Lah? Katanya tinggal di Jerman, kok jarang di pakee?? Itu diaa.. Ini salah satu alasan kenapa aku mau nulis hari ini. Tapi ga cuma itu koookk.. Banyak alasan lainnya. Termasuk kenalin orang-orang yang sekarang udah kayak keluarga buat aku, disini.

Pertama aku mau ngenalin Jermannya dulu. Gimana lingkungan di sini. Di rumah, di sekolah, atau di kotanya. Kedua, aku mau kenalin teman-teman s
eperjuangan aku disini. Teman-teman yang udah seperti saudara sendiri.. Yang terakhiiir, aku mau kasih tau apa aja yang aku pelajari disini. Pokoknya yang ketiga ini tentang Pendidikan disini.

Jerman. Awalnya, ada sedikit rasa takut untuk merantau kesini. Aku akan jadi kaum minoritas disini, aku berkulit coklat (bukan putih seperti penduduk sini), aku muslim, aku berjilbab. Bisakah aku hidup di negara ini? Tapi kenapa takut? Mama bilang, "Dimana pun kamu
berdiri, dimana pun kamu menuntut ilmu, semua sama saja. Semua milik Allah. Ga usah takut". Itu kata-kata mama selagi aku bimbang untuk berangkat ke Jerman.

Dengan segala persiapan, aku beragkat. Sekarang aku udah hampir 8 bulan di Jerman. Aku bisa hidup disini. Awalnya aku tinggal sebulan di Hamburg, seperti apa yang aku ceritakan di 'Awal Kisah'. Setelah itu, aku sempat numpang sana sini karna susah cari tempat tinggal di Nordhausen, dimana aku sekolah sekarang. Hampir sebulan aku numpang sana-sini. Untungnya ada orang-orang baik seperti ka Elva, Fajar-Reavan dan Akina yang mau di tumpangin rumah nya sama aku dan Fia. Sampai akhirnya aku dan Fia dapet tempat tinggal. Di Studenten Wohnheim, tempat tinggal pelajar di belakang Studienkolleg kami. Aku satu rumah sama Fia dan satu orang berkebangsaan Vietnam, Linh. Sayangnya, Linh jarang sekali keluar kamar. Kalopun keluar kamar, dia cuma bilang "Halo", atau kalo mau pergi langsung ke arah pintu dan bilang "Tschuss" (Daaahh..). Jadilah aku ngobrol sama Fia terus. Tentu saja dengan bahasa Indonesia, atau malah bahasa sunda. Tapi kami juga sering mencoba ngobrol pake bahasa Jerman, tapiii.. Tau sendiriiiii.. Bahasa Indo lagi yang keluar dari mulut.

Tempat tinggal ku dekat banget sama Studienkolleg. Aku cuma butuh 3 menit untuk nyampe kelas, dari kamar. Ga perlu bangun pagi, ga perlu naik bis, ga perlu naik S-Bahn atau U-Bahn (emang ga ada juga sih di Nordhausen). Tapi cukup jauh ke pusat Nordhausen. Naik bis sekali, atau jalan kaki 20 menit. Yaaa, sejauh-jauh nya jarak di Nordhausen itu ga terlalu jauh. Nordhausen itu kota kecil. Kalo ketinggalan Bus, ya jalan kaki. Karna Bus disini hanya ada 20 menit sekali. Daripada nunggin Bus, mendingan jalan kaki. Karna waktu yang diperlukan sama. Kalau mau pergi, liat lah jam. Ingat jadwal bus di setiap halte. Karna disini, semuanya teratur.

Kalau biasanya di Indonesia, hari Minggu adalah
hari belanja atau jalan-jalan, kalau disini? Ga ada Toko yang buka di Hari Minggu. Restaurant juga. Jadi hari Minggu itu ya hari istirahat.. Toko-toko disini buka cuma sampai jam 8 malam. Mall juga, cuma sampai jam delapan. Jangan harap mau malem Mingguan di Mall dehh.. Tutup. Tapi kalo di kota besar, seperti Berlin, yaaaa ada lah beberapa yang buka.. :)


Suedharz, Mall di Nordhausen.
Liat tuh, cuma segede itu Mall satu-satunya di Nordy.

Seperti beberapa temanku yang pada nge-kos di Indonesia, aku pun mulai belajar mandiri. Mulai dari makan, beres-beres, balanja, nyuci baju, ngurus keuangan, ngurus pindahan rumah, dan lain lain, semuanya sendiri. Ya mau bagemana lagi? Siapa yang mau ngurusin kalo ga ngurus sendiri? Untungnya, banyak kakak-kakak seperantauan disini yang baik. Yang mau kasi tau ini itu nya, mau nunjukin jalan atau cara untuk ke suatu tujuan. Aku jadi ga berasa hidup terlalu sendiri, disini.

Makanan disini memang agak beda sama di Indonesia. Beras lumayan mahal, lebih murah kalo makan kentang. Tapi emang dasar anak Indonesia, ga bisa jauh-jauh dari yang namanya beras. Ada lah beras yang agak murah dan enak, ada juga yang beli beras bagus terus nantinya di campur sama beras jelek. Akal-akalan lah.. Belanja daging juga harus hati-hati banget. Pernah waktu itu, aku salah beli daging. Daging potongan gitu, ternyata "Gemischt" yang artinya "Campuran" antara Sapi sama Babi. Ya dibuang deeeehhh.. Untung sempet baca ulang pas belum dimasak.

Masak pun dilakukan sendiri. Laper? Ya masak. Ga bisa kayak biasanya yang udah ada di meja makan. Tadinya selalu masak yang gampang-gampang, kayak telor, nasi goreng, ayam yang udah dibumbuin (tinggal goreng) atau tinggal oven kentang sama Chicken Wings. Sekarang, karena udah terlatih masak, jadi lumayan deh bisa bikin sayur sendiri, ayam di bumbu India (gara-gara ada temen orang Nepal), malah terakhir bikin Opor sendiri untuk Lebaran. Yaaa.. Kangen sama masakan Indo, cobalah masak sendiri sambil liat resepnya di Internet. Terimakasih Internet dan ibu-ibu yang bikin blog tentang resep-resep masakan Indonesia. :)

Doenner, makanan pelajar Indonesia saat malas masak.


Ngomongin Lebaran, banyak banget temen-temen yang tanya soal Puasa dan Lebaran disini, yang semoga terjawab di Postingan sebelum ini. Kalo belum ya, comment saja, nanti insyaallah aku jawab. Seperti yang udah aku bilang, Puasa disini berdurasi 18 jam. Lama. Iya. Lama. Hmmm.. Ini gara-gara musim panas kok.. Matahari lebih lama dari pada si bulan. Alhamdulillah-nya, walaupun musim panas, tapi ga pernah lebih dari 32 derajat Celcius.. Oppppsss, gatau harus Alhamdulillah atau apa, tapi ini gara-gara Global Warming.

Sekarang masih awal September, masih di musim panas. Tapi kalau malam datang, dinginnya sungguh-sungguh deh.. Kalau siang baru deh agak panas, yaaa kayak hari ini nih, 25 derajat. Anehnya, di 25 derajat aku udah kepanasan, mungkin karena efek udah-jarang-kena-panas. Tapi liat aja nanti malam, suhu bisa merosot sampai 7 atau 9 derajat. Hmmm.. Selimut mana selimut?

Besok akan ada rombongan anak Indonesia ke kotaku (Nordhausen), hmm bukan cuma anak Indo aja sih. Hari Senin nanti, Studienkolleg Nordhausen mangadakan Aufnahmetest (Penerimaan siswa baru). Dari kabar yang terdengar, sepertinya akan sangat lumayan banyak anak Indonesia yang akan test disini.. Waaaa, semangat yaaaa.. Hmmm, sebenernya gabegitu enak juga sih kebanyakan orang Indonesia di suatu kota. Apalagi kota kecil. Sekelas bisa isinya anak Indonesia semua, yaaa ngobrol jadi sama mereka-mereka juga, pake bahasa Indonesia (brb digebukin sama temen sekelas). Eh, tapi bener kok, bahasa Jerman jadi agak tersendat-sendat. Kalo ada temen beda bangsa, langsung deh diajak ngobrol. Kadang malah gajelas ngobrolin apa.

Hari Selasa, keesokan harinya setalah Aufnahmetest, anak-anak semester dua (termasuk aku) pun mulai masuk. Mulai lagi belajar Grammatik (Deutsch) di kelas Frau Stadler, belajar Mathe di kelas Herr Erd, belajar Fisika, Kimia, Biologi, und Informatik. Itu pelajaran di Kurs aku sih. M-Kurs atau kelas kedokteran, yang nantinya bisa lanjut kuliah kedokteran di Universitas. Ada lagi T-Kurs (teknik), W-Kurs (Wirtschaft atau ekonomi) yang nantinya bisa ke bisnis gitu, ada juga G-Kurs (Germanistik gitu) yang nantinya bisa nyambung ke politik.

Studienkolleg Nordhausen, sekolahku, kelas 13 ku.

Pelajaran di Studienkolleg masiih ga jauh beda sama palajaran SMA, emang sih sedikit agak runyem, tapi itu mungkin karena masalah bahasanya aja yang beda. Guru di sini juga ngerti kalo kita butuh pelan-pelan. Makanya mereka ngajarnya pelan-pelan juga, tapi kalo mereka udah anggap kita bisa, jadi cepet bin ngebut belajarnya. Apalagi di semester dua ini nih.. Cuma empat bulan aja. Yuk tancap gas..

Kemungkinan besar aku akan tancap gas kuat-kuat nih sampai awal Desember nanti. Dimana di bulan Desember itu, aku akan ada FSP (Festellungpruefung) yang nilai nya akan jadi penentuan dimana aku kuliah.. Makanya, doakan yaaaa..

Semoga Postingan aku kali ini berguna untuk semua :) Ayo ayoooo, sekolah ke jerman yuuukk.. Kalo emang mau tanya-tanya tentang sekolah di Jerman lebih lanjut, silahkan. Bisa comment disini atau twitter (@niwiarti) atau facebook (Niwiarti Wijadhy) juga bisa. Hihihihi malah iklan.. Mangga atuh nyaaa, ditinggal dulu sementara waktu. Silakan dibaca.

Aufwiedersehen :)
Tscuess :)

Wassalamualaikum

»»  Read More...

Friday, 2 September 2011

Lebaran di Negeri Orang

Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaa..
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriah :)

Setelah puasa sebulan penuh, akhirnya sampai juga di hari kemenangan Idul Fitri ini.. Alhamdulillah yaaahh.. :)

Di hari-hari akhir puasa, hati mulai gundah gulana. Lebaran.. Ahhh. Lebaran tahun ini sendiriii.. Jauh dari keluarga, jauh dari tanah kelahiran, jauh dari ketupat (loh?). Aku sama Fia (temen setanah air, serumah, se-ini dan itu) sering banget ngomongin perbedaan puasa di Indonesia sama di Jerman. Sering banget ngomong "Kalo di indo........." dan percakapan itu selalu hadir tiap sahur atau buka puasa. Percakapan itu terus berlanjut sam
pai malam takbiran, hari Raya dan pasca lebaran. Berikut adalah contoh-contoh percakapan singkat kami:
Sahur pertama yang agak telat :
Kalo di indo, mama pasti udah masak, terus aku kebangun sama wangi masakan dan bunyi-bunyi di dapur, mana emang masih semangat banget mau puasa.
Sore-sore di awal Ramadhan :
Biasanya jam segini (jam lima-an), ngilangin rasa laper sambil nonton, terus tiba-tiba magrib. Kalo disini, mau nonton juga, film udah tamat, masih lama bukanya.
Buka puasa awal Ramadhan :
Hmmh.. Alhamdulillah deh ada Kurma.. Kalo di Indo sih, pasti ada kolek atoga cendol atoga es kelapa muda atoga... atoga..
Waktu taraweh :
Kalo di Indo, taraweh bareng keluarga. Iniii.. Taraweh sendiri aja udah untung..
Akhir-akhir puasa :
Biasanya udah banyak kue kering nih. Kangen deh Nastar, putri salju, kue kejuu...
Besok kita mudik yuk, cari mesjid.. Atau ke KBRI.
Kalo di indo, pasti banyak Kembang api sama bunyi petasan.
dan lain-lain, dan lain-lain. Banyaaaak banget. Yaaah, disyukuri saja siiihh.. Akhirnya, hari Minggu sore pun kami (aku dan Fia) berangkat ke Berlin dengan kereta sederhana dan Gruppenticket tentunya. Tak di duga, ternyata kereta penuh.. Berasa mudik naik kereta.

Sesampainya di Berlin, kami buka puasa. Karena di Nordhausen ga ada KFC, kami puas-puasin makan KFC. Buat, buka dan sahur di hari senin. Seperti di Indonesia, hari terakhir puasa kami gunakan untuk belanja makanan. Belanja makanan di toko Indonesia "Indomarkt" di Berlin.

Toko Indomarkt, Berlin

Kami beli Bumbu disana, kalap liat sambel ABC, kecap, sama bumbu jadi. Dan bumbu jadi untuk beli Opor pun kami beli. Terus liat juga macem-macem sambal jadi. Malah ada sambel gandaria, yang orang indo sendiri aja jarang tau.

Esok harinya, kami pergi ke KBRI di Berlin. Sholat di aula KBRI yan penuh dengan orang -orang Indonesia. Rata-rata emang keluarga kedutaan sih, tapi banyak juga pelajar Indonesia. Kami sholat sunat Idul Fitri dengan khusyuk, setelah itu mendengarkan ceramah dengan bahasa Indonesia. Senangnyaaa... :)

Karena keluarga Kedutaan jadi tinggal di jerman, maka lumayan banyak anak-anak kecil yang bermuka Indonesia, tapi ngomongnya bahasa Jerman. Lucunya lagi, si anak ngomong pake bahasa Jerman, di jawab sama si Ibu pake bahasa Indonesia, tapi nyambung. Malah kadang si anak usaha ngomong pake bahasa Indonesia. Ada percakapan ibu (atau mungkin tantenya) dan anak yang saya tangkap :

anak : "Umi, wo ist mein Handy?" (Umi, dimana HP-ku?)
Ibu : "Tadi umi kasih Bunda, tanya bunda deh!"
anak : "Achsoo, danke Umi. (beralih ke bundanya) Bunda, wo ist mein Handy?"

Aku merhatiin anak itu kayaknya ga bisa ngomong bahasa, tapi ngerti. Bagus ga ya kayak gitu?? Tapi bahasa sehari-harinya emang Jerman sih. Orang dia sekolah disini, dari TK. (antara takjub sama ngiri).

Selesai sholat, kami langsung pulang. Ga ikut acara makan-makan di Wisma, karena ingin langsung pulang ke Nordhausen. Kami berdua memang ga begitu betah tingal di Berlin. Sore itu juga kami sampai di Rumah kami di Nordhausen. Istirahat untuk esok harinya.

Esok harinya, dengan kemauan sangat besar dan kepedean sangat tinggi. Kami masak Opor Ayam beserta lontongnya. Walau lontongnya cuma pake plastik, tapi lumayan kok miriiiipp.. (membela diri sendiri). Yah, itulah kalo hidup sendiri, jadi usaha banget kalo mau sesuatu. Malah jadi bisa masak opor sendiri. Mandiri deh bener-bener (gatau harus seneng apa sedih).

Ya begitu siih, lebaran pertama ku di negeri orang. Ga begitu enak. Kangen sama keluarga menjadi-jadi, pas Skype bawaannya pengen nembus dari layar Laptop, terus ikut rame-rame disana. Untungnya, di Jerman, lebarannya lebih dulu dari di Indonesia. Jadi pas hari lebaran, pas ngumpul-ngumpul itu, ya aku ikut skype. Makasih loh, pemerintah Indonesia.. Hehehehe :D
»»  Read More...

Ramadhan di Negri Orang


Assalamualaikumm..
Sebenernya Postingan ini copas dari artikelku yang kukirim buat guruku di Indonesia.. Tapi ya karena ini suatu pengalamanku juga, jadi ga salah dong, aku taro di sini, biar bisa berbagi pengalaman Ramadhan di Negeri Orang. Selamat membacaaa.. :)

Ramadhan kali ini akan berbeda buatku. Ini pertama kalinya aku Ramadhan di Negeri orang. Di Jerman, tempat aku menuntut ilmu sekarang. Sebelum Ramadhan, aku repot tanya sana-sini, tanya kakak-kakak seperjuangan dari Indonesia, tanya gimana pengalaman puasa tahun lalu. Mereka bilang, memang banyak berbeda. Terutama masalah waktu. Kalo di Indonesia, kita puasa selama 14 jam. Kalo disini bisa rubah-rubah. Untuk tahun ini, bulan Ramadahan jatuh di musi Panas. Dimana matahari akan lebih lama bersinar dan malam hanya beberapa jam. Awal musim panas bulan Juni lalu, waktu subuh itu sekitar pukul 02.30 dini hari dan magrib sekitar pukul 23.00. Kalau dihitung -hitung berarti, bisa sampai 21 jam puasa. Hmmm... Aku dan teman-teman disini mulai latiihan puasa. Latihan dengan puasa sunnah Senin-Kamis.

Untungnya, waktu terbit dan terbenamnya Matahari, terus berubah. Sampai pada awal bulan Ramadahan, waktu subuh adalah pukul 3.01 dan magrib pukul 9.06. Berarti puasa selama kurang lebih 18 jam. Aku pikir, sama aja kok, cuma beda 4 jam lebih lama. Kenapa ga bisa? Kenapa susah? Sampai pada hari pertama. Saya kesiangan sahur. Saya baru bangun jam 02.30, sedangkan Imsyak 20 menit lagi. Ga punya cukup waktu untuk masak. Untungnya masih ada nasi, dan saya pun sahur dengan nasi dingin dan sisa abon kiriman mama di bulan lalu. Puasa hari pertama itu, tak begitu berat buatku. Aku dan seorang temanku pergi ke kota untuk membeli beberapa kebutuhan, termasuk beli kurma untuk Ta'jil. Ketika beli kurma di toko Turki, kami mendapan potongan harga untuk dua kotak kurma. Penjual bilang, "10 Euro zusammen fuer Sie.." Kata 'fuer Sie' itu sepertinya karena si penjual melihat kami yang juga Muslim, seperti dia. Karena pada saat kai datangpun, mereka mengucap salam pada kami. Tapi, saat mendekati kasir dan akan bayar ke penjual itu, saya melihat ada sepiring makanan di dekat dia, dan ternyata dia sedang makan. Aku dan temanku merasa keheranan. 'Kenapa merka tidak puasa?'

Hari itu terasa sangat panjang, aku dan temanku akhirnya memutuskan untuk membeli makanan jadi untuk berbuka, karena sudah terlalu capek. Jadi di rumah tinggal masak nasi. Tapiiii, ternyata kami salah naik kereta. Sehingga di perkirakan akan sampai rumah sekitar pukul 23.30. Maka, di stasiun ditempat kami sadar kalo kami salah kereta, kami berniat membeli makanan lain untuk menemani ayam panggang yang kami beli tadi. Akhirnya, kami berniat untuk beli kentang goreng di tukang Kebab (yang biasanya halal). Ketika kami memesan kentang goreng, si penjual bilang, "Kami menggunakan minyak babi disini, dan anda muslim. Sebaiknya anda membeli sesuatu yang lain seperti Nudel.' Si penjual tahu kami muslim karena melihat aku menggunakan Jilbab sepertinya. Maka kamipun membeli Nudel sesuai saran si penjual. Dan seperti yang telah dijadwalkan, kami berbuka puasa di kereta menuju rumah dan sampai pukul 23.30 dirumah. Esok harinya, aku telat sahur lagi.

Dihari ketiga aku tidak tidur malam hari, aku makan dan menonton. Malam yang hanya 6 jam itu digunakan untuk mengisi perut dangan makanan-makanan sehat, vitamin dan tidak lupa madu. Sebisa mungkin aku masak makanan yang sehat agar tubuh bisa kuat berpuasa. Waktu dimana perut mulai terasa lapar adalah pukul 17.00. Tapi tidak terasa lagi setelah dihari kelima. Di hari kelima, aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan waktu makan dan waktu tidur. Aku mengganti pola tidur. Aku tidur setelah sholat subuh dan bangun sebelum waktu dzuhur. Untungnya, sekolah sedang libur, libur musim panas (sommerferien).

Bagaimana dengan kegiatan-kegiatan lainnya di bulan Ramadhan, seperti shalat tarawih, tadarusan dan ngabuburit? Berbeda. Tarawih kulakukan sendiri di kamar. Aku kurang begitu tahu ada Shalat Tarawih berjamaah di masjid di kotaku atau tidak. Kalaupun ada, waktu Isya itu sangat malam, sekitar pukul 23.00. Aku tinggal di kota kecil di Thueringen, Nordhausen. Hanya ada mushola kecil di kota ini. Walau tidak begitu jauh dari rumahku, tapi untuk kesana malam-malam sangat rawan, dikota ku masih ada kelompok orang-orang yang tidak suka dengan pendatang. Apalagi aku berjilbab, rawan sekali untuk kami keluar lebih dari jam 8 malam. Walau masih terang, tapi kelompok-kelompok seperti itu sudah kelihatan berkumpul.

Tadarusan? Hanya dilakukan sendiri setelah sholat. Aku seringkali rindu dengan suasana tarawih berjamaah yang dilanjut dengan tadarusan atau ceramah. Aku juga rindu mendengar bapak-bapak yang suka bangunin sahur atau memberi tahu waktu Imsyak tiba, acara tv yang membuatku tidak ngantuk saat sahur dan ngabuburit. Kalau di Indonesia, aku mengisi waktu sore dengan ngabuburit sebelum buka puasa. Membeli es Kelapa muda atau cendol atau gorengan yang ramai sepanjang jalan. Disini, aku mengisi waktu sebelum buka puasa dengan internet, entah itu menonton atau cuma sekedar chatting sama teman-teman di Indonesia yang akan sahur.

salah satu yang kurindukan


Suasana memang berbeda. Banyak sekali yang berbeda. Tapi semua sama saja. Semua kuasa Allah. Jadi, aku pikir, jangan mengeluh dengan perbedaan suasana, karena sebenarnya sama saja. Sama saja kita beribadah, tempat ini juga sama saja, ini memang negeri orang, tapi ini tanah Allah. Kita tidak boleh bilang kita tidak bisa dan takut untuk mencobanya, jangan mengasihani diri sendiri karena kita beum mencoba. Kita harus mencoba dulu, baru kita tahu kesanggupan kita dan mengisi kekurangan kita dengan yang kita bisa. Menjadikan kekurangan kita itu pengalaman yang tidak boleh diulang sampai kita bisa terbiasa dengan keadaan.

Mungkin itu pengalaman puasa pertamaku di negeri orang. Lebaran nanti akan jadi hal yang baru lagi untukku. Semoga bisa indah juga seperti lebaranku di Indonesia. Walau tak ada saudara kandung, aku masih punya saudara seperjuangan. Teman-teman yang juga menuntut ilmu di Jerman ini. Bersyukurlah dengan apa yang kita punya, dan bersabarlah dengan apa yang kita anggap berat. Terimakasih.
»»  Read More...